<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694</id><updated>2011-04-21T12:54:54.198-07:00</updated><category term='berita'/><title type='text'>CINTA</title><subtitle type='html'>JANGAN DIBUKA "TAHEDE"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-248015734108851225</id><published>2008-07-13T22:14:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T22:15:51.342-07:00</updated><title type='text'>KEKUATAN CINTA TERHADAP SEORANG WANITA</title><content type='html'>Home | Blogs&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;revoLUTHIon revoLUTHIon&lt;br /&gt;sejuta cinta sejuta cahaya&lt;br /&gt;Untuk pria bidadari, untuk wanita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pria bidadari, untuk wanita?&lt;br /&gt;Untuk pria bidadari, untuk wanita? Pertanyaan: asw,kalau pria balasannya disurga ialah bersama bidadari,gimana dengan kaum wanita,syukron,wsl ismoyo Jawaban: Assalamu alaikum wr.wb. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Saudara Ismoyo, menjawab pertanyaan Anda di atas, ada satu pendapat yang dikemukakan oleh Mutawali Sya'rawi sebagai berikut: Yaitu bahwa Allah menyediakan kebahagiaan sorga sesuai dengan tabiat yang dimiliki oleh manusia. Wanita memiliki tabiat yang suci dan lurus di mana pada dasarnya menolak memiliki suami lebih dari seorang. Ia sudah merasa cukup dengan seorang suami. Karena itu, kita melihat banyak janda yang ketika telah ditinggal suami tidak lagi mau menikah. Sebaliknya, pria cenderung ingin memiliki lebih dari satu orang isteri. Maka, hal itupun dipenuhi oleh Allah di sorga nanti dengan keberadaan para bidadari. Lebih dari itu, di sorga nanti tidak ada lagi perasaan dendam, dengki, iri, cemburu, dan sebagainya. Sebab, semua itu telah dicabut oleh Allah. Demikian pendapat Mutawali Sya’rawi. Wallahu a’lam bish-shawab. Wassalamu alaikum wr.wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;January 02, 2007 | Permalink | Comments (2)&lt;br /&gt;                            &lt;br /&gt;Internet ke Interkoloni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet ke Interkoloni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARUN YAHYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemrogram komputer menggunakan lebah madu sebagai rujukan&lt;br /&gt;Naiknya tingkat kesibukan berbelanja melalui Internet menimbulkan sejumlah permasalahan besar. Perilaku pelanggan ketika berbelanja bisa jadi sama sekali lain dari perkiraan umumnya, dan mungkin saja berbeda di antara sesama pelanggan. Hal ini menyebabkan lalu lintas internet menjadi tidak teratur dan akhirnya berujung pada penumpukan tiba-tiba pada server Internet yang menangani belanja on-line. (Server: sebuah komputer dalam sebuah jaringan yang menyimpan program-program aplikasi dan file-file data yang dapat dikunjungi oleh komputer-komputer lainnya di dalam jaringan tersebut.) Para pakar dari Universitas Oxford dan the Georgia Institute of Technology [Institut Teknologi Georgia] melakukan kerjasama dalam rangka mengembangkan sejumlah teknologi yang dapat mengatasi penumpukan semacam itu. Para peneliti ini mengambil model atau contoh-acuan berupa suatu masyarakat yang lalu lintasnya telah berhasil diatur dengan sangat baik. Contoh-acuan ini adalah perilaku koloni atau masyarakat lebah madu yang tengah ditiru dalam sejumlah teknologi yang ditujukan untuk meringankan beban pada server-server pada saat terjadi kepadatan lalu lintas yang luar biasa.&lt;br /&gt;Lonjakan jumlah pelanggan belanja atau perdagangan saham secara tiba-tiba, naik turunnya kegiatan lelang melalui internet memunculkan kesulitan besar pada perusahaan-perusahaan pengelola server. Untuk meningkatkan keuntungan mereka sebesar-besarnya, perusahaan-perusahaan ini perlu memeriksa komputer-komputer mereka setiap saat untuk menjaga agar komputer tersebut tetap mampu menyesuaikan diri terhadap tingkat kebutuhan yang berubah-ubah melalui campur tangan secara cepat. Namun pada kenyataannya, hanya satu aplikasi web saja yang dapat dimuat ke dalam komputer pada satu waktu, dan hal ini merupakan sebuah kendala. Perpindahan antar-aplikasi menyebabkan penghentian sementara selama 5-7 menit, waktu ini diperlukan untuk konfigurasi ulang pada komputer, dan ini berarti kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan serupa dijumpai dalam tugas-tugas yang dijalankan oleh lebah madu. Sumber-sumber bunga memiliki keragaman dalam hal mutu. Oleh karena itu, seseorang mungkin berpikiran bahwa keputusan tentang berapa banyak lebah yang harus dikirim ke setiap tempat tersebut dan berapa lama mereka sebaiknya berada di sana merupakan sebuah permasalahan dalam sebuah koloni yang ingin mencapai laju pengumpulan madu bunga (nektar) setinggi-tingginya. Akan tetapi, berkat sistem kerja mereka yang sangat baik, lebah mampu memecahkan permasalahan ini tanpa mengalami kesulitan.&lt;br /&gt;Sekitar seperlima dari lebah-lebah di dalam sebuah sarang bertugas sebagai pengumpul-nektar. Tugas mereka adalah berkelana di antara bunga-bunga dan mengumpulkan nektar sebanyak mungkin. Ketika kembali ke sarang, mereka menyerahkan muatan nektar mereka kepada lebah-lebah penyimpan-makanan yang menjaga sarang dan menyimpan bahan makanan. Lebah-lebah ini kemudian menyimpan nektar di dalam petak-petak madu. Seekor lebah pengumpul-nektar juga dibantu oleh rekan-rekannya dalam menentukan seberapa bagus mutu sumber bunganya. Lebah pengumpul-nektar tersebut menunggu dan mengamati seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bertemu dengan seekor lebah penyimpan-makanan yang siap menerima muatan. Jika waktu tunggu ini berlangsung lama, maka sang lebah pengumpul-nektar memahami hal ini sebagai isyarat bahwa sumber bunganya bukan dari mutu yang terbaik, dan bahwa lebah-lebah yang lain kebanyakan telah melakukan pencarian yang berhasil. Sebaliknya, jika ia disambut oleh sejumlah besar lebah-lebah penyimpan-makanan untuk mengambil muatannya, maka semakin besarlah kemungkinan bahwa muatan nektar tersebut bermutu baik.&lt;br /&gt;Lebah yang mendapatkan informasi ini memutuskan apakah sumber bunganya senilai dengan kerja keras yang akan dilakukan berikutnya. Jika ya, maka ia melakukan tarian-getarnya yang terkenal agar dipahami maksudnya oleh lebah-lebah lain. Lama tarian ini memperlihatkan seberapa besar keuntungan yang mungkin dapat diperoleh dari sumber bunga ini. [penjelasan lebih lanjut tentang tarian lebah, silakan baca: http://www.harunyahya.com/indo/buku/menyingkap003.htm]&lt;br /&gt;Sunil Nakrani dari Universitas Oxford dan Craig Tovey dari the Georgia Institute of Technology menerapkan cara pemecahan masalah oleh lebah madu tersebut pada permasalahan ada pada Internet host. Setiap server mengambil peran sebagai lebah pengumpul-nektar, dan setiap permintaan pelanggan bertindak sebagai sumber bunga. Dengan cara ini, doktor Nakrani dan Tovey mengembangkan sebuah algoritma "lebah madu" untuk server Internet "sarang." (Algoritma: Serangkaian tahapan-tahapan logis untuk memecahkan suatu permasalahan yang dapat diterjemahkan ke dalam sebuah program komputer.)&lt;br /&gt;Sebuah host menjalankan tugas, sebagaimana yang dilakukan lebah dengan tarian-getarnya, dengan membuat sebuah iklan dan mengirimkannya ke sejumlah server lainnya di dalam sarang. Lama masa penayangan iklan ini mencerminkan manfaat dan tingkat keuntungan yang dapat diraup melalui para pelanggan server-server tersebut. Server lain membaca iklan ini dan berperilaku seperti lebah-lebah pekerja yang mengikuti petunjuk yang yang disampaikan melalui tarian-getar tersebut. Setelah mempertimbangkan dan mengkaji iklan ini beserta pengalaman mereka sendiri, mereka memutuskan perlu tidaknya untuk beralih dari para pelanggan yang sedang mereka layani ke para pelanggan yang sedang dilayani oleh server yang mengirim iklan tersebut.&lt;br /&gt;Doktor Nakrani dan Tovey melakukan uji banding antara algoritma lebah madu yang mereka kembangkan dengan apa yang disebut sebagai algoritma "rakus" yang saat ini dipakai oleh kebanyakan penyedia Internet host. Algoritma rakus terlihat ketinggalan zaman. Algoritma rakus membagi waktu menjadi sejumlah penggalan waktu yang tetap dan menempatkan server-server untuk melayani para pelanggan untuk satu penggalan waktu berdasarkan pengaturan yang dianggap paling menguntungkan pada penggalan waktu sebelumnya. Para peneliti mengungkap bahwa di saat-saat ketika lalu lintas sangat berubah-ubah, algoritma lebah madu memperlihatkan kinerja 20% lebih baik daripada algoritma rakus. Sebentar lagi mungkin server-server yang bekerja menggunakan algoritma lebah madu akan semakin banyak di masa mendatang, di mana Internet akan lebih tepat disebut sebagai "Interkoloni."&lt;br /&gt;Dengan pemisalan yang sangat tepat, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan ini menunjukkan betapa berbagai pemecahan masalah yang masuk akal terdapat di alam. Permasalahan yang dihadapi server-server Internet sangatlah mirip dengan permasalahan yang dipecahkan oleh koloni lebah madu. Sungguh, keberhasilan yang dicapai penelitian tersebut, yang dilakukan dengan menerapkan contoh-rujukan koloni lebah madu, menjadi isyarat akan hal ini. Akan tetapi, dari manakah asal usul rumusan pemecahan masalah yang diberikan lebah madu kepada para pemrogram komputer tersebut? Meskipun para pemrogram komputer dapat mengambil perilaku lebah madu sebagai contoh-rujukan mereka, lebah itu sendiri tidak dapat melakukan hal seperti itu. Ini dikarenakan meskipun tiruan algoritma lebah yang dibuat oleh pemrogram komputer merupakan hasil dari proses berpikir cerdas yang dilakukan secara sadar, lebah madu tidak memiliki kemampuan berpikir semacam itu. Pemecahan atas permasalahan tersebut membutuhkan tindakan sadar, misalnya pertama-tama pemahaman tentang adanya permasalahan tersebut, pengkajian terhadap sejumlah penyebab timbulnya permasalahan itu, pengenalan atas pengaruh sejumlah penyebab itu terhadap permasalahan tersebut secara umum dan pengaruhnya terhadap satu sama lain, dan akhirnya pengambilan keputusan di antara beragam pilihan yang ada.&lt;br /&gt;Sudah pasti pemecahan masalah semacam itu tidak mungkin terjadi di dalam koloni lebah beranggotakan 20 sampai 50 ribu ekor. Hanya ada satu penjelasan masuk akal atas kenyataan ini, di mana sedemikian banyak makhluk hidup menghemat energi dengan menerapkan cara pengumpulan nektar yang paling menguntungkan; meskipun orang biasanya mengira akan melihat suatu kekacauan dan kebingungan di dalamnya. Pemahaman atas permasalahan di dalam koloni lebah dan jalan keluar pemecahannya merupakan hasil karya Pencipta Maha Mengetahui. Tidak ada keraguan, Allahlah, Pencipta langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, Yang telah menciptakan koloni lebah. Strategi yang diterapkan di dalam koloni lebah madu merupakan ilham yang berasal dari Allah. Allah menyatakan hal ini di ayat berikut:&lt;br /&gt;Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)." Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl, 16:68-69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;December 13, 2006 | Permalink | Comments (0)&lt;br /&gt;Ketika Ikhwah Jatuh Cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ikhwah Jatuh Cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, dalam majelis koordinasi seorang akhwat berkata pada masâ€ul dakwahnya, â€œakhi, ana ga bisa lagi berinteraksi dengan akhfulanâ€?. Suara akhwat itu bergetar. Nyata sekali menekan perasaannya.â€?Pekan lalu, ikhwan tersebut membuat pengakuan yang membuat ana merasa risi danâ€¦.Afwan, terus terang juga tersinggung.â€?&lt;br /&gt;Sesaat kemudian suara dibalik hijab itu mengatakanâ€¦.ia jatuh cinta pada ana.â€?&lt;br /&gt;masâ€™ul tersebut terkejut, tapi ditekannya getar suaranya. Ia berusaha tetap tenang. â€œSabar ukhti, jangan terlalu diambil hati. Mungkin maksudnya tidak seperti yang anti bayangkan.â€? Sang masâ€™ul mencoba menenangkan terutama untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;â€œAfwanâ€¦ana tidak menangkap maksud lain dari perkataannya. Ikhwan itu mungkin tidak pernah berpikir dampak perkataannya. Kata-kata itu membuat ana sedikit banyak merasa gagal menjaga hijab ana, gagal menjaga komitmen dan menjadi penyebab fitnah. Padahal, ana hanya berusaha menjadi bagian dari perputaran dakwah ini.â€? sang akhwat kini mulai tersedak terbata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;â€œYa sudahâ€¦Ana berharap anti tetap istiqamah dengan kenyataan ini, ana tidak ingin kehilangan tim dakwah oleh permasalahan seperti iniâ€?.&lt;br /&gt;Masâ€™ul itu membuat keputusan, â€œana akan ajak bicara langsung akh fulanâ€?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Waktu berlalu, ketika akhirnya masâ€™ul tersebut mendatangi fulan yang bersangkutan. Sang Akh berkata, â€œAna memang menyatakan hal&lt;br /&gt;tersebut, tapi apakah itu suatu kesalahan?â€?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang masâ€™ul berusaha menanggapinya searif mungkin. â€œAna tidak menyalahkan perasaan antum. Kita semua berhak memiliki perasaan itu.&lt;br /&gt;Pertanyaan ana adalah, apakah antum sudah siap ketika menyatakan perasaan itu. Apakah antum mengatakannya dengan orientasi bersih yang menjamin hak-hak saudari antum. Hak perasaan dan hak pembinaannya.&lt;br /&gt;Apakah antum menyampaikan kepada pembina antum untuk diseriuskan?.&lt;br /&gt;Apakah antum sudah siap berkeluarga. Apakah antum sudah berusaha menjaga kemungkinan fitnah dari pernyataan antum, baik terhadap ikhwah lain maupun terhadap dakwah????â€? Masâ€™ul tersebut membuat penekanan&lt;br /&gt;substansial. â€? Akhi bagi kita perasaan itu tidak semurah tayangan sinetron atau bacaan picisan dalam novel-novel. Bagi kita perasaan itu adalah bagian dari kemuliaan yang Allah tetapkan untuk pejuang dakwah.&lt;br /&gt;Perasaan itulah yang melandasi ekspansi dakwah dan jaminan kemuliaan Allah SWT. Perasaan itulah yang mengeksiskan kita dengan beban berat amanah ini. Maka Jagalah perasaan itu tetap suci dan mensucikan.â€?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta Aktivis Dakwah&lt;br /&gt;Bagaimana ketika perasaan itu hadir. Bukankah ia datang tanpa pernah diundang dan dikehendaki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukanlah perkara sederhana. Dalam konteks dakwah, jatuh cinta adalah gerbang ekspansi pergerakan. Dalam konteks pembinaan, jatuh cinta adalah naik marhalah pembinaan. Dalam&lt;br /&gt;konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rosullulah saw dan jalan meraih ridho Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aktivis dakwah jatuh cinta, maka tuntas sudah urusan prioritas cinta. Jelas, Allah, Rosullah dan jihad fii sabilillah adalah yang utama. Jika ia ada dalam keadaan tersebut, maka berkahlah perasaannya, berkahlah cintanya dan berkahlah amal yang terwujud dalam cinta&lt;br /&gt;tersebut. Jika jatuh cintanya tidak dalam kerangka tersebut, maka cinta menjelma menjadi fitnah baginya, fitnah bagi ummat, dan fitnah bagi dakwah. Karenannya jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukan perkara sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ikhwan mulai bergetar hatinya terhadap akhwat dan demikian sebaliknya. Ketika itulah cinta â€˜lainâ€™ muncul dalam dirinya. Cinta inilah yang akan kita bahas disini. Yaitu sebuah karunia dari kelembutan hati dan perasaan manusia. Suatu karunia Allah yang membutuhkan bingkai yg jelas. Sebab terlalu banyak pengagung cinta ini&lt;br /&gt;yang kemudian menjadi hamba yang tersesat. Bagi aktivis dakwah, cinta lawan jenis adalah perasaan yang lahir dari tuntutan fitrah, tidak&lt;br /&gt;lepas dari kerangka pembinaan dan dakwah. Suatu perasaan produktif&lt;br /&gt;yang dengan indah dikemukakan oleh ibunda kartini,â€? â€¦akan lebih banyak&lt;br /&gt;lagi yang dapat saya kerjakan untuk bangsa ini, bila saya ada&lt;br /&gt;disamping laki-laki yg cakap, lebih banyak kata sayaâ€¦..daripada yang&lt;br /&gt;saya usahakan sebagai perempuan yg berdiri sendiri..â€?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta memiliki 2 mata pedang. Satu sisinya adalah rahmat dengan&lt;br /&gt;jaminan kesempurnaan agama dan disisi lainnya adalah gerbang fitnah&lt;br /&gt;dan kehidupan yg sengsara. Karenanya jatuh cinta membutuhkan kesiapan&lt;br /&gt;dan persiapan. Bagi setiap aktivis dakwah, bertanyalah dahulu kepada&lt;br /&gt;diri sendiri, sudah siapkah jatuh cinta???jangan sampai kita lupa,&lt;br /&gt;bahwa segala sesuatu yang melingkupi diri kita, perkataan, perbuatan,&lt;br /&gt;maupun perasaan adalah bagian dari deklarasi nilai diri sebagai&lt;br /&gt;generasi dakwah. Sehingga umat selalu mendapatkan satu hal dari apapun&lt;br /&gt;pentas kehidupan kita, yaitu kemuliaan Islam dan kemuliaan kita karena&lt;br /&gt;memuliakan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deklarasi Cinta&lt;br /&gt;Sekarang adalah saat yang tepat bagi kita untuk mendeklarasikan cinta&lt;br /&gt;diatas koridor yang bersih. Jika proses dan seruan dakwah senantiasa&lt;br /&gt;mengusung pembenahan kepribadiaan manusia, maka layaklah kita&lt;br /&gt;tempatkan tema cinta dalam tempat utama. Kita sadari kerusakan prilaku&lt;br /&gt;generasi hari ini, sebagian besar dilandasi oleh salah tafsir tentang&lt;br /&gt;cinta. Terlalu banyak penyimpangan terjadi, karena cinta didewakan dan&lt;br /&gt;dijadikan kewajaran melakukan pelanggaran. Dan tema tayangan pun&lt;br /&gt;mendeklarasikan cinta yang dangkal. Hanya ada cinta untuk sebuah&lt;br /&gt;persaingan, sengketa. Sementara cinta untuk sebuah kemuliaan, kerja&lt;br /&gt;keras dan pengorbanan, serta jembatan jalan kesurga dan kemuliaan&lt;br /&gt;Allah, tidak pernah mendapat tempat disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah cukup banyak pentas kejujuran kita lakukan. Sudah terbilang&lt;br /&gt;jumlah pengakuan keutamaan kita, sebuah dakwah yang kita gagas, Sudah&lt;br /&gt;banyak potret keluarga yg baru dalam masyarakat yg kita tampilkan.&lt;br /&gt;Namun berapa banyak deklarasi cinta yang sudah kita nyatakan. Cinta&lt;br /&gt;masih menjadi topik â€˜asingâ€™ dalam dakwah kita. Wajah, warna, ekspresi&lt;br /&gt;dan nuansa cinta kita masih terkesan â€˜misteri. Pertanyaan sederhana,&lt;br /&gt;â€œGimana sih, kok kamu bisa nikah sama dia, Emang kamu cinta sama&lt;br /&gt;dia?â€?, dapat kita jadikan indikator miskinnya kita mengkampanyekan&lt;br /&gt;cinta suci dalam dakwah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan â€˜Nikah dulu baru pacaranâ€™ masih menjadi jargon yang&lt;br /&gt;menyimpan pertanyaan misteri, â€œBagaimana caranya, emang bisa?â€?. Sangat&lt;br /&gt;sulit bagi masyarakat kita untuk mencerna dan memahami logika jargon&lt;br /&gt;tersebut. Terutama karena konsumsi informasi media tayangan, bacaan,&lt;br /&gt;diskusi dan interaksi umum, sama sekali bertolak belakang dengan&lt;br /&gt;jargon tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah salah satu alasan penting dan mendesak untuk mengkampanyekan&lt;br /&gt;cinta dengan wujud yang baru. Cinta yang lahir sebagai bagian dari&lt;br /&gt;penyempurnaan status hamba. Cinta yang diberkahi karena taat kepada&lt;br /&gt;sang Penguasa. Cinta yang diberkahi karena taat pada sang penguasa.&lt;br /&gt;Cinta yang menjaga diri dari penyimpangan, penyelewengan dan perbuatan&lt;br /&gt;ingkar terhadap nikmat Allah yang banyak. Cinta yang berorientasi&lt;br /&gt;bukan sekedar jalan berdua, makan, nonton dan seabrek romantika yang&lt;br /&gt;berdiri diatas pengkhianatan terhadap nikmat, rezki, dan amanah yang&lt;br /&gt;Allah berikan kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ingin lebih dalam menjabarkan kepada masyarakan tentang cinta&lt;br /&gt;ini. Sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan hasil akhir keluarga&lt;br /&gt;dakwah. Biarkan mereka paham tentang perasaan seorang ikhwan terhadap&lt;br /&gt;akhwat, tentang perhatian seorang akhwat pada ikhwan, tentang cinta&lt;br /&gt;ikhwan-akhwat, tentang romantika ikhwan-akhwat dan tentang landasan&lt;br /&gt;kemana cinta itu bermuara. Inilah agenda topik yang harus lebih banyak&lt;br /&gt;dibuka dan dibentangkan. Dikenalkan kepada masyarakat berikut&lt;br /&gt;mekanisme yang menyertainya. Paling tidak gambaran besar yang&lt;br /&gt;menyeluruh dapat dinikmati oleh masyarakat, sehingga mereka bisa&lt;br /&gt;mengerti bagaimana proses panjang yang menghasilkan potret keluarga&lt;br /&gt;dakwah hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog&lt;br /&gt;Setiap kita yang mengaku putra-putri Islam, setiap kita yg berjanji&lt;br /&gt;dalam kafilah dakwah, setiap kita yang mengikrarkan Allahu Ghoyatuna,&lt;br /&gt;maka jatuh cinta dipandang sebagai jalan jihad yang menghantarkan diri&lt;br /&gt;kepada cita-cita tertinggi, syahid fi sabililah. Inilah perasaan yang&lt;br /&gt;istimewa. Perasaan yang menempatkan kita satu tahap lebih maju. Dengan&lt;br /&gt;perasaan ini, kita mengambil jaminan kemuliaan yang ditetapkan&lt;br /&gt;Rosullulah. Dengan perasaan ini kita memperluas ruang dakwah kita.&lt;br /&gt;Dengan perasaan ini kita naik marhalah dalam dakwah dan pembinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa Allah sangat memuliakan perasaan cinta orang-orang beriman ini.&lt;br /&gt;Dengan cinta itu mereka berpadu dalam dakwah. Dengan cinta itu mereka&lt;br /&gt;saling tolong menolong dalam kebaikan, dengan cinta itu juga mereka&lt;br /&gt;menghiasi Bumi dan kehidupan di atasnya. Dengan itu semua Allah&lt;br /&gt;berkahi nikmat itu dengan lahirnya anak-anak shaleh yang memberatkan&lt;br /&gt;Bumi dengan kalimat Laa Illaha Ilallah. Inilah potret cinta yang&lt;br /&gt;sakinah, mawaddh, warahmah. jadiâ€¦sudah beradi jatuh cintaâ€¦??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wallahuâ€™alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diambil dari majalah al izzah edisi 11/th4/jan 2005 M&lt;br /&gt;http://safitri.blogsome.com/category/tausiyah/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;December 05, 2006 | Permalink | Comments (1)&lt;br /&gt;19 hadist tentang wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, "Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya.Allah mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah dan orang yang takutkan Allah, akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Aisyah berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab rasulullah, "Suaminya. "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah, "Ibunya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut,burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup&lt;br /&gt;pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16 Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18 Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19 Daripada Aisyah r.a. Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;December 05, 2006 | Permalink | Comments (0)&lt;br /&gt;Meluruskan Penyimpangan Sejarah Kekhalifahan Khulafa Ar-Rasyidin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meluruskan Penyimpangan Sejarah Kekhalifahan Khulafa Ar-Rasyidin&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Qowlul Haqqi Wa Kalamus Shidqu Huwa Warogatul Ichlas Allattamami&lt;br /&gt;  (Perkataan yang hak dan kalimah yang benar, harus diiringi dengan&lt;br /&gt;  perbuatan yang benar menuju kesempurnaan kebenaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini saya turunkan untuk menjadi renungan bagi kita semua,&lt;br /&gt;termasuk diri saya sendiri didalam memahami Islam secara utuh dan&lt;br /&gt;menghilangkan segala macam khurafat, dengki, takhayul dan hal-hal&lt;br /&gt;lainnya yang dapat menyebabkan kehilangan salah satu unsur&lt;br /&gt;keseimbangan dari wahyu Allah ini berdasarkan Khofi As Zakiah [hati&lt;br /&gt;yang suci] yang amat Khullus [ikhlas] serta dihiasi dengan kebajikan&lt;br /&gt;Allat Dawam [yang abadi] lagi disertakan Tahmit [pujian] dan Tamjit&lt;br /&gt;Allat Tamami [kebenaran yang sempurna].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul Allah yang mulia, Muhammad Saw Al-Amin sang Paraclete, Ahmad&lt;br /&gt;yang dijanjikan telah dilahirkan pada hari Senin 12 Rabi'ul awal&lt;br /&gt;tahun gajah atau bertepatan dengan tahun 570 Masehi dan wafat pada&lt;br /&gt;hari dan tanggal yang sama, hari Senin, 12 Rabi'ul awal tahun 11&lt;br /&gt;hijriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau wafat setelah usai menunaikan tugasnya sebagai utusan Tuhan&lt;br /&gt;dan Penutup para Nabi, menanamkan nilai-nilai ke-Tuhanan, kebenaran&lt;br /&gt;dan prinsip hidup kemasyarakatan kepada manusia dialam semesta selama&lt;br /&gt;20 tahun 2 bulan 22 hari dalam 23 tahun periode keNabiannya dengan&lt;br /&gt;menghitung 3 tahun lamanya Rasul tidak mendapatkan wahyu semenjak ia&lt;br /&gt;dapatkan pertama kalinya di Gua Hira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyu terakhir dari Allah yang ia terima adalah pada tanggal 09&lt;br /&gt;Dzulhijjah, 07 Maret 632 Masehi, saat Nabi sedang berwukuf dipadang&lt;br /&gt;'Arafah bersama-sama kaum Muslimin melaksanakan Haji Wada' (Haji&lt;br /&gt;perpisahan) yaitu Surah Al-Maidah ayat 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa-masa kepemimpinannya, umat Islam bersatu dalam satu&lt;br /&gt;kesatuan yang utuh, tidak ada perpecahan diantara mereka, semua&lt;br /&gt;perselisihan yang terjadi, selalu dikembalikan kepada Allah dan&lt;br /&gt;Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat bahwa dakwah Islam sudah mencapai kenegri Tiongkok&lt;br /&gt;ketika Nabi Muhammad Saw sendiri masih hidup (627 M). Adapun yang&lt;br /&gt;melakukan penyebaran Islam dinegri tersebut adalah sahabat Nabi yang&lt;br /&gt;bernama Abu Kasbah, sekaligus mendirikan masjid pertama di Kanton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 632 M, Abu Kasbah kembali kenegrinya untuk melaporkan&lt;br /&gt;keadaan dinegri Tiongkok kepada Nabi Saw, tetapi kedatangannya ke&lt;br /&gt;Madinah ternyata terlambat sebulan dari saat wafatnya Nabi,&lt;br /&gt;selanjutnya Abu Kasbah kembali ke Tiongkok dan meninggal disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Nabi Muhammad Saw, umatnya mempermasalahkan bangku&lt;br /&gt;kekhalifahan yang akan menggantikan kedudukan Rasul memimpin umat&lt;br /&gt;Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari wafatnya Rasulullah, beberapa sahabat dari golongan Anshar,&lt;br /&gt;yang terbagi pada suku Kharaj dan 'Aus telah berkumpul di saqifah,&lt;br /&gt;perkampungan Bani Sa'idah untuk merundingkan masalah tersebut dengan&lt;br /&gt;para sahabat dari golongan Muhajirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara mereka ada yang bermaksud mengangkat Sa'ad bin Ubadah (dari&lt;br /&gt;suku Khazraj) menjadi Khalifah pertama, sebagian lagi ada yang&lt;br /&gt;mengatakan bahwa Khalifah tersebut harus dari seorang suku Quraisy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar Siddiq (mertua Rasul - ayah dari Ummul-Mu'minin 'Aisyah),&lt;br /&gt;menengahi perdebatan tersebut dengan mengajukan beberapa sabda Nabi&lt;br /&gt;yang menyatakan satu keharusan untuk mendahulukan suku Quraisy dan&lt;br /&gt;tidak mendahuluinya, Abu Bakar juga mengingatkan akan bahaya yang&lt;br /&gt;dapat ditimbulkan oleh peperangan antara sesama sebagaimana yang&lt;br /&gt;pernah terjadi pada masa lalu antara kaum 'Aus dan Kharaj [akibat&lt;br /&gt;intrik kaum Ahli kitab dan Yahudi] sembari menawarkan dua orang tokoh&lt;br /&gt;dari suku Quraisy yaitu Umar bin Khatab (juga Mertua Rasul - ayah&lt;br /&gt;dari Ummul-Mu'minin Hafshah) dan Abu Ubaidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencalonan dirinya oleh Abu Bakar ini ditolak oleh Umar Bin Khatab&lt;br /&gt;dan sebaliknya beliau malah menunjuk Abu Bakar sendiri untuk&lt;br /&gt;menempati posisi kekhalifahan tersebut dengan berbagai argumennya&lt;br /&gt;(yang salah satunya bahwa pada saat-saat terakhir kehidupannya, Nabi&lt;br /&gt;Muhammad Saw telah meminta Abu Bakar untuk menggantikan beliau&lt;br /&gt;sebagai imam shalat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penunjukan Abu Bakar sebagai Khalifah Ar-Rasul pertama disetujui oleh&lt;br /&gt;sebagian besar sahabat seperti Abu Ubaidah, Basyir bin Sa'ad dan lain&lt;br /&gt;sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun disisi lainnya, pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah ini&lt;br /&gt;tidak mendapatkan dukungan dari Fatimah Az-Zahra (putri Nabi dari&lt;br /&gt;Khadijjah - istri pertama beliau) dan juga dari Ali Bin Abu Thalib&lt;br /&gt;(Keponakan sekaligus menantu Nabi - suami dari Fatimah) ditambah pula&lt;br /&gt;oleh Sa'ad bin Ubaidah, Bani Hasyim serta pengikutnya selama enam&lt;br /&gt;bulan kemudian sampai pada wafatnya Fatimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat berlangsungnya peristiwa Saqifah, Ali bin Abu Thalib sedang&lt;br /&gt;mengurus jenazah Nabi. Dia tidak mengetahui adanya pertemuan itu.&lt;br /&gt;Yang dia ketahui adalah bahwa Abu Bakar telah terpilih. Beberapa&lt;br /&gt;sahabat lainnya memandang bahwa Ali Bin Abu Thalib inilah yang&lt;br /&gt;sebenarnya lebih berhak dijadikan Khalifah Ar-Rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat ini mengeluarkan argumennya bahwa dalam suku Quraisy,&lt;br /&gt;Bani Hasyim dan Bani Umayyah adalah dua suku terhormat. Dan Ali&lt;br /&gt;merupakan pemuda dari Bani Hasyim yang terhormat dan dekat pula&lt;br /&gt;dengan Nabi semasa hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh lainnya yang pantas untuk menduduki jabatan Khalifah adalah&lt;br /&gt;Hamzah Bin Abdul Muthalib (paman sekaligus saudara sesusuan&lt;br /&gt;Rasulullah), hanya sayangnya pada saat itu Hamzah Bin Abdul Muthalib&lt;br /&gt;telah wafat pada peperangan Uhud ditangan seorang budak bernama&lt;br /&gt;Wahsyi yang dijanjikan kebebasannya oleh Hindun Binti 'Utba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Hamzah, terdapat pula paman Nabi yang lain yang masih hidup&lt;br /&gt;yaitu Abbas bin Abdul Muthalib tetapi karena Abbas ini baru masuk&lt;br /&gt;Islam, maka seharusnya menurut mereka Ali Bin Abu Thalib lah yang&lt;br /&gt;berhak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah pertama itu juga,&lt;br /&gt;Abu Sufyan menawarkan bantuan kepada Ali bin Abu Thalib untuk merebut&lt;br /&gt;kekuasaan dari Abu Bakar, tapi tawaran Abu Sufyan ini ditolak oleh&lt;br /&gt;Ali Bin Abu Thalib dengan arif dan bijaksana demi menjaga keutuhan&lt;br /&gt;umat. Pada masa berikutnya, Ali Bin Abu Thalib memberikan bantuan dan&lt;br /&gt;sokongannya kepada pemerintahan Abu Bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Nahjul Balaghah Juz 1, halaman 182 dituliskan perkataan&lt;br /&gt;Ali Bin Abu Thalib r.a,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  "Tinggalkanlah aku dan carilah orang lain, karena kita menghadapi&lt;br /&gt;  persoalan yang amat kompleks. Dan ketahuilah, jika aku menjawab&lt;br /&gt;  permintaan kalian, aku hanya akan mengikuti apa yang aku ketahui,&lt;br /&gt;  dan aku tidak akan mendengarkan pendapat orang yang berpendapat&lt;br /&gt;  dan celaan orang yang mencela. Sebaliknya, jika kalian&lt;br /&gt;  meninggalkan aku, maka aku akan menjadi rakyat biasa seperti&lt;br /&gt;  kalian. Semoga aku mendengar dan taat kepada siapapun yang kalian&lt;br /&gt;  percayai untuk memimpin kalian. Lebih baik bagi kalian jika aku&lt;br /&gt;  menjadi wazir (pembantu) dari pada menjadi Amir (Pemimpin)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku yang sama, yaitu pada juz ke-3 halaman 8 diterangkan&lt;br /&gt;pernyataan Ali Bin Abu Thalib r.a mengenai keabsahan dunia&lt;br /&gt;kekhalifahan pimpinan Abu Bakar r.a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  "Sesungguhnya bai'at itu hanya sekali, tidak boleh ada alternatif&lt;br /&gt;  kedua dan tidak diizinkan memilih (berbai'at atau tidak&lt;br /&gt;  berbaiat). Barang siapa keluar dari padanya, ia telah berbuat&lt;br /&gt;  kejahatan dan barang siapa menolaknya, ia telah berkhianat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali r.a juga menegaskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  "Demi agamaku, andaikata imamah tidak dapat terlaksana kecuali&lt;br /&gt;  dengan dihadiri seluruh rakyat, maka hal itu akan sulit terjadi.&lt;br /&gt;  Namun cukuplah penduduk yang hadir menentukan pilihan bagi mereka&lt;br /&gt;  yang tidak hadir. Setelah itu tidak ada alasan bagi mereka yang&lt;br /&gt;  hadir untuk menolak bai'at dan tidak ada alasan pula bagi yang&lt;br /&gt;  tidak hadir untuk memilih."&lt;br /&gt;  (Nahjul Balaghah juz 2 halaman 86).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, orang-orang Nejeb dan Yaman&lt;br /&gt;menyatakan diri murtad dari Islam dan mengikuti Musailamah AlKazhab&lt;br /&gt;yang mengaku sebagi Nabi, padahal seperti yang sudah disabdakan oleh&lt;br /&gt;beliau Saw sendiri, sesudahnya tidak akan ada lagi Nabi yang diutus&lt;br /&gt;oleh Allah untuk manusia [QS. 33:40]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Musailamah AlKazhab ini kian harinya semakin merusak Islam,&lt;br /&gt;menimbulkan fitnahan dan semacamnya terhadap risalah Tauhid Ilahi,&lt;br /&gt;dan ini mendorong Khalifah Abu Bakar untuk segera mengambil tindakan&lt;br /&gt;tegas.&lt;br /&gt;Terjadilah pertempuran fisik di Yamamah pada tahun 12 Hijriah yang&lt;br /&gt;menyebabkan 70 orang sahabat yang hafal AlQur'an gugur sebagai&lt;br /&gt;syuhada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menimbulkan keprihatinan kepada Umar Bin Khatab, dan atas&lt;br /&gt;inisiatifnya, beliau menyarankan kepada Khalifah Abu Bakar untuk&lt;br /&gt;segera membukukan secara tertulis semua ayat AlQur'an berdasarkan&lt;br /&gt;hafalan semua sahabat dan juga catatan -catatan mereka selagi Nabi&lt;br /&gt;masih hidup menjadi satu buku, sehingga dengan begitu, apabila kelak&lt;br /&gt;kembali terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, AlQur'an akan 'tetap&lt;br /&gt;hidup' dan satu meski para penghafalnya sudah tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran Umar ini disetujui oleh Khalifah, dan dibentuklah suatu panitia&lt;br /&gt;yang diketuai oleh Zaid Bin Tsabit, dengan dibantu oleh Ali Bin Abu&lt;br /&gt;Thalib, Usman Bin Affan dan Ubay Bin Ka'ab yang kesemuanya itu adalah&lt;br /&gt;para penulis wahyu AlQur'an dan sekertaris Nabi Muhammad semasa&lt;br /&gt;hidupnya dan telah diuji oleh Nabi sendiri hafalannya dengan&lt;br /&gt;disaksikan oleh semua kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas pembukuan AlQur'an tersebut dapat diselesaikan dalam waktu&lt;br /&gt;kurang lebih satu tahun, kemudian mushaf Qur'an ini diserahkan kepada&lt;br /&gt;Abu Bakar untuk disimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama asli dari Khalifah Abu Bakar Siddiq adalah Abdullah Bin Abu&lt;br /&gt;Kuhafa dari Bani Taim Ibni Murra, berusia 2 tahun lebih muda dari&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah yang menemani Rasulullah dalam perjalanannya hijrah ke Yatsrib&lt;br /&gt;(Madinah), dan menemani beliau ketika berada dalam Gua Tsur untuk&lt;br /&gt;menghindari kejaran Abu Jahal dan para kafir Quraisy (hal ini juga&lt;br /&gt;tercatat dalam AlQur'an Surah At-Taubah ayat ke-40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar Siddiq (orang yang percaya) diperolehnya langsung dari Nabi&lt;br /&gt;Muhammad Saw ketika beliau membenarkan semua yang diceritakan oleh&lt;br /&gt;Baginda Rasul mengenai pengalaman Mi'rajnya[1] keplanet Muntaha&lt;br /&gt;disaat orang lain banyak yang mendustakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Kekhalifahan Umar Bin Khatab Islam terus menyebar ke&lt;br /&gt;Armenia dan Azerbaijan timur serta Tripoli barat.&lt;br /&gt;Dengan demikian Islam sudah tersebar sampai ke Suriah dan Palestina&lt;br /&gt;yang kala itu menjadi bagian kekaisaran Byzantium, terus ke Turki,&lt;br /&gt;Mesir, Iraq, Iran hingga Persia dan menyebrang ke Afrika Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Umar Bin Khatab juga yang membangun Masjidil-Aqsa (637M/?)&lt;br /&gt;dikota Yerusalem yang artinya The City of the Temple dalam bentuk&lt;br /&gt;yang sangat sederhana, terdiri dari empat buah tembok berbentuk&lt;br /&gt;persegi, yang cukup luas untuk menampung 3000 umat untuk&lt;br /&gt;bersembahyang. Letaknya dipelataran Kuil Raja Herodes (Herod's&lt;br /&gt;Temple) yang luas.&lt;br /&gt;Herod's Temple ini juga berada dalam satu area dengan sisa-sisa puing&lt;br /&gt;Kuil Nabi Sulaiman as.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelataran ini letaknya agak tinggi sehingga orang mesti memanjat&lt;br /&gt;untuk dapat berada disana.&lt;br /&gt;Ketika Khalifah Umar datang berkunjung, pelataran ini merupakan&lt;br /&gt;tempat burung-burung buang hajat dan pembuangan sampah kota Yerusalem&lt;br /&gt;yang tidak terpelihara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Umar Bin Khatab Alfaruq dan pengikutnya membersihkan&lt;br /&gt;pelataran ini dan membangun cikal-bakal Masjidil-Aqsa di salah satu&lt;br /&gt;sudutnya (bagian selatan). Mesdjid Umar ini kemudian diperbaiki dan&lt;br /&gt;diperluas menjadi Masjidil-Aqsa seperti yang ada sekarang. Ada lagi&lt;br /&gt;bangunan yang lebih besar dari Masdjid Al-Aqsa yaitu The Dome of Rock&lt;br /&gt;yang terletak diseberangnya. Mesdjid Al-Aqsa mempunyai kubah (dome)&lt;br /&gt;berwarna perak sedangkan The Dome of Rock berwarna Emas. The Dome of&lt;br /&gt;Rock ini mulai dibangun pada thn 688 oleh Abdul Malik, Khalifah yang&lt;br /&gt;memerintah saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keagungan Umar Bin Khatab tercatat dalam sejarah kemanusiaan sebagai&lt;br /&gt;orang besar nomor dua setelah Nabi Muhammad Saw yang berhasil&lt;br /&gt;memperjuangkan dan menyebarkan Islam kepada manusia. Namanya juga&lt;br /&gt;tercatat dalam urutan ke-51 setelah Poper Urban II dan sebelum Asoka&lt;br /&gt;bahkan sebelum nama Julius Caesar pada buku Seratus Tokoh Michael H.&lt;br /&gt;Hart dengan Rasulullah Saw sebagai tokoh yang berada pada urutan&lt;br /&gt;pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap Khalifah Umar Bin Khatab r.a, Ali Bin Abu Thalib berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  "Sungguh Allah telah memberikan kehebatan kepada Umar. Dia telah&lt;br /&gt;  meluruskan tujuan dan mengatasi musibah. Ia perbaiki kerusakan&lt;br /&gt;  dan ia tegakkan sunnah. Ia pelihara kesucian diri dan aibnya. Ia&lt;br /&gt;  telah mendapatkan kebaikan dari dirinya dan mengalahkan kejahatan&lt;br /&gt;  nafsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah ia tunaikan ketaatan terhadap Tuhannya dan ia jaga ketaatan itu&lt;br /&gt;dengan sebenar-benarnya. Ia telah pergi dengan meninggalkan bagi&lt;br /&gt;umatnya jalan-jalan bercabang banyak yang sulit bagi orang yang&lt;br /&gt;tersesat untuk menemukan jalan (melakukan kejahatan) dan orang yang&lt;br /&gt;mendapat petunjuk pun tidak merasa pasti (akan keadaan umat&lt;br /&gt;sepeninggalnya)."&lt;br /&gt;(Nahjul Balaghah Juz. 2 halaman 222).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar Bin Khatab termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi&lt;br /&gt;Muhammad Saw semasa hidupnya.&lt;br /&gt;Sebelum memeluk Islam, Beliau merupakan musuh yang paling ditakuti&lt;br /&gt;oleh kaum Muslimin. Namun semenjak ia bersyahadat dihadapan Rasul&lt;br /&gt;(tahun keenam sesudah Muhammad diangkat sebagai Nabi Allah), ia&lt;br /&gt;menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan&lt;br /&gt;kaum Quraish terhadap diri Nabi dan sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena dibunuh, dikuburkan&lt;br /&gt;berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah Aisyah yang&lt;br /&gt;sekarang terletak didalam masjid Nabawi di Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengangkatan Usman Bin Affan (menantu Nabi yang digelari juga dengan&lt;br /&gt;nama Zun Nuraini karena menikahi 2 putri Nabi yaitu Ruqayah dan Ummu&lt;br /&gt;Kalsum) sebagai Khalifah ketiga pengganti Khalifah Umar mendapatkan&lt;br /&gt;pro dan kontra dari beberapa kalangan sementara Ali Bin Abu Thalib&lt;br /&gt;sendiri justru mendukung keKhalifahan Usman yang diperoleh dari hasil&lt;br /&gt;musyawarah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Nahjul Balaghah juz 2 halaman 48 disebutkan pernyataan Ali&lt;br /&gt;terhadap Usman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  "Sesungguhnya ada banyak orang dibelakangku dan mereka meminta&lt;br /&gt;  aku menemuimu untuk menyampaikan keluhan mereka. Demi Allah, aku&lt;br /&gt;  tidak tahu apa yang harus kukatakan kepadamu, tidak ada sesuatu&lt;br /&gt;  yang kuketahui yang tidak engkau ketahui. Tidak ada pula suatu&lt;br /&gt;  perkara yang perlu aku tunjukkan karena engkau tidak&lt;br /&gt;  mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya engkau tahu apa yang kami tahu, dan tidak ada sesuatu&lt;br /&gt;yang kami lebih dulu tahu sehingga perlu kami beritahukan kepadamu.&lt;br /&gt;Tidak pula ada sesuatu yang hanya kami mengetahuinya yang perlu kami&lt;br /&gt;sampaikan kepadamu. Sungguh telah engkau ketahui apa yang kami&lt;br /&gt;ketahui, dan engkau dengar apa yang kami dengar, dan engkau temani&lt;br /&gt;Rasulullah sebagaimana beliau kami temani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah Ibnu Abu Quhafah (Abu Bakar) ataupun Umar lebih utama darimu&lt;br /&gt;untuk menegakkan kebenaran, sementara engkau lebih dekat&lt;br /&gt;kekeluargaanmu dengan Rasulullah daripada mereka berdua.&lt;br /&gt;Engkau telah menjadi menantunya, sedang mereka tidak demikian.&lt;br /&gt;Hati-hatilah engkau dengan dirimu sendiri.&lt;br /&gt;Demi Allah, sungguh engkau bukanlah orang yang dapat melihat karena&lt;br /&gt;terlepas dari kebutaan dan bukan pula orang yang berilmu karena&lt;br /&gt;terlepas dari kebodohan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Khalifah Usman Bin Affan, atas inisiatif Hudzaifah Bin&lt;br /&gt;Yaman, salah seorang sahabat dekat Rasulullah, menyarankan kepada&lt;br /&gt;Khalifah Usman agar segera mengusahakan keseragaman bacaan AlQur'an&lt;br /&gt;dengan jalan menyeragamkan penulisan AlQur'an diantara bangsa-bangsa&lt;br /&gt;Islam yang semakin besar dan menyebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggandaan yang dilakukan oleh Khalifah Usman Bin Affan itu sendiri&lt;br /&gt;berdasarkan AlQur'an yang telah dibukukan oleh Khalifah Abu Bakar&lt;br /&gt;Shiddiq dan disimpan oleh Hafshah Bin Umar Bin Khatab dengan tetap&lt;br /&gt;dibawah pimpinan Zaid Bin Tsabit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kekhalifahan Usman bin Affan ini juga, Kaisar Kao Tsung&lt;br /&gt;dari daratan Tiongkok pernah mengirimkan perutusan ke Madinah karena&lt;br /&gt;mengagumi atas munculnya 'kerajaan baru' dan mempunyai pedoman agama&lt;br /&gt;yang kuat. Misi persahabatan ini dibalas oleh Khalifah Usman Bin&lt;br /&gt;Affan dengan mengirimkan misi persahabatan pula ke Tiongkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kewafatan Khalifah Usman Bin Affan dari Bani Umayyah, Ali Bin&lt;br /&gt;Abu Thalib naik menjadi Khalifah ke-4 menggantikannya dan memindahkan&lt;br /&gt;pusat pemerintahan ke Kufah, Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Bin Abu Thalib terkenal dengan siasat perang dan ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;yang tinggi.&lt;br /&gt;Selain Umar bin Khatab r.a., Ali bin Abi Thalib pun terkenal&lt;br /&gt;keberaniannya didalam peperangan.&lt;br /&gt;Beliau sudah mengikuti Rasulullah sejak kecil dan hidup bersamanya&lt;br /&gt;sampai Rasul diangkat menjadi Nabi hingga wafatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naiknya Ali Bin Abu Thalib sebagai Khalifah adalah atas desakan&lt;br /&gt;sebagian besar penduduk Madinah yang waktu itu sedang berada dalam&lt;br /&gt;kekacauan akibat terbunuhnya Khalifah Usman Bin Affan.&lt;br /&gt;Selama hampir lima tahun Ali Bin Abu Thalib memerintah dalam situasi&lt;br /&gt;negara yang tidak stabil.&lt;br /&gt;Keadaan tersebut sebenarnya telah diwarisi sejak tahun-tahun terakhir&lt;br /&gt;pemerintahan Khalifah Usman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Ali Bin Abu Thalib berkuasa, beberapa orang sahabat meminta&lt;br /&gt;kepadanya agar segera menghukum orang-orang yang diduga menjadi&lt;br /&gt;pembunuh Khalifah Usman. Namun permintaan tersebut tidak dapat&lt;br /&gt;dikabulkan oleh Khalifah Ali karena belum jelas siapa oknum&lt;br /&gt;sebenarnya yang telah melakukan pembunuhan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut membuat kecewa Thalhah dan Zubayr, r.a, sehingga mereka&lt;br /&gt;membujuk Ummul-Mu'minin 'Aisyah r.a, untuk mengangkat senjata kepada&lt;br /&gt;Khalifah dan menarik kembali pernyataan Bai'at mereka kepadanya. Ibnu&lt;br /&gt;Al-Asir mencatat sejumlah delapan belas orang yang enggan berba'iat&lt;br /&gt;diantara mereka terdapat Sa'ad Bin Abi Waqqas yang pada masanya&lt;br /&gt;menjadi penakluk Parsi, Ibnu 'Umar, Usamah dan Zaid Bin Tsabit&lt;br /&gt;(Beliau bersama Thalhah Bin Abdullah pernah diperintahkan oleh&lt;br /&gt;Rasulullah Saw untuk memata-matai gerakan musuh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah perang Jamal atau perang Onta, tahun 36 H. -disebut demikian&lt;br /&gt;karena 'Aisyah memimpin pasukan dari punggung onta.&lt;br /&gt;Atas perlawanan para sahabat dan Mertua tirinya itu, Khalifah Ali Bin&lt;br /&gt;Abu Thalib tidak melakukan tindakan represif melainkan mengirimkan&lt;br /&gt;utusan (yaitu Qa'qa bin Amr r.a) kepada istri Nabi tersebut untuk&lt;br /&gt;mencari jalan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utusan Khalifah tersebut disambut oleh Thalhah dan Zubayr yang tetap&lt;br /&gt;menginginkan Khalifah melakukan tindakan tegas terhadap oknum&lt;br /&gt;pembunuhan Khalifah Usman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  "Kami menginginkan para pembunuh Utsman (untuk di Qishas). Yang&lt;br /&gt;  demikian kalau kita tinggalkan berarti kita meninggalkan&lt;br /&gt;  AIQur'an. Dan jika kita melaksanakannya berarti kita menghidupkan&lt;br /&gt;  AI-Qur'an."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah usaha perdamaian itu gagal, Khalifah Ali terpaksa mengadakan&lt;br /&gt;perlawanan terhadap para sahabat dan mertua tirinya itu sehingga&lt;br /&gt;menyebabkan kalahnya pasukan Ummul Mu'minin 'Aisyah ra,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan kearifannya Khalifah Ali mengamanatkan pasukannya agar&lt;br /&gt;menghormati Ummul-Mu'minin itu dan mengembalikannya ke Madinah dengan&lt;br /&gt;penuh penghormatan dan perlindungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Ali bin Abu Thalib telah membersihkan atau mengembalikan&lt;br /&gt;nama baik Sayyidah 'Aisyah dari kesalahannya memimpin perang&lt;br /&gt;terhadapnya. Posisi Ali yang pada waktu itu sebagai seorang Imam atau&lt;br /&gt;Khalifah memungkinkan beliau untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercatat dalam Nahjul Balaghah juz 2 halaman 48 mengenai status&lt;br /&gt;'Aisyah dihadapan Khalifah Ali Bin Abu Thalib r.a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  "Dan baginya kehormatannya seperti semula (sebelum terjun kemedan&lt;br /&gt;  perang), adapun perhitungan atas amalnya adalah ditangan Allah&lt;br /&gt;  Ta'ala"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada peperangan Jamal itu, Thalhah bin Abdullah dan Zubayr Bin 'Awaam&lt;br /&gt;gugur terbunuh.&lt;br /&gt;Thalhah Bin Abdullah ra. masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar&lt;br /&gt;Siddiq ra.&lt;br /&gt;Selalu aktif disetiap peperangan selain Perang Badar.&lt;br /&gt;Didalam perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah Saw&lt;br /&gt;sehingga terhindar dari mata pedang musuh, sehingga putus jari-jari&lt;br /&gt;beliau. Thalhah gugur dalam peperangan Jamal dalam usia 64 tahun, dan&lt;br /&gt;dimakamkan di Basrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Zubair Bin Awaam r.a, memeluk Islam juga berkat Abu Bakar&lt;br /&gt;Siddiq ra.&lt;br /&gt;Dia ikut berhijrah sebanyak dua kali ke Habasyah dan mengikuti semua&lt;br /&gt;peperangan bersama Nabi Saw.&lt;br /&gt;Saat gugur dalam perang Jamal, beliau berusia 63 tahun dan dikuburkan&lt;br /&gt;di Basrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pecahnya perang antara para sahabatnya tersebut pernah diramalkan&lt;br /&gt;oleh Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;Diriwayatkan, ketika Zubayr tengah mengiringi Nabi Saw berjalan, dan&lt;br /&gt;bertemu Ali r.a., Zubayr tersenyum ramah kepada Ali. Lalu Nabi&lt;br /&gt;bertanya: "Seberapa besar cintamu kepada Ali ?"&lt;br /&gt;"Ya Rasulullah," Jawab ipar 'Aisyah itu.&lt;br /&gt;"Demi ayah dan ibuku, aku mencintainya sebesar cintaku kepada ayah&lt;br /&gt;dan ibuku atau malah lebih besar lagi."&lt;br /&gt;Tetapi, sahut Nabi: "Lalu bagaimana kalau engkau kelak beranjak&lt;br /&gt;memeranginya ?"&lt;br /&gt;(Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, II:153)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, baik 'Aisyah, Thalhah maupun Zubayr r.a sendiri&lt;br /&gt;sebelumnya merasa enggan untuk mengadakan perlawanan senjata kepada&lt;br /&gt;Khalifah Ali Bin Abu Thalib, hal ini tercantum dalam Tarikhur&lt;br /&gt;At-Thabari Juz 4 fil fitnah 211.- Tabqiq Mawaqifus Shah'ahab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang pernah dekat dengan Nabi Saw semasa hidupnya&lt;br /&gt;tersebut hanya menginginkan berjalannya hukum Allah atas pembunuhan&lt;br /&gt;Khalifah Usman sebagaimana yang tertuang dalam AlQur'an surah Al&lt;br /&gt;Israa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  "Dan barangsiapa yang dibunuh secara zalim, maka seseungguhnya&lt;br /&gt;  Kami telah memberi kekuasaan pada walinya (untuk menuntut bela)&lt;br /&gt;  tapi janganlah melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya dia&lt;br /&gt;  adalah orang yang mendapat pertolongan." (Al-Isra 17:33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berperang melawan Ali Bin Abu Thalib, lebih-lebih lagi dengan&lt;br /&gt;posisinya sebagai seorang Khalifah adalah satu beban moral&lt;br /&gt;tersendiri, selain karena dekatnya sang Khalifah ini kepada Nabi&lt;br /&gt;sepanjang hidupnya, juga sewaktu hendak berangkat dalam perang Tabuk,&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Saw pernah menyamakan kedudukan Ali Bin Abu Thalib&lt;br /&gt;terhadap dirinya adalah seperti kedudukan Nabi Harun dengan Nabi Musa&lt;br /&gt;as.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  "Kedudukanmu padaku seperti kedudukan Harun pada Musa, tapi&lt;br /&gt;  sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku."&lt;br /&gt;  (HR. Bukhari &amp; Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimasa pemerintahan Khalifah Ali Bin Abu Thalib ini juga pecah&lt;br /&gt;peperangan melawan pemberontakan Mu'awiyah, seorang gubernur dari&lt;br /&gt;Damaskus yang ingin menuntut bela atas kematian Khalifah Usman yang&lt;br /&gt;masih ada hubungan keluarga dengan dirinya, peperangan tersebut&lt;br /&gt;terkenal dengan nama perang "Shiffien".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perseteruan antara Muawiyyah dan Khalifah Ali ini pada awalnya tidak&lt;br /&gt;melibatkan perebutan bangku kekuasaan.&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  "Dan Muawiyyah radhiallahu anhu tidak mengaku khalifah dan belum&lt;br /&gt;  berbaiat kepada Ali ketika memeranginya. Dia tidak melawan Ali&lt;br /&gt;  sebagai khalifah, dan tidak juga dia mengaku berhak sebagai&lt;br /&gt;  khalifah bahkan mengakui bahwa Ali lebih berhak untuk itu, bahkan&lt;br /&gt;  mengikrarkan demikian ketika ditanya tentangnya."&lt;br /&gt;  (Fatwa Ibnu Taimiyah juz 35 hal. 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muawiyyah pernah menjadi pencatat wahyu di zaman Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;Beliau menjadi Gubernur Syam yang dipilih dan diangkat oleh Khalifah&lt;br /&gt;Umar Bin Khatab dan diteruskan pada masa pemerintahan Khalifah Usman&lt;br /&gt;radh'allahu anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang masalah kemewahan, beliau pemah ditegur oleh Khalifah Umar&lt;br /&gt;bin AI-Khattab radhiallahu anhu dan Muawiyyah menjawab bahwa itu&lt;br /&gt;merupakan politik atau cara Muawiyyah dalam memuliakan Islam di&lt;br /&gt;hadapan musuh-musuhnya. Kisahnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Ketika Khalifah Umar tengah berkunjung keSyam dan menyaksikan&lt;br /&gt;  gaya hidup Muawiyyah, beliau menegur dan mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mengapa engkau berbuat demikian ? sunguh aku sangat ingin menyuruh&lt;br /&gt;engkau hijaz dengan bertelanjang kaki." Maka Muawiyyah menjawab:&lt;br /&gt;"Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kami berada di bumi (daerah)&lt;br /&gt;yang penuh mata-mata musuh. Maka kita mesti menunjukkan kemuliaan&lt;br /&gt;penguasa Islam, yang berarti juga ke'muliaan Islam dan kaum muslimin&lt;br /&gt;sehingga menakuti mereka (musuh) dengannya.&lt;br /&gt;Kalau engkau perintahkan aku (dengan sesuatu) aku akan mengerjakannya&lt;br /&gt;dan kalau engkau larang aku, aku akan berhenti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah jawaban Muawiyyah kepada Umar bin Khatab, hingga akhirnya&lt;br /&gt;beliau (Umar) mengatakan: "Jika itu benar, itu pendapatmu, dan jika&lt;br /&gt;itu bathil, maka itu tipudayamu !"&lt;br /&gt;Maka berkata Muawiyyah: "Wahal Amirul Mukminin, perintahkanlah&lt;br /&gt;sesuatu padaku."&lt;br /&gt;Beliau (Khalifah Umar Bin Khatab) menjawab: "Aku tidak menyuruhmu dan&lt;br /&gt;tidak melarangmu."&lt;br /&gt;(Al-Bidayah wan Nibayab 8/ 124-125, lihat Syubbat haulas shahahah&lt;br /&gt;hal. 20 oleh Muhammad Maalullah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, Muawiyyah menganggap Khalifah Ali melindungi pembunuh&lt;br /&gt;Khalifah Usman dan mulai mengobarkan peperangan terhadapnya dan&lt;br /&gt;menyatakan bahwa Ali tidak layak untuk menjadi pemimpin karena tidak&lt;br /&gt;dapat bersikap tegas dan dengan begitu Muawiyyah mulai menyinggung&lt;br /&gt;masalah tampuk kepemimpinan keKhalifahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peperangan melawan Mu'awiyah bin Abu Sufyan ini pasukan&lt;br /&gt;Khalifah Ali di bawah pimpinan Abu Musa Al-As'ari sudah akan berhasil&lt;br /&gt;mengalahkan pasukan Mu'awiyyah di bawah pimpinan Amr Ibn 'Ash. Namun&lt;br /&gt;karena siasat Amr Ibn 'Ash yang mengacungkan mushaf al-Qur'an diujung&lt;br /&gt;tombaknya sebagai tanda perdamaian, Abu Musa Al-As'ari menghentikan&lt;br /&gt;peperangannya. Khalifah Ali r.a. pun setuju diadakannya perdamaian&lt;br /&gt;itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan Khalifah yang lebih mementingkan ukhuwah dan perdamain ini&lt;br /&gt;menimbulkan pro dan kontra pasukannya. Perpecahan itu semakin tajam&lt;br /&gt;setelah ternyata perdamaian itu dianggap tidak fair dan menguntungkan&lt;br /&gt;kubu pasukan Mu'awiyyah. Sejarah kemudian mencatat bahwa pasukan&lt;br /&gt;Mu'awiyyah dapat mengalahkan pasukan Khalifah Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Ali yang tidak menyetujui perdamaian itu bereaksi keras&lt;br /&gt;dengan menyatakan keluar dari kubu Ali, sehingga mereka dikenal&lt;br /&gt;dengan sebutan kaum Khawarij (yang secara harfiah berarti golongan&lt;br /&gt;luar) disebut begitu karena mereka memisahkan diri dari masyarakat&lt;br /&gt;akibat dari perselisihan Muawiyyah dan Khalifah Ali.&lt;br /&gt;Kaum Khawarij ini lalu mengembangkan theologi tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mempertahankan pendapat bahwa arbitrasi itu seharusnya tidak&lt;br /&gt;pernah terjadi dan bahwa arbitrasi dalam agresi bertentangan dengan&lt;br /&gt;ketentuan Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya golongan yang setuju dengan sikap Khalifah Ali tidak&lt;br /&gt;menerima pernyataan kelompok Khawarij ini dan mereka tetap setia&lt;br /&gt;kepada Khalifah dan bahkan beberapa diantaranya sampai ada yang&lt;br /&gt;mengkultuskannya hingga sesat sesesatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Khawarij menuduh sebagian besar sahabat yang termasyur sebagai&lt;br /&gt;kafir, termasuk Khalifah Usman, Khalifah Ali, Thalhah dan Zubayr dan&lt;br /&gt;memperbolehkan mengadakan perlawanan terhadap mereka.&lt;br /&gt;(Al-Syawkani, Nayl Al-Awthar, VII, 190, el-Awa, The Political System,&lt;br /&gt;hlm. 56, Isma'il, Manhaj, hlm. 319)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Khawarij ini pun mempertanyakan keabsahan keKhalifahan Ali&lt;br /&gt;karena beliau menyetujui arbitrasi. Proses dan hasil arbitrasi itu&lt;br /&gt;dikisahkan dan diinterpretasikan secara bervariasi, namun kaum&lt;br /&gt;Khawarij tetap mencela arbitrasi itu dan menyatakan bahwa pertempuran&lt;br /&gt;melawan Muawiyyah harus dilanjutkan sampai permasalahannya diputuskan&lt;br /&gt;berdasarkan prinsip-prinsip yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan sekitar 8000 orang Khawarij menentang keputusan Khalifah&lt;br /&gt;Ali mengenai arbitrasi dengan Muawiyyah, namun sebagaimana&lt;br /&gt;perlakuannya terhadap para sahabatnya dalam peperangan Jamal,&lt;br /&gt;Khalifah Ali kali ini juga tidak mengambil langkah kekerasan,&lt;br /&gt;sebaliknya beliau mengirim seorang sahabat bernama Ibnu Abbas untuk&lt;br /&gt;membicarakan perbedaan-perbedaan mereka secara damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 4000 orang Khawarij berhasil dibujuk untuk kembali, dan&lt;br /&gt;Khalifah juga meminta yang lain untuk kembali tetapi mereka menolak.&lt;br /&gt;Dengan kearifannya, Ali bin Abu Thalib mengirimkan pesan kepada&lt;br /&gt;mereka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  "Kalian boleh bertahan sebagaimana yang kalian inginkan dan kami&lt;br /&gt;  tidak akan mengobarkan peperangan selama kalian menghindari&lt;br /&gt;  pertumpahan darah, penipuan dan tindakan-tindakan diluar hukum&lt;br /&gt;  serta kecurangan. Tetapi jika kalian melakukan salah satu&lt;br /&gt;  perbuatan tersebut, kami akan memerangi kalian".&lt;br /&gt;  (Al-Syawkani, Nayl Al-Awthar, VII, 187, lihat juga Al-'Illi,&lt;br /&gt;  Al-Hurriyat, hlm. 384)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi kebijaksanaan Khalifah Ali ini dilanggar oleh kaum&lt;br /&gt;Khawarij dengan pembunuhan terhadap gubernur Nahrawan Khabbab bin Al&lt;br /&gt;Art. Khalifah meminta kaum Khawarij menyerahkan sipembunuh kepada&lt;br /&gt;pengadilan. Tetapi mereka menolaknya dan menjawab bahwa itu adalah&lt;br /&gt;aksi yang dilakukan secara bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mereka menolak untuk mematuhi Khalifah dan menantang otoritasnya&lt;br /&gt;secara terbuka. Oleh karena itu Khalifah Ali mengumumkan perang&lt;br /&gt;melawan mereka dan berhasil mengalahkan mereka di Nahrawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang pengikut Khalifah pernah melontarkan kecaman kepada&lt;br /&gt;Khalifah :&lt;br /&gt;"Dahulu, ketika Abu Bakar dan Umar memerintah, tidak terjadi&lt;br /&gt;perpecahan Islam seperti sekarang, tapi berbeda ketika engkau&lt;br /&gt;memerintah."&lt;br /&gt;Kecaman ini dibalas oleh Khalifah :&lt;br /&gt;"Dahulu Abu Bakar dan Umar memerintah orang seperti aku; sedangkan&lt;br /&gt;sekarang aku memerintah orang seperti kamu !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nahjul Balghah juz 2 halaman 184 menceritakan pernyataan Ali Bin ABu&lt;br /&gt;Thalib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  "Demi Allah. aku sama sekali tidak memiliki keinginan memikul&lt;br /&gt;  jabatan khilafah ataupun wilayah, akan tetapi kalianlah yang&lt;br /&gt;  memanggil aku dan membawaku kepadanya. Ketika aku menerima tugas&lt;br /&gt;  itu, aku mengikuti petunjuk Kitabullah dan segala yang telah&lt;br /&gt;  ditetapkan Allah. Akupun meneladani segala yang disunnahkan oleh&lt;br /&gt;  Rasul-Nya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu akhir dari peperangan Khalifah Ali dengan gubernur Syam&lt;br /&gt;Muawiyyah yang berlangsung selama 50 tahun menghasilkan kekalahan&lt;br /&gt;terhadap Khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Asyura, telah terjadi pembantaian secara biadab terhadap&lt;br /&gt;cucu kesayangan Rasulullah Saw, Hasan dan Husien beserta keluarganya&lt;br /&gt;di padang Karbala oleh Yazid putra Muawiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sahabat terdekat Nabi Saw juga mendapatkan perlakuan biadab&lt;br /&gt;dari Muawiyah dan pengikutnya, diantaranya adalah Muhammad putra&lt;br /&gt;Khalifah Abu Bakar Siddiq r.a, (setelah dibunuh jasadnya dimasukkan&lt;br /&gt;ke dalam bangkai himar lalu dibakar), Amr bin Hamk (setelah digigit&lt;br /&gt;ular kepalanya dipotong dan diarak keliling lalu dilemparkan ke&lt;br /&gt;pangkuan isterinya), Hujur ibn 'Adi (dibunuh karena tidak mau&lt;br /&gt;melaknat Khalifah Ali), Abdurrahaman bin Hasan (dikubur hidup-hidup).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubu Mu'awiyyah dari Bani Umayyah yang memenangkan peperangan merasa&lt;br /&gt;berkepentingan untuk mempertahankan status quonya. Karenanya mereka&lt;br /&gt;mengembangkan paham theologi Jabariyah kepada kaum muslimin. Menurut&lt;br /&gt;faham ini ummat Islam harus pasrah kepada nasib dan tunduk kepada&lt;br /&gt;pemimpin mereka karena semua itu adalah ketetapan ('qada) dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Ibn Ali al-Hanafiyyah, salah seorang putra Khalifah Ali Bin&lt;br /&gt;Abu Thalib menentang faham ini dengan menawarkan faham Qadariyyah.&lt;br /&gt;Pemikiran ini merupakan cikal-bakal lahinya faham Mu'tazilah yang&lt;br /&gt;dicetuskan oleh Ibn 'Atha', salah seorang murid Muhammad Ibn Ali&lt;br /&gt;al-Hanafiyyah. Faham ini menyatakan setiap manusia memiliki kebebasan&lt;br /&gt;penuh untuk menentukan nasibnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan faham theologi (aqidah) yang bermula dari pertentangan&lt;br /&gt;politik itu ternyata menjalar ke aspek-aspek lain termasuk syari'ah,&lt;br /&gt;muamalah, syiasah, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari berbagai sumber, diantaranya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Musa Al Musawi ; Meluruskan Penyimpangan Syi'ah&lt;br /&gt;Jalaludin Rakhmat; Islam Aktual&lt;br /&gt;Muhammad Husain Haekal; Sejarah Hidup Muhammad&lt;br /&gt;Dan lain sebagainya ...&lt;br /&gt;Help file produced by WebTwin (www.webtwin.com) HTML-&gt;WinHelp converter. This text does not appear in the registered version.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;December 05, 2006 | Permalink | Comments (1)&lt;br /&gt;Setitik cahaya lupakan terangnya matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setitik cahaya lupakan terangnya matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa kita yg merasa kuat,yg merasa tlah diberi setitik cahaya,&lt;br /&gt;yg telah bangkit dari jurang hina, kembali menjadi bodoh, kembali menjadi gelap kembali menjadi budak atas semua pikiran yg tak tentu arah mengikis iman&lt;br /&gt;ketidaksiapan menghadapi realita depan mata, hanya angan-angan hasil kesombongan.&lt;br /&gt;Sisa kotoran yg masih menempel di hati seakan bekas luka yg tak bisa hilang&lt;br /&gt;Sakit hatiku pada dunia yg ternyata merupakan kebohongan juga&lt;br /&gt;merasa diri jendral ternyata prajurit bodoh pemalas yg bangga karena bisa menembak satu musuh…dan jutaan musuh terawa padaku…syetan sial!!!&lt;br /&gt;ku yg tlah aniyaya diriku kembali mengharap cahayaMU&lt;br /&gt;cahaya yg pernah hadir dalam kalbuku&lt;br /&gt;cahaya yg ingatkan diriku akan hadirMU&lt;br /&gt;setitik cahaya yg membuatku menipu diri&lt;br /&gt;merasa dekat dan ternyata ku hanya terjebak&lt;br /&gt;cahaya yg buat ku tinggi secara drastis&lt;br /&gt;dan akhirnya ku jatuh kembali ke pinggir jurang (secara drastic)&lt;br /&gt;keluar dari barisan rasulMU,lupa akan syariatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ku yg tak pernah tau dosa lalu terampuni&lt;br /&gt;ku yg tak bisa menangis ketika menang&lt;br /&gt;ku yg tak bisa tertawa ketika kalah&lt;br /&gt;ku yg tlah lupa kembali akan kekuatanmu&lt;br /&gt;kau pembolak-balik hati manusia&lt;br /&gt;izinkalah hambamu ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.&lt;br /&gt;Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;Yang menguasai di Hari Pembalasan.&lt;br /&gt;Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan&lt;br /&gt;Tunjukilah kami jalan yang lurus,&lt;br /&gt;(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”(AL-Fatihah :1-7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yg mereka pikirakan tentang diriku,&lt;br /&gt;Tolong jangan beri aku label munafik&lt;br /&gt;Ku masih ingin kumasih ingin melihat hati-hati bersih pada mereka&lt;br /&gt;Ku masih ingin mendengar ayat-ayat ALLAH yg maha mendengar jeritan hambanya yg beriman.&lt;br /&gt;Tolonnglah hambaMU ini, Jadikanlah setan pada diriku pihak yg terkalahkan&lt;br /&gt;Semoga usaha perjuangan dengan darah dan air mata jiwa raga harta ini menjadi amalan di mataMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan, maka telah datang keputusan kepadamu; dan jika kamu berhenti; maka itulah yang lehih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (pula); dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahayapun, biarpun dia banyak dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya),&lt;br /&gt;dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) vang berkata "Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.&lt;br /&gt;Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.&lt;br /&gt;Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”(AL-Anfaal :19-24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis senin 27 November 2006 9pagi setelah sekian lama ,(kayanye berat amat dah!!!)&lt;br /&gt;Cuma tulisan dari sedikit harapan jangan mikir macem2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Big lot of Thanks for all&lt;br /&gt;revoLUTHIon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 26, 2006 | Permalink | Comments (0)&lt;br /&gt;cinta = power&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Knapa hadirmu buatku gundah&lt;br /&gt;Knapa senyummu buatku gelisah..&lt;br /&gt;Perasaan yg buat ku tampak bodoh&lt;br /&gt;Karena menjadi manusia yg tak pernah&lt;br /&gt;Paham akan cinta…&lt;br /&gt;Bedakah orang yg hanya tahu&lt;br /&gt;Dan orang yg merasakan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak mata ini terarah pada raut muka nan jelita&lt;br /&gt;Dibalut kerundung panjang nan suci&lt;br /&gt;Datanglah kekuatan ini&lt;br /&gt;Bernaung dibawah syariahMU&lt;br /&gt;Menambah indah nikmatMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ALLAH&lt;br /&gt;Pemilik segala cinta hakiki&lt;br /&gt;Engkau dan rasulMU adalah lebih kucinta dari apapun&lt;br /&gt;Jangan biarkan ku terbuai dalam angan indah yg blum terwujud&lt;br /&gt;Jadikanlah rasa ini kekuatanku&lt;br /&gt;Menjalankan sunnahNya&lt;br /&gt;Mebentuk kluarga yg sakinah&lt;br /&gt;Membentuk majelis yg slalu zikir padaMU&lt;br /&gt;Membentuk negara yg berazaskan AL-Qur’an dan ASsunnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ku sadar&lt;br /&gt;Kaulah setengah agamaku&lt;br /&gt;Kan kubuktikan akulah yg pantas dapat cinta sucimu&lt;br /&gt;Tunggu aku&lt;br /&gt;Bersama kita slalu sampai surga&lt;br /&gt;AMIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 26, 2006 | Permalink | Comments (0)&lt;br /&gt;MENGAPA WANITA MUDAH MENANGIS ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGAPA WANITA MUDAH MENANGIS ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. ? Ibu, mengapa Ibu menangis ??. Ibunya menjawab, ? Sebab aku wanita?. ? Aku tidak mengerti ? kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. ? Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti ? ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. ? Ayah, mengapa Ibu menangis ?, ibu menangis tanpa sebab yang jelas ? sang Ayah menjawab, ? Semua wanita memang sering menangis tanpa alasan ?. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kemudian si anak itu tumbuh menjadi remaja, ia tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Hingga pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, ? Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mimpinya ia merasa seolah Tuhan menjawab, ? saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mmapu menhan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walaupun kerap berulang ia menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada wanita, Kuberikan kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan sistuasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan membrikan kenyamanan sat didekap dengan lembut olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agat tidak terkoyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tidak pernah melukai istrinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling menlengkapi dan salaing menyayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapan pun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan. ( Zuriati ibrahim From Milist Ingatan, Copy right by www. Eramuslim.com/artikel )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why man don't cry...??!!&lt;br /&gt;(saingannya neech.....)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Seorang Ayah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak wanita itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?" Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda. Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu bergumam : "Aku tidak mengerti." Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, yang membuat anak wanita itu tambah kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya kepada Ibunya : "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar bertanggung-jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban sang Ibu. Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini. "Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai&lt;br /&gt;hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesame saudara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh anak-anaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang setia terhadap Suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup didalam keluarga bahagia dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-laki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh Laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri kamar Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya. "Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari temen dudunger yang blm mau diketahui identitasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 26, 2006 | Permalink | Comments (0)&lt;br /&gt;Buat Para Ukthi ku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Para Ukthi ku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu memang melelahkan jiwa, pangeran yang di nanti pun entah di mana gerangannya. Namun…tidaklah sebanding artinya kalau kau gadaikan aqidah hanya karena gundah gulana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kakanda kelak juga ada di surga? Mengapa tak tunggu saja ia datang berkereta kencana bertahta emas permata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kesepian memang kadang menyakitkan, menoreh setiap senyum dan tawa, serta menciptakan riak anak sungai di sudut mata. sedih dan pedih silih berganti kunjung mengunjungi. Pupus segala harap, melukai semua impian kadang memabukkan. hinggá, jiwa yang rapuh menciptakan serpihan kegelisahan yang memilukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat temaram rembulan menyuguhkan hidangan, terlintas sekelebat bayang, di sibaknya kegelapan, Namun entah dimana ia berada. Kecewa, hinggá guratan keresahan menyibakkan kelamnya malam. Kebisuan yang menusuk-nusuk membuat kedukaan semakin berat, bahkan menghujamkan akal dan aqidah. Air mata semakin deras tumpah, lelah tubuhpun mencoba rebah. Namun jiwa ini lemah, bening air yang coba di bendungnya kembali menerobos kelopak mata, ke pipi, hinggá membasahi sarung bantal dan kapuk di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta…entah berapa banyak pahlawan yang tercipta karenanya, Namun cinta juga kadang melahirkan para pecundang. Ia laksana kobaran api yang berasal dari setitik bara, menyuluh, Namun dapat pula membakar. Impian karena cinta membuat hati dan raga di selimuti bahagía, memompa harapan yang keluar masuk melalui butiran darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengharapkan belahan jiwa yang Siap mendampingi saat tawa dan air mata, hinggá terbentang siluet istimewanya seorang wanita yang telah menikah, mengandung, dan melahirkan si kecil dengan selimut kasih sayang, penuh luapan cinta. Namun, impian berbeda dengan kenyataan, sepi semakin menggerogoti hari, sendiri dan masih saja sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai belahan hati, entah dimana kakanda bersembunyi, cinta dan impian untuk membentuk sebuah keluarga memang begitu indah. Namun tatkala ia Belum menyapa janganlah membuat gundah dan resah, bahkan merubah pandangan pada Sang Pemilik Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegelisahan jangan pula membuatmu menggadaikan aqidah, karena sungguh itu harta yang tak ternilai harganya. Tak ada yang dapat membelinya, apalagi dengan basa-basi cinta yang menyelubungi halleluyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta membara tak akan menghapus ketentuan ALLAH SWT, “dan Janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman…(Al Baqaráh: 221)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta akan membentuk sebuah keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah karena kesamaan iman dan aqidah, dalam naungan ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan biarkan sedikitpun celah hatimu terbuka dengan cinta berselubung halleluyah, karena itu akan meranggas aqidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan dengan keyakinan berbeda, tak akan melahirkan ketentraman jiwa, karena ia adalah zina. Kelak dapatkah engkau menjawab saat anakmu bertanya mengapa ayah selalu pergi hari minggu, sedang dirimu rukuk dan sujud? Bisakah engkau menjelaskan saat anak laki2 mu bertanya, mengapa ayah tidak mengahadiri sholat jum’at padahal dirimu berbicara panjang lebar tentang kewajiban menunaikannya? Atau, mengapa ayah tidak mengucapkan bismillah tapi atas nama Bapa, Putera dan Roh Kudus? Juga mengapa Tuhan ayah ada 3 sedangkan dirimu sellau berucap ahad..ahad.. ahad…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampukah engkau menjelaskan semua itu dan banyak pertanyaan lagi dari buah hatimu? Bahkan sanggupkah engkau menahan murkanya Allah SWT?. Duhai jiwa yang lelah…saat tanya beruntun mengetuk jiwa, dimanakah gerangan Kakanda berada, kembalilah pada Sang Pemilik Rahasia. Lantunkan munajat dan do’a. mohon tetapkan iman untuk selalu terhatur pada-Nya. Jadikan hati ini selalu ikhlas serta rela atas semua keputusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As’alukallahumarridh a ba’dal qadha, wa burdal’iisyi ba’dal maut, wa ladzdzatan nazhori ila wajhika, wa syauqon ila liqaa’ika. Ya Allah aku mohon kerelaan atas setiap keputusanMu, kesejukan setelah kematian, dan kelezatan memandang wajahMu serta kerinduan berjumpa denganMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohonkan juga kepadaNya, agar ia menguatkan niat dan azzam kepada lelaki yang Belum menikah untuk segera menyempurnakan setengah agama, sehingga dirimu serta pasangan jiwa tercinta dapat bersama membangun istana kecil nan indah dalam naungan ridho-Nya. Sabar dan besarkan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah Allah SWT menakdirkan dirimu sebagai lajang di dunia fana, yakinlah di surga ada kakanda yang setia menunggu hinggá saatnya tiba. Kuatkan hati, tegar dan selalu tegar, karena dirimu memiliki harta yang tak ternilai harganya, ialah AQIDAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahua’lam bi shawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: K. Motivasi Rohani DT jkt&lt;br /&gt;By. Ust. Asyam Abdul Fattah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 26, 2006 | Permalink | Comments (0)&lt;br /&gt;IBU..., CERITAKAN AKU TENTANG IKHWAN SEJATI...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IBU..., CERITAKAN AKU TENTANG IKHWAN SEJATI...&lt;br /&gt;dari Indrianti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang remaja pria bertanya pada ibunya: Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ibu tersenyum dan menjawab... Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah... Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahdapi lika-liku kehidupan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....setelah itu, ia kembali bertanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ibu memberinya buku dan berkata.... "Pelajari tentang dia..." ia pun mengambil buku itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"MUHAMMAD", judul buku yang tertulis di buku itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 26, 2006 | Permalink | Comments (0)&lt;br /&gt;About&lt;br /&gt;Syndicate this site (XML)&lt;br /&gt;Powered by Friendster Blogs&lt;br /&gt;About Us | Contact Us | Events | Promote My Profile | Help | Terms of Service | Privacy Policy&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-248015734108851225?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/248015734108851225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=248015734108851225' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/248015734108851225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/248015734108851225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/07/kekuatan-cinta-terhadap-seorang-wanita.html' title='KEKUATAN CINTA TERHADAP SEORANG WANITA'/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-7524900165558387166</id><published>2008-07-09T02:18:00.000-07:00</published><updated>2008-07-09T02:20:37.941-07:00</updated><title type='text'>Keredupan dinamika mahasiswa pada akhir decade 1990 –an</title><content type='html'>Mencermati pergerakan mahasiswa pada akhir dekade 1990-an, terdapat fenomena menarik. Terjadi pergeseran yang mendasar di kalangan mahasiswa, ditandai dengan menguatnya dugaan orientasi pragmatisme. Jargon globalisasi dalam konteks real  telah menimbulkan ‘shock’ bagi mahasiswa. Implikasinya, segenap aktivitas mahasiswa terfokus pada upaya percepatan proses studi dan nilai tinggi. Tujuannya tak lain supaya tidak tergusur dalam mendapatkan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semakin kuatnya orientasi pragmatisme tersebut, otomatis fungsi tridarma perguruan tinggi makin ter-gradasi. Pun, kampus sebagai lembaga riset dan pengabdian masyarakat  akan  diaplikasikan sebatas fomalitas ‘an sich’. Seperti penerapan KKN yang aktivitasnya  dari tahun ke tahun tidak jauh berbeda.  Riset yang diharapkan mampu mereproduksi ide – ide segar yang mampu di terapkan dalam membantu kehidupan masyarakat juga masih belum mampu mengangkat harkat dan martabat masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai komunitas ilmiah dan terdidik, sebenarnya mahasiswa dapat diposisikan sebagai pilar utama dalam pembangunan bangsa. Lingkungan kampus mestinya telah menciptakan proses peningkatan kesadaran sehingga mahasiswa juga mempunyai kesadaran sosial dan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat. Eksistensi mahasiswa dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara harus mencerminkan nilai idealisme yang seharusnya sudah ‘given’ dengan status kemahasiswaannya. Yakni, nilai kritis, akdemis, rasional, obyektif, berani, dan mempunyai tanggung jawab sosial untuk kepentingan rakyat. Idealisme inilah yang seharusnya dirawat secara terus menerus bagi perkembangan karakter  seorang mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi sekarang ini ada beberapa persoalan yang hadir di tengah – tengah kehidupan mahasiswa dan lingkungan universitas. Pertama, dengan meningkatnya kuantitas mahasiswa menyebabkan  posisi mahasiswa dalam dua ‘mainstream’ yakni ; (1) kelompok pragmatis yang mengkonsentrasikan diri pada pengembangan pengetahuan teknis dan skill mengikuti kebutuhan pasar kerja; (2) kelompok idealis yang masih mempunyai rasa tanggung jawab sosial terhadap problema kebangsaan, disamping tidak meninggalkan kebutuhan alam modern dalam membekali diri dengan kemampuan teknis. Kedua hal tersebut merupakan representasi mahasiswa era sekarang. Uang menempatkan  potret pada dimensi yang tidak utuh dan tidak unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dinamikan dalam proses ‘powerless’. Dalam artian dinamika yang tidak menstimulir  adanya kesadaran kritis mahasiswa secara massif dalam mendorong transformasi  sosial. Ini disebabkan antara lain eksistensi organisasi intra kampus tidak fungsional akibat lingkungan kampus yang tidak kondusif. Disamping itu, gerakan mahasiswa yang dilakukan organisasi ekstra kampus tidak mampu mendorong terciptanya dinamika di internal kampus akibat sistem dan SDM yang tidak produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa solusi yang bisa diajukan untuk menjawab problema diatas antara lain. Pertama, lingkungan kampus harus mendidik mahasiswanya agar mempunyai kepribadian sebagai manusia Indonesia yang mempunyai kesadaran dan tanggung jawab sosial, dan keharusan untuk mempunyai keahlian dalam menjawab kebutuhan alam modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kader bangsa, kepedulian terhadap problema masyarakat mesti di pupuk sejak dini. Kepedulian yang tinggi dimaksudkan agar ketika dipercayakan padanya memegang posisi strategis  tertentu, maka kebijakan yang diambil akan senantiasa mempertimbangkan kepentingan Publik ( masyarakat ) . Lain halnya jika sifat pragmatisme telah melembaga pada mahasiswa, mugkin kebocoran 30 % sebagaimana yang disinyalir oleh Sumitro akan semakin besar sehingga merugikan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, organisasi intra kampus ( SMPT, BPM,UKM ) harus mengembangkan sikap independen dalam bersikap, berpikir dan berbuat. Sikap independensi ini harus ditopang oleh civitas akademika yang lain. Pimpinan perguruan tinggi harus memberikan kebebasan berapresiasi dan berkreasi bagi mahasiswanya. Dengan kondisi ini akan mendorong lingkungan kampus mempunyai dinamika yang sehat antar civitas akademika. Disamping itu, kampus sebagai laboratorium pendidikan manusia Indonesia  masa depan, harus mempunyai kemampuan lebih daalm melahirkan manusia unggul dan berkualitas, dengan menciptakan sistem dan budaya kampus yang mendorong kreatifitas dan inovasi mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sikap independen, potensi mahasiswa akan berkembang. Tanpa itu, mahasiswa akan selalu terkekang dan terbelenggu, sehingga keberadaan mereka menjadi semu. Impian – impian masyarakat bahwa mahasiswa sebagai calon intelektual, inovator, dan  motivator  hanya menjadi simbol – simbol  belaka. Namun, sikap independensi itu bukan hanya diwujudkan dalam konteks demonstrasi. Sebab semakin modern peradaban, maka tingkat rasionalitas manusianya akan makin meningkat. Oleh karena itu budaya yang dikembangkan haruslah hubungan dialogis dan mitra sejajar. Budaya konfrontatif pada akhirnya akan menimbulkan dampak destruktif  terhadap sistem yang dibangun. Persoalannya, bagaimana semua pihak mampu saling menghargai dan saling memahami  hak dan kewajibannya sebagai makhluk ciptaan-Nya. Sehingga pada akhirnya, sifat kritis mahasiswa tidak hanya sepihak, tetapi juga meliputi semua dimensi, termasuk kritis terhadap apa yang dilakukan mahasiswa sendiri. Toh, kalau memang tidak bisa berbuat apa – apa, mbok ya jangan menyalahkan orang lain. Bersikap sportif terhadap realitas yang ada, katakan benar bila memang benar, dan jangan ragu menyatakan salah bila memang kenyataannya memang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, organisasi ekstra kampus harus memiliki keberanian untuk mendinamisir kampus dengan menawarkan berbagai program yang mampu memenuhi tuntutan real mahasiswa masa kini  dan masa depan. Alienasi organisasi ekstra kampus  dengan kampus itu sendiri harus segera diantisipasi, yaitu dengan memberikan kebebasan berpartisipasi dalam organisasi di dunia kampus. Deregulasi kebijakan yang mengekang kebebasan mahasiswa harus segera dilakukan, rasa takut pemerintah dan pimpinan perguruan tinggi harus mampu meminimalisir dinamika kampus yang destruktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah digusur dari kampus, maka komunitas anggota organisasi ekstra makin lama makin menurun, kecuali bagi perguruan tinggi tertentu yang mewajibkan mahasiswa mengikuti kegiatan ekstra kurikuler. Implikasinya, beraktifitas di ekstra kampus hanya untuk memperoleh sertifikasi sebagai syarat mangikuti ujian akhir ( kompetensi). Hasilnya, tingkat kesadaran untuk menimba pengalaman dan meningkatkan kualitas menjadi rendah, sebab semuanya dinilai hanya untuk mendapatkan sertifikasi formal, alias piagam, sertifikat, dan surat SK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah ini berlanjut? Kiranya perla sebuah kesadaran baru bagi mahasiswa, bahwa keikutsertaannya dalam berbagai aktifitas bukanlah untuk memperoleh sertifikasi  untuk mencapai jumlah sks tertentu, tetapi keaktifannya adalah untuk meningkatkan sifat kritisnya. Implikasi lain, kalau hanya dilatarbelakangi untuk memperoleh sertifikasi, sikap kritis dalam setiap evaluasi perjalanan organisasi tak lebih dari ‘personal interesting’ dan jauh dari semangat konstruktif. Inilah kiranya, yang menjadi sebab utama organisasi selalu terjebak dalam problematika internalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai generasi muda, tuntutan masa depan makin berat. Pilar – pilar dan fundamen yang telah diletakkan oleh generasi terdahulu dan sekarang, hal itu mesti  dijawab dengan upaya membangun “dinding dan atap” yang  tepat dan berkualitas. Kalau tidak, tentu pilar – pilar tersebut akan dijadikan wadah baru yang lebih megah dan memiliki prospek cerah sebagai lahan bisnins. Sebab pondasinya yang kokoh akan membuat ‘bussinessman’ tergiur. Akankah kita biarkan pilar – pilar tersebut terbengkalai atau diambil pihak lain? Kiranya perlu dibuat format baru kebangkitan generasi muda dalam kiprahnya memasuki abad 21 ini. Tentu format tersebut adalah dengan tetap berlandaskan pada penegakkan nilai – nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori: Mahasiswa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERMINOLOGI PT&lt;br /&gt;Perguruan tinggi adalah sebuah institusi yang tidak sekedar untuk kuliah, mencatat pelajaran, pulang dan tidur. Tapi harus dipahami bahwa perguruan tinggi adalah tempat untuk penggemblengan mahasiswa dalam melakukan kontempelasi dan penggambaran intelektual agar mempunyai idealisme dan komitmen perjuangan sekaligus tuntutan perubahan.&lt;br /&gt;Penggagasan terhadap terminologi perguruan tinggi tidak akan bisa dilepaskan bisa dilepaskan dari suplemen utama, yaitu mahasiswa. Stigma yang muncul dalam diskursus perguruan tinggi selama ini cenderung berpusat pada kehidupan mahasiswa. Hal ini sebagai konsekuensi logis agresitivitas mereka dalam merespon gejala sosial ketimbang kelompok lain dari sebuah sistem civitas akademika.&lt;br /&gt;Akan tetapi fenomena yang berkembang menunjukkan bahwa derap modernisasi di Indonesia dengan pembangunan sebagai ideologinya telah memenjarakan mahasiswa dalam sekat institusionalisasi, transpolitisasi dan depolitisasi dalam kampus. Keberhasilan upaya dengan dukungan penerapan konsep NKK/BKK itu, pada sisi lain mahasiswa dikungkung dunia isolasi hingga tercerabut dari realitas sosial yang melingkupinya. Akibatnya, mahasiswa mengalami kegamangan atas dirinya maupun peran-peran kemasyrakatan yang semestinya diambil. Mahasiswapun tidak lagi memiliki kesadaran kritis dan bahkan sebaliknya bersikap apolitis.&lt;br /&gt;Melihat realitas seperti itu maka perlu ditumbuhkan kesadaran kritis mahassiwa dalam merespon gejala sosial yang dihadapinya, karena di samping belum tersentuh kepentingan praktis, mahasiswa lebih relatif tercerahkan (well informed) dan potensi sebagai kelompok dinamis yang diharapkan mampu mempengaruhi atau menjadi penyuluh pada basis mayarakat baik dalam lingkup kecil maupun secara luas. Dengan tataran idela seperti itu, semestinya mahasiswa dapat mengambil peran kemasyrakatan yang lebih bermakna bagi kehidupan kampus dan mayarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAN STRATEGIS MAHASISWA&lt;br /&gt;Dalam proses perubahan sosial dan kebudayaan mahasiswa memiliki posisi dan peranan yang essensial. Ia sebagai transformator nilai-nilai dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya. Dan merintis perubahan dalam rangka dinamisasi kehidupan dalam peradaban yang sedang berjalan.&lt;br /&gt;Kalau kita percaya kalao masa kini adalah proses masa lalu yang mendapat pengaruh dari cita-cita masa depan, maka kedudukan dan peranan mahasiswa sebagai transformator nilai dan inovator dari perkembangan yang berorientasi ke masa depan lebih jelas, bahwa mahasiswa harus menjadi semangat yang hidup dalam nilai-nilai ideal, dan membangun subkultur serta berani memperjuangkan.&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari intelektual community mahasiswa menduduki posisi yang strategis dalam keterlibatannya melakukan rekayasa sosial menuju independensi masyarakat, dalam aspek ekonomi, politik, sosial dan budaya. Dalam posisinya sebagai komunitas terdidik, mahasiswa sebagai salah satu kunci penentu dalam transformasi menuju keadilan dan kemakmuran bangsa. Di samping dua kelompok strategis lainnya yaitu kaum agamawan dan masyarakat sipil (Madani) yang mempunyai kesadaran kritis atas situasi sosial yang sedang berlangsung sast ini.&lt;br /&gt;Posisi mahasiswa secara sederhana bisa kita gambarkan sebagai sosok yang barada di tengah-tengah level. Di masyarakat menjadi bagian masyarakat, di kalangan intelektual mahasiswa juga dianggap berada diantara mereka. Dengan kata lain keberadaan mereka berada di tengah-tengah level apapun mempunyai nilai strategis. Nilai strategis lain mahasiswa menurut Arbi Sanit adalah mahasiswa sebagai komunitas strategis dalam proses perubahan, lihat skema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan melakukan perubahan:&lt;br /&gt;EMPAT KEKUATAN&lt;br /&gt;Sebagai langkah taktis dan preferensi pengembangan ke depan, mahasiswa harus memiliki 4 kekuatan :&lt;br /&gt;1. kekuatan moral&lt;br /&gt;2. kekuatan kontrol sosial&lt;br /&gt;3. kekuatan intelektual&lt;br /&gt;4. kekuatan profesional&lt;br /&gt;oleh karena itu mahasiswa harus berani mengambil peran-peran strategis tersebut di atas. Sebagai kekuatan moral dan kontrol sosial, mahasiswa harus mampu benrsentuhan aksi-aksi pembelaan kaum tertindas. Pada tataran mikro secara aktif menjadi kelompok penekan (pressure group) terhadap kebijakan refresif di tingkat kampus. Pada tingkat makro, mampu melakukan advokasi terhadap masyarakat yang terpinggirkan seperti nelayan, buruh, petani, anak jalanan, dan PSK.&lt;br /&gt;Sebagai kekuatan intelektual mahasiswa harus mampu melakukan pengembangan dan pembangunan komunitas intelektual (inteletual community) dengan melakukan kajian-kajian strategis dan membentuk kelompok-kelompok studi sebagai basis pembentukan reading and intelektual society dan penciptaan kultur akademis dengan menciptakan hubungan yang lebih egaliter antara dosen dan mahasiswa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-7524900165558387166?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/7524900165558387166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=7524900165558387166' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/7524900165558387166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/7524900165558387166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/07/keredupan-dinamika-mahasiswa-pada-akhir.html' title='Keredupan dinamika mahasiswa pada akhir decade 1990 –an'/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-518065681955919414</id><published>2008-07-09T02:12:00.000-07:00</published><updated>2008-07-09T02:16:00.095-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Mahasiswa dam Tanggung Jawab Intelektual Muda     Buat halaman ini dlm format PDF      Cetak halaman ini      Kirim halaman ini ke teman via E-mail&lt;br /&gt;Rabu, 20 September 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah mendengar ungkapan  bahwa “mahasiswa sebagai “agent of change”? Selintas ungkapan ini mengingatkan kita pada kilasan sejarah heroisme mahasiswa yang menentang tirani dimasa pra kemerdekaaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat dengan Sarekat Priyayi, Boedi Otomo, Sarekat Islam, Indische Party, Perhimpunan Indonesia, dsb. Organisasi-organisasi ini pada masa pra kemerdekaan merupakan pilar pergerakan yang berjasa merintis kemerdekaan.&lt;br /&gt;Dan Tirtoadhisuryo, Soetomo, Muhammad Misbach, Douwes Dekker, dsb adalah tokoh intelektual penggeraknya. Mereka adalah aktor sejarah yang berani dengan tegas mengambil peran sebagai subyek yang menggerakkan sejarah sekaligus agen dari perubahan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu titik singgung yang menjadi latar realitas yang membentuk kesadaran dari para aktor sejarah ini, mereka dibentuk oleh keadaan sosialnya yaitu penjajahan dan penindasan kolonialisme. Dengan kata lain pengetahuan yang mereka dapatkan sebagai bagian dari dialektika intelektual mampu dipraktekkan pada ranah sosial yang sesungguhnya. Sehingga pengetahuan yang dihasilkan merupakan sebuah kerja praktek sosial. Pengetahuan yang lahir dari sebuah teori kemudian harus berperan sebagai pendukung praktek. Prakteklah yang kemudian menciptakan pengetahuan sekaligus menguji apakah pengetahuan yang kita miliki benar dan ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kancah pergerakan pra kemerdekaan sesungguhnya ruang praktek bagi tokoh pergerakan pada zamannya. Mereka tidak pernah melihat teori terpisah dengan prakteknya. Mereka adalah intelektual kampus yang berani keluar dari sekat pengetahuan teoritis dan mengabdi kepada masyarakatnya (baca: praktek). Ungkapan mahasiswa sebagai agent of change bukanlah sebuah retorika biasa, yang hanya digunakan sebagai pemanis kata di forum-forum ospek. Kemudian menguap seiring berjalannya waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan ini mengandung sebuah tuntutan tanggung jawab kepada “kaum muda kampus”.  Bahwa seorang mahasiswa memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar, jauh menembus tembok-tembok tebal kampus dan melompati himpitan ruang-ruang kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori, sekali lagi bukan hanya sekedar bacaan yang kita diskusikan diruang kelas akan tetapi sebuah bentuk penghayatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang mengkristal menjadi semangat perlawanan terhadap semua bentuk ketidakadilan dan pembelaan kepada setiap kelompok yang tergolong rentan dan rawan agar terhindar menjadi korban penindasan dan penganiayaan.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tanggung jawab kesejarahan ini (masih) menjadi hak mahasiswa? Jawabannya, karena mahasiswa adalah insan kampus dengan tanggung jawab intelektualisme yang masih tergolong murni di antara kelompok intelektual lainnya. Meskipun secara kuantitas berjumlah kecil akan tetapi memiliki sumber daya yang  besar sebagai modal dalam melakukan koreksi dan perubahan terhadap segala bentuk gejala dan perilaku yang menindas.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persfektif Gramcyan karakter intelektual setidaknya dibedakan menjadi dua tipologi dan orientasi yakni intelektual tradisional dan intelektual organik, yang masing-masing memiliki karakter dan orientasi yang berseberangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intelektual tradisional memiliki karakter menjilat dengan orientasi diseputar kekuasaan dan cenderung menjadi alat legitimasi kekuasaan, sebalikya intelektual organik merupakan karakter intelektual yang memiliki visi kerakyatan, yang bergerak dan bertindak dengan suara dan kepentingan rakyat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berlebihan sekiranya apabila kita katakan bahwa mahasiswa merupakan karakter yang mewakili tipologi yang kedua ini, mengingat peran kesejarahan yang selama ini dimainkan dalam setiap momentum perubahan sosial di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh pada periode pra kemerdekaan sesungguhnya figur yang berhasil dalam menjalankan misi intelektualisme tersebut, dengan menempatkan teori yang mendukung praktek dalam kerja-kerja sosial mereka pada zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab mahasiswa sebagai pemegang amanat intelektualisme kaum muda sekali lagi menempatkan mahasiswa tetap pada posisi strategis untuk menggawangi perubahan di negeri ini, tinggal bagaimana kelompok “minoritas” ini mampu menyabut amanah yang pernah diberikan kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang pernah dikatakan oleh Tan Malaka, “ jangan pernah kalian sebut kami sebagai pahlawan, ketika apa yang telah kami lakukan tidak dapat kalian teruskan.” Mudah mengatakannya bukan…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikan Tri Darma Perguruan Tinggi Sebagai Landasan Pijak&lt;br /&gt;Refleksi Gerakan Pemuda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak,-  Gerakan mahasiswa/pemuda semakin mengalami pergeseran yang sangat bertentangan dengan fakta sejarahnya dan idealitasnya. Banyak mahasiswa yang tidak lagi menjadikan Tri Darma Perguruan Tinggi sebagai landasan pijak dalam segala aktifitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemuda/mahasiswa telah lupa dengan khitahnya, yakni sebagai inisiator perubahan bangsa. Pemuda semakin terkontaminasi dengan budaya-budaya berpikirnya orang-orang borjuis,” kata Ketua I PMII Kota Pontianak, Muhaimin menyampaikan hasil diskusi refleksi akhir tahun gerakan pemuda yang diselenggarakan di sekretariatnya belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, pola pikir borjuis itu bisa dilihat dari watak-watak hedonis, pragmatis, individualis bahkan oportunis yang semakin merasuki cara berpikir pemuda/mahasiswa. Sehingga, idealitas seorang pemuda yang sesungguhnya menjadi kelompok perubah sosial menjadi semakin hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penyakit-penyakit berpikir tersebut dapat kita lihat pada realitas kehidupan pemuda/mahasiswa. Dalam hal ini kita bisa melihat gerakan mahasiswa yang semakin mengalami pergeseran yang sangat bertentangan dengan fakta sejarahnya dan idealitasnya. Bahwa mahasiswa idealnya harus menjadikan Tri Darma Perguruan Tinggi sebagai landasan pijak dalam segala aktifitasnya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam Tri Darma Perguruan Tinggi, seorang mahasiswa idealnya adalah “Belajar, Mengabdi, Meneliti”. Ketiga item tersebut pada saat ini, menurut Muhaimin, justru malah banyak diselewengkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, “Mahasiswa bukannya mengabdi pada rakyat, justru sebaliknya aktivis mahasiswa malah mengabdi dengan penguasa. Mahasiswa asik dengan perselingkuhannya dengan penindas, dan lebih suka menjadi budaknya para diktator. Celakanya hal ini semakin di legalkan hampir seluruh kaum pemuda/mahasiswa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Kembali Dinamika Gerakan Mahasiswa&lt;br /&gt;Oleh: Adie Usman Musa[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan mahasiswa di tanah air, terutama sejak awal abad ke dua puluh, dilihat tidak saja dari segi eksistensi mereka sebagai sebuah kelas sosial terpelajar yang akan mengisi peran-peran strategis dalam masyarakat. Tetapi, lebih dari itu mereka telah terlibat aktif dalam gerakan perubahan jauh sebelum Indonesia merdeka. Sebagai anak bangsa yang secara sosial mendapat kesempatan lebih dibandingkan dengan saudaranya yang lain, mahasiswa kemudian menjadi penggerak utama dalam banyak dimensi perubahan sosial politik di tanah air pada masanya. Aktivitas mahasiswa yang merambah wilayah yang lebih luas dari sekedar belajar di perguruan tinggi inilah yang kemudian populer dengan sebutan “gerakan mahasiswa”.&lt;br /&gt;Dengan demikian, gerakan mahasiswa merupakan sebuah proses perluasan peran mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat. Adanya gerakan mahasiswa dengan perannya yang signifikan dalam perubahan secara langsung akan membongkar mitos lama di masyarakat, bahwa mahasiswa selama ini dianggap sebagai bagian dari civitas akademika yang berada di menara gading, jauh dari persoalan yang dihadapi masyarakatnya. Disinilah letak pentingnya sebuah gerakan dibangun, yakni untuk secara aktif dan partisipatif berperan serta dalam proses perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Selain itu, sebuah gerakan yang dibangun juga akan meningkatkan daya kritis mahasiswa secara keseluruhan dalam melihat berbagai persoalan yang tengah dihadapi masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun internasional.&lt;br /&gt;Sejarah menunjukkan bahwa selain aktivitas gerakan yang berupa tuntutan-tuntutan terhadap persoalan internal sebuah perguruan tinggi, gerakan mahasiswa juga mampu menemukan momentum-momentum besar yang menyebabkan keterlibatannya dalam perubahan politik nasional menjadi sangat penting. Setelah gerakan pada masa pra kemerdekaan, gerakan mahasiswa tahun 1966 yang meruntuhkan Orde Lama dan menopang lahirnya Orde Baru hingga gerakan penggulingan rejim orde tersebut pada 1998 lalu menunjukkan peran mahasiswa yang signifikan dalam perubahan sosial politik di tanah air. Sebenarnya bangsa Indonesia mempunyai tradisi meromantiskan kehidupan kaum muda dan mahasiswa. Hal ini terlihat dari cara kita memandang sejarah modern bangsa kita, dengan membaginya dalam periode-periode waktu menurut momentum-momentum besar yang melibatkan pemuda dan mahasiswa dalam perubahan nasional. Periodisasi sejarah gerakan mahasiswa dan pemuda Indonesia dalam angkatan-angkatan 1908, 1928, 1945, 1966, dan seterusnya hingga 1998 juga bisa diartikan sebagai pengakuan terhadap peran sentral mahasiswa dalam perkembangan dan perubahan perjalanan bangsa. Namun demikian, ada tidaknya “prestasi sejarah” tersebut tidak menjadi indikator utama keberhasilan gerakan mahasiswa. Karena pada dasarnya, gerakan mahasiswa merupakan proses perubahan yang esoterik. Ia akan terwujud dalam sebuah idealisme dan cita-cita gerakan dalam menciptakan sebuah masyarakat yang lebih baik dan lebih adil.&lt;br /&gt;Harus diakui, mahasiswa hanyalah salah satu aktor yang terlibat dalam setiap momentum perubahan yang terjadi. Walaupun demikian, gerakan mahasiswa dalam setiap kurun sejarah selalu mampu menempatkan dirinya menjadi aktor utama yang berada di garda depan perubahan. Hal ini yang membedakan mahasiswa dengan aktor perubahan lainnya, seperti kalangan cendekiawan, politisi, militer, dan elemen masyarakat lainnya. Keadaan ini sangat dimungkinkan karena posisi mahasiswa yang dianggap netral dan belum bersentuhan langsung dengan berbagai kepentingan politik praktis. Selain itu, sebagai kaum muda yang masih belum mempunyai ketergantungan dan tanggung jawab ekonomi kepada keluarga serta posisi mereka sebagai calon intelektual, maka peran sebagai penggagas ide awal, baik di tingkat praksis maupun wacana, menjadi sangat signifikan. Tetapi, banyak studi menyebutkan bahwa kondisi psikologis mereka sebagai kaum muda yang dinamis dan anti kemapanan serta rasa percaya diri yang tinggi sebagai mahasiswa, menjadi faktor penting dalam menempatkan mahasiswa di garda depan perubahan. Sementara elemen lain dalam masyarakat sering hanya menjadi kelompok pengikut (kelompok kesiangan), setelah perubahan berlangsung.&lt;br /&gt;Munculnya kelompok kesiangan ini bisa dimaknai sebagai konsekuensi dari setiap perubahan sosial politik. Kalau gerakan mahasiswa merupakan bagian dari sebuah proses inovasi dalam perubahan sosial, Hadley Read (1979) mengatakan bahwa biasanya untuk menerima suatu inovasi, ada kelompok pelopor (earlier adopters) yang jumlahnya sedikit. Mahasiswa dan sebagian kecil komponen masyarakat lainnya masuk dalam kelompok ini. Setelah kelompok pelopor melakukan sosialisasi dalam waktu tertentu, barulah muncul “kelompok kesiangan” (later adopters) yang jumlahnya jauh lebih besar. Lantas tersisa kelompok kecil yang menolak sama sekali inovasi yang sudah memasyarakat itu. Mereka termasuk dalam kelompok pendukung status quo (non adopters). Kelompok terakhir ini biasanya selalu menjadi penghambat dalam setiap perubahan sosial yang tengah berlangsung. Mereka adalah kelompok masyarakat yang selama ini sudah hanyut dalam kenikmatan dari sebuah sistem yang menguntungkan mereka. Kelompok ini juga yang diidentifikasi oleh mahasiswa sebagai musuh mereka.&lt;br /&gt;Klasifikasi Read di atas tidak hanya berlaku umum dalam masyarakat ketika perubahan berlangsung, ia juga terjadi dalam tubuh mahasiswa sendiri. Di kalangan mahasiswa juga terdapat mahasiswa yang menempatkan dirinya pada posisi earlier adopters. Mereka adalah kelompok minoritas di kalangan mahasiswa. Mereka biasanya diidentifikasi dengan sebutan “aktivis mahasiswa”. Namun, sebagian besar mahasiswa biasanya menjadi kelompok later adopters, bahkan tidak sedikit yang menjadi pendukung status quo. Hanya saja, pendukung status quo di kalangan mahasiswa bukanlah “musuh” dalam dalam arti yang sebenarnya dalam sebuah gerakan dibandingkan dengan kelompok yang sama di masyarakat umum. Kelompok mahasiswa ini masih mudah untuk disadarkan akan pentingnya melakukan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Dengan demikian, peran sebagai garda depan perubahan—dalam arti sesungguhnya—pada dasarnya hanya layak disandingkan pada kalangan aktivis mahasiswa, tanpa mereduksi peran mahasiswa secara keseluruhan. Karena para aktivis mahasiswa inilah yang sebenarnya berperan di garda depan yang menggerakkan sebuah proses gerakan mahasiswa.&lt;br /&gt;Selain itu, intensitas sebuah sebuah gerakan dalam proses perubahan pada dasarnya dipengaruhi oleh dua kondisi, yakni pertama, kondisi subyektif, berupa hal-hal yang berkaitan dengan faktor internal mahasiswa seperti latar belakang sosial, ideologi dan idealisme yang terbangun. Dan kedua, kondisi obyektif, adalah tatanan sosial, politik dan ekonomi yang melingkupi proses gerakan. Umumnya, peran strategis mahasiswa akan menguat tatkala kedua kondisi ini secara signifikan dapat mendukung terjadinya momentum-momentum perubahan sosial politik. Kedua kondisi ini akan kita bicarakan lebih lanjut dalam bahasan di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivis dan Non Aktivis Mahasiswa&lt;br /&gt;Mengapa sebuah gerakan mahasiswa dapat berlangsung, dan siapa yang menggerakkannya? Pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sederhana, tapi tidak mudah untuk menjawabnya. Sarlito Wirawan Sarwono (1978) mencoba menjawab lebih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan gerakan mahasiswa tersebut dengan melakukan sebuah penelitian yang merupakan tesis doktoral pada Universitas Indonesia. Sarlito menggunakan istilah “gerakan protes” untuk menyebut aktivitas mahasiswa tesebut. Ia memulai risetnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengapa gerakan protes mahasiswa terjadi? Faktor-faktor apa yang menentukan timbulnya gerakan protes?&lt;br /&gt;2. Mahasiswa-mahasiswa manakah yang aktif berpartisipasi dalam gerakan-gerakan protes itu? Ciri-ciri psikologis apa yang membedakan mahasiswa-mahasiswa aktivis ini dari mahasiswa-mahasiswa non-aktivis lainnya?&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sebenarnya juga telah ada dalam penelitian lain yang lebih dahulu, yang juga mempersoalkan hal yang sama, seperti yang telah dilakukan oleh Altbach, Lipset, Keniston, Feuer, dan Shimbori. Namun demikian, penelitian-penelitian tersebut lebih banyak bersifat penelitian sosiologis, dan bukan penelitian psikologis dan belum ada satu pun yang dilakukan di Indonesia.&lt;br /&gt;Untuk membandingkan mahasiswa-mahasiswa yang pernah ikut dalam gerakan protes, Sarlito membagi mahasiswa dalam tiga jenis, yaitu:&lt;br /&gt;1. Aktivis: mahasiswa yang pernah ikut dalam suatu gerakan protes (minimum sekali)&lt;br /&gt;2. Pemimpin: mahasiswa yang pernah memprakarsai atau mengorganisir suatu gerakan protes (minimum sekali)&lt;br /&gt;3. Non-aktivis: mahasiswa yang tidak pernah ikut sama sekali dalam gerakan protes.&lt;br /&gt;Sedangkan gerakan protes itu sendiri dirumuskan sebagai tindakan menentang otoritas (pemerintah atau pimpinan perguruan tinggi) yang dilaksanakan tidak melalui saluran-saluran formal.&lt;br /&gt;Secara kuantitatif, terdapat perbedaan jumlah yang sangat mencolok antara pemimpin dan aktivis di satu pihak, dan non-aktivis di pihak lain. Dari seluruh responden (2.500 orang), 2,8% diantaranya tergolong pemimpin dan 5,4% dapat digolongkan aktivis. Sedangkan sisanya tergolong non-aktivis sebesar 91,8%. Data ini memberikan gambaran bahwa para aktivis dan pemimpin mahasiswa adalah kelompok minoritas di kampus dibandingkan dengan kalangan non-aktivis mahasiswa.&lt;br /&gt;Penelitian yang berangkat dari hipotesa deprivasi relatif Gurr menghasilkan analisis yang sangat menarik. Pemimpin mempunyai beberapa sifat yang sama dengan aktivis dan mempunyai beberapa sifat lain pula yang sama dengan non-aktivis. Tetapi antara aktivis dan non aktivis hampir tidak dapat ditemukan persamaan-persamaan. Nampaknya hal ini memang wajar, yaitu seorang pemimpin memerlukan simpati dan dukungan dari semua pengikutnya, yang dalam hal ini terdiri dari aktivis maupun non-aktivis. Sebaliknya, aktivis tidak selalu mempunyai persamaan dengan non-aktivis karena aktivis pada dasarnya bergiat menurut garisnya sendiri, tidak membutuhkan pengikut. Pemimpin dan aktivis sama-sama merasa lebih pandai dari mahasiswa lainnya, duduk di tingkat yang lebih tinggi, lebih tua, lebih berpengalaman, kritis dan agresif. Mereka datang dari the pattern setting group atau kelas menengah ke atas. Pemimpin dan aktivis relatif lebih banyak di perguruan-perguruan tinggi swasta dan kota-kota besar.&lt;br /&gt;Pemimpin berbeda dengan aktivis, ternyata lebih melihat kenyataan, lebih banyak mempertimbangkan realitas dari pada aktivis. Karena itu, pemimpin lebih bisa melihat hal-hal yang positif, tidak hanya melihat segi negatifnya saja dari sesuatu hal. Di lain pihak, aktivis lebih idealis dan dalam idealismenya itu ia cenderung melihat segala sesuatu serba tidak sempurna dan serba kurang memuaskan. Karena itu, ketidakpuasan aktivis lebih bertahan lama dan meluas mencakup segala hal, sedangkan ketidakpuasan pemimpin terbatas pada hal-hal tertentu saja dan hanya mengenai masalah-masalah yang prinsipil saja.&lt;br /&gt;Non-aktivis di lain pihak, tidak melihat banyak hal yang perlu dirisaukan di sekitarnya. Segala sesuatu berjalan baik, dan kalaupun ada hambatan yang bisa menghalangi studinya, maka hambatan itu datang dari dirinya sendiri yang merasa kurang mampu. Satu syarat lain yang perlu dipunyai oleh seorang pemimpin tetapi tidak diperlukan oleh seorang aktivis adalah kemampuan bicara, kemampuan persuasi dan keberanian mengambil resiko. Mahasiswa-mahasiswa dari suku bangsa tertentu yang mempunyai kemampuan-kemampuan ini ternyata memang lebih banyak mempunyai pemimpin gerakan protes mahasiswa.&lt;br /&gt;Adapun tempat-tempat persemaian yang baik untuk pembentukan aktivis dan pemimpin gerakan protes mahasiswa adalah badan-badan kemahasiswaan intra universitas seperti Dewan Mahasiswa, Senat Mahasiswa, Majelis Permusyawaratan Mahasiwa dan Pers Kampus. Sedangkan di kalangan organisasi mahasiswa ekstra universitas hanya organisasi-organisasi tertentu dan jabatan-jabatan tertentu saja yang cukup berarti bagi persemaian pemimpin dan aktivis gerakan protes mahasiswa. (Sarlito, 1978)&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, tesis Sarlito tersebut di atas cukup komprehensif, walaupun ada beberapa hal yang barangkali kurang relevan dengan kenyataan saat ini. Beberapa hal tersebut misalnya ia mengatakan bahwa para aktivis dan pemimpin mahasiswa lebih banyak muncul di perguruan-perguruan tinggi swasta. Dalam kenyataannya, tidak ada hubungan yang signifikan antara perguruan tinggi swasta dan negeri dalam melahirkan pemimpin dan aktivis mahasiswa. Pendapat lain yang perlu dikoreksi adalah tempat persemaian yang baik untuk para aktivis dan pemimpin mahasiswa adalah lembaga kemahasiswaan intra universitas. Pendapat ini memang relevan dengan kondisi tahun 1970-an dimana suasana dan daya tarik aktivitas intra kampus lebih menonjol dibandingkan kegiatan-kegiatan di lembaga ekstra universitas.&lt;br /&gt;Namun, sejak Dewan Mahasiswa dibubarkan di semua perguruan tinggi lewat SK Kopkamtib No. Skep 01/kopkam/1978 dan ditindaklanjuti dengan SK NKK/BKK oleh Mendikbud Daoed Yusoef maka lembaga kemahasiswaan intra universitas nyaris lumpuh. Kegiatan mahasiswa kemudian menjadi bagian dan berada dibawah kendali rektorat. Suatu proses yang tidak pernah membuat mahasiswa belajar berpolitik secara mandiri dan bertanggung jawab. Walaupun demikian, tesis Sarlito di atas cukup menjadi pijakan untuk melihat bagaimana kondisi subyektif yang membentuk mahasiswa menjadi seorang watak aktivis maupun non-aktivis. Demikian juga, kondisi tersebut secara signifikan berperan dalam tindakan protes, atau lebih luas lagi dalam sebuah gerakan mahasiswa secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya Gerakan Perubahan&lt;br /&gt;Secara teoritis, literatur-literatur ilmu politik menjelaskan beberapa pandangan yang menjadi penyebab lahirnya sebuah gerakan yang mengarah pada perubahan sosial. Pandangan pertama menjelaskan bahwa gerakan sosial itu dilahirkan oleh kondisi yang memberikan kesempatan (political opportunity) bagi gerakan itu. Pemerintah yang moderat, misalnya, memberikan kesempatan yang lebih besar bagi timbulnya gerakan sosial ketimbang pemerintahan yang sangat otoriter. Kendala untuk membuat gerakan di negara yang represif lebih besar dibandingkan dengan negara yang demokrat. Sebuah pemerintahan negara yang berubah dari represif menjadi moderat terhadap oposisi, menurut pandangan ini, akan diwarnai oleh lahirnya berbagai gerakan sosial yang selama ini terpendam di bawah permukaan.&lt;br /&gt;Pandangan kedua berpendapat bahwa gerakan sosial timbul karena meluasnya ketidakpuasan atas situasi yang ada. Perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern, misalnya, dapat mengakibatkan kesenjangan ekonomi yang makin lebar untuk sementara antara yang kaya dan yang miskin. Perubahan ini dapat pula menyebabkan krisis identitas dan lunturnya nilai-nilai yang selama ini diagungkan. Perubahan ini akan menimbulkan gejolak di kalangan yang dirugikan dan kemudian meluas menjadi gerakan sosial. Pandangan ketiga beranggapan bahwa gerakan sosial adalah semata-mata masalah kemampuan (leadership capability) dari tokoh penggerak. Adalah sang tokoh penggerak yang mampu memberikan inspirasi, membuat jaringan, membangun organisasi, yang menyebabkan sekelompok orang termotivasi untuk terlibat dalam gerakan tersebut.&lt;br /&gt;Selain itu, dalam sebuah perubahan sosial, selalu ditemukan faktor-faktor penting yang menjadi pemicu lahirnya perubahan yang pada gilirannya menjadi realitas sosial baru. Perintis sains-sains sosial Islam, Dr. Ausaf Ali berpendapat bahwa faktor-faktor penting yang menjadi pemicu perubahan itu adalah: pertama, munculnya kritik terhadap realitas dan praktek sosial yang ada, yang dilakukan oleh mereka yang cenderung terhadap tatanan baru. Kedua, adanya paradigma baru nilai-nilai, norma dan sistem penjelas yang berbeda; dan ketiga, partisipasi sosial yang dipilih oleh mereka yang cenderung dengan tatanan baru tersebut dalam mentransformasikan masyarakatnya. Faktor-faktor penting tersebut dapat kita lihat dalam sejarah Renaisance di Eropa, lahirnya Marxisme dan Sosialisme di Eropa Timur, dan terutama sekali sejarah perjuangan nabi-nabi, serta berbagai perubahan sosial mutakhir yang melibatkan para mahasiswa.&lt;br /&gt;Sementara Huntington (1991) menjelaskan mekanisme transisi politik dari pemerintahan ortoriter ke demokratis dengan mengajukan empat model perubahan politik. Pertama, model transformasi (transformation). Dalam hal ini, inisiatif demokratisasi berasal dari pemerintah. Pemerintahlah yang melakukan liberalisasi sistem politik. Biasanya model ini terjadi di negara yang pemerintahannya sangat kuat, sementara masyarakat sipilnya lemah. Transisi yang terjadi di Taiwan pada awal tahun 1990-an, ketika pemerintah Kuomintang menyelenggarakan pemilu yang demokratis kira-kira masuk dalam model ini. Juga proses perubahan transisi politik yang terjadi di Spanyol dan Brazil.&lt;br /&gt;Kedua, model replasi (replacement). Model ini terjadi ketika pemerintah yang berkuasa dipaksa untuk meletakkan kekuasaannya dan kemudian digantikan oleh kekuatan oposisi. Berbeda dengan model pertama di atas, model ini terjadi di negara yang pemerintahannya mulai lemah, sedangkan masyarakat sipilnya tubuh menjadi kuat. Rejim Marcos di Filipina yang dipaksa turun oleh rakyatnya dan kemudian digantikan oleh Cory Aquino merupakan contoh yang tepat untuk model ini, selain Jerman Timur dan Portugal.&lt;br /&gt;Ketiga, model transplasi (transplacement). Model ini merupakan gabungan dari dua model yang sudah disebutkan di atas. Model ini terjadi karena pemerintah yang berkuasa masih kuat, sementara pihak oposisi belum terlalu solid untuk menjatuhkannya. Maka diupayakanlah berbagai proses negosiasi antara pihak pemerintah dan pihak oposisi tentang bagaimana langkah-langkah yang harus diambil bersama untuk mewujudkan sistem politik yang demokratis secara gradual. Lech Walesa di Polandia agaknya mempraktekkan model ini dengan cara melakukan negosiasi dengan pihak militer untuk mewujudkan demokratisasi. Hal yang sama terjadi di Bolivia dan Nicaragua.&lt;br /&gt;Keempat, model intervensi (intervention). Model ini terjadi disebabkan oleh keterlibatan pihak eksternal yang turut campur. Contoh kasus yang paling tepat barangkali adalah intervensi angkatan perang AS terhadap pemerintahan Panama dengan tuduhan keterlibatan jaringan perdagangan obat bius. Intervensi akhirnya mendorong dilaksanakan pemilu yang demokratis.&lt;br /&gt;Mengacu pada beberapa rumusan teoritis di atas, maka dinamika keterlibatan mahasiswa dalam setiap momen perubahan sosial politik sangat bervariasi, tergantung pada kondisi obyektif yang ada. Dalam sistem politik nasional yang otoriterianistik, seperti Indonesia pada jaman Orde Baru, gerakan mahasiswa cenderung sulit menemukan bentuknya yang heroik. Hal ini bisa dipahami sebagai konsekuensi dari upaya sebuah rejim otoriter untuk membungkam setiap gerakan yang berseberangan dengan kekuasaan, termasuk gerakan mahasiswa. Dalam kondisi yang demikian, maka yang terjadi adalah upaya pemasungan dan pengendalian hak-hak mahasiswa. Mahasiswa kemudian diarahkan menjadi “anak baik” yang akan mengisi kotak-kotak pembangunan, tanpa disertai adanya kesadaran yang tepat terhadap berbagai persoalan masyarakat. Lulusan perguruan tinggi pun hanya menjadi kacung pembangunan untuk melegitimasikan kekuasaan otoriter yang korup. Itulah yang terjadi selama ini.&lt;br /&gt;Namun demikian, dalam logika gerakan, kondisi yang otoriterianisktik dan korup justru menjadi faktor awal untuk memunculkan kritik dan berbagai ketidakpuasan sosial lainnya. Dalam perspektif yang lebih luas, ketimpangan dunia dalam wujud kapitalisme dan imperialisme juga menjadi landasan kritik bagi gerakan mahasiswa. Dinamika kondisi politik yang berubah dari represif menjadi moderat terhadap oposisi, juga akan melahirkan berbagai gerakan mahasiswa yang selama ini terpendam di bawah permukaan. Atau menurut terminologi Huntington, dalam model replasi dan transplasi akan memberi ruang gerak yang lebih luas bagi gerakan mahasiswa.&lt;br /&gt;Selain itu, perkembangan gerakan mahasiswa di banyak negara lain di manca negara secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh pada gerakan mahasiswa di tanah air. Gerakan mahasiswa di Korea, Cina, Amerika Latin, dan lain sebagainya sering menjadi referensi pembanding dalam merumuskan strategi gerakan yang efektif bagi gerakan mahasiswa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Moral Versus Gerakan Politik&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas, kita bisa memahami bahwa kondisi subyektif dan kondisi obyektif secara signifikan kemudian membentuk watak gerakan mahasiswa. Secara sederhana, sebuah gerakan merupakan suatu proses untuk mencapai perubahan jangka panjang seperti yang dicita-citakan. Perubahan jangka panjang ini adalah perubahan yang visioner (esoterik), yakni perubahan untuk menciptakan tatanan masyarakat yang ideal. Dengan demikian, sebuah gerakan mahasiswa tidak hanya membutuhkan modal berupa keberanian di tingkat praksis (eksoterik), tetapi juga kecanggihan di tingkat wacana.&lt;br /&gt;Pendekatan esoterik biasanya kita akan memasuki wilayah substantif, berupa kajian tentang substansi gerakan dan banyak bermain dalam dialektika wacana secara terus-menerus. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul biasanya adalah bagaimana sebuah orientasi perubahan dirumuskan, landasan teoritis dan ideologis apa yang melingkupi perubahan, serta tatanan perubahan masyarakat yang bagaimana yang diharapkan akan terwujud? Dalam konteks ini, maka kekuatan wacana dengan visi yang jelas merupakan modal yang sangat berharga dalam merumuskan orientasi perubahan.&lt;br /&gt;Sementara pendekatan eksoterik, membuat kita memasuki wilayah praksis gerakan. Ia akan berproses dalam persoalan strategi gerakan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: bagaimana melakukan sebuah perubahan, cara apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan perubahan yang dimaksud? Jawaban-jawaban terhadap pertanyaan ini tersebut tentu saja kemudian terumuskan dalam wilayah strategis taktis sebuah gerakan.&lt;br /&gt;Dari pendekatan di atas, maka kita akan bisa melihat bahwa gerakan mahasiswa akan terpola dalam dua pola besar yang untuk sederhananya kita bagi menjadi dua, yakni gerakan moral dan gerakan politik. Gerakan moral (moral force) biasanya dipersepsikan sebagai sebuah gerakan yang memihak pada nilai-nilai moral universal, yakni nilai kebenaran, keadilan, demokratisasi, hak azasi manusia, dan sebagainya. Sebuah gerakan moral biasanya tidak masuk dalam wilayah kepentingan politik praktis dengan saling dukung-mendukung terhadap kekuatan kelompok tertentu (power block). Mereka hanya mendukung kepentingan nilai yang menurut mereka bagus. Dengan demikian, kalau misalnya sebuah partai politik (parpol) mengedepankan nilai-nilai keadilan, demokratisasi, HAM, dan sebagainya, maka mereka akan mendukungnya dalam arti untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut, bukan mendukung kekuatan parpol secara politis. Sebaliknya, kalau ternyata parpol tersebut tidak lagi memperjuangkan nilai-nilai dengan standar moralitas yang dimaksud, maka sebuah gerakan moral akan menarik dukungannya, bahkan melawannya. Jadi, ringkasnya sebuah gerakan moral adalah gerakan yang mendukung untuk memperjuangkan nilai-nilai dengan ukuran moralitas tertentu. Disinilah independensi gerakan mahasiswa akan terlihat. Mahasiswa bukan subordinat kekuatan politik tertentu.&lt;br /&gt;Sementara gerakan politik merupakan gerakan untuk melakukan perubahan politik dengan berpihak pada kekuatan politik tertentu, atau menjadikan dirinya sebagai lokomotif politik mahasiswa. Mereka tidak alergi untuk melakukan sharing dan lobi-lobi politik dengan kekuatan politik yang ada. Bagi mereka hal ini perlu dilakukan sebagai strategi untuk mencapai perubahan. Mereka mengkritik gerakan moral sebagai ketakutan untuk bersentuhan dengan kepentingan politik, dan hanya mampu melakukan himbauan moral. Keberpihakan pada kekuatan politik tertentu secara riel tidak apa-apa, sepanjang ide-ide perubahan yang diperjuangkan mahasiswa sejalan dengan mereka. Dalam kondisi tertentu dan dibutuhkan, organisasi mahasiswa bahkan berubah menjadi organisasi politik seperti yang pernah dilakukan mahasiswa Indonesia di Belanda pada 1908 dengan mendirikan Perhimpunan Indonesia.&lt;br /&gt;Sosiolog Arief Budiman bahkan mengkritik gerakan moral dengan mengistilahkannya sebagai “koboi”. Ia datang ketika ada kerusuhan dan kekacauan yang dilakukan oleh para penjahat di suatu daerah. Setelah para penjahat dibasmi dan keadaan kembali tenang, maka sang koboi pun pergi lagi mengembara kemana-mana. Demikian seterusnya setiap ada kekacauan, sang koboi datang dan pergi lagi.&lt;br /&gt;Dari kedua konteks di atas, maka seyogiayanya gerakan mahasiswa membutuhkan pola-pola gerakan yang bervariasi. Kecenderungan pada kutup ekstrim tertentu antara gerakan moral dan gerakan politik justru akan mereduksi peran gerakan itu sendiri. Karena itu, apapun penjelasannya, kedua pola tersebut tetap dibutuhkan. Yang penting tetap mampu memberikan nuansa dalam proses perubahan yang visioner dan esoterik. Dengan kata lain, mengutamakan salah satu pola (gerakan politik maupun gerakan moral) akan berujung pada kegagalan analitik untuk merumuskan strategi gerakan dalam mencapai orientasi perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasang Surut Gerakan Mahasiswa Indonesia&lt;br /&gt;Lahirnya Perhimpunan Indonesia yang diprakarsai oleh mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda pada tahun 1925 merupakan momentum awal dari semua gagasan dan ide tentang sebuah gerakan perubahan kaum muda yang plural dan terorganisir secara modern, yang bertujuan untuk membebaskan Indonesia dari cengkeraman kolonialisme Belanda. Perhimpunan Indonesia ini merupakan perubahan nama dan terjemahan dari nama Belandanya, yakni Indische Vereniging (Perhimpunan Hindia), organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda yang telah ada sejak 1908. Penggunaan kata “Indonesia” menunjukkan adanya keinginan besar mahasiswa Indonesia waktu itu untuk melepaskan bangsa ini dari kolonialisme Belanda.&lt;br /&gt;Akira Nagazumi (1977) mencatat bahwa dalam suatu karangan mengenai “Perhimpunan Indonesia”, Soenario, pemimpin organisasi ini pada pertengahan tahun 1920-an, membagi sejarah organisasi tersebut dalam lima kurun waktu, yakni:&lt;br /&gt;1. 1908-1913; masa berkelompok demi cita-cita dan cara untuk mencapainya, walaupun tanda-tanda patriotisme telah dapat dilihat.&lt;br /&gt;2. 1913-1919; orientasi politis ke arah Indonesia merdeka lantaran pengaruh tiga orang pemimpin Indische Partij yang diasingkan dari tanah airnya.&lt;br /&gt;3. 1919-1923; meningkatnya semangat nasionalisme, yang mengarah ke perubahan nama.&lt;br /&gt;4. 1923-1930; perubahan dari organisasi mahasiswa menjadi organisasi politik.&lt;br /&gt;5. 1930 dan sesudahnya; kemunduran organisasi dan pergeseran dari politik antikolonial ke anti fasis.&lt;br /&gt;Pada tahun 1900 hanya ada lima mahasiswa Indoensia yang belajar pada pendidikan tinggi di negeri Belanda, tetapi pada tahun 1908 jumlah mahasiswa Indonesia sudah 23 orang, dan pada tahun inilah Indische Vereniging dibentuk (John S. Furnivall, 1939). Walaupun dimulai dengan sederhana, organisasi ini memiliki arti dalam dua hal. Pertama, ia membuka pintu keanggotaan untuk semua mahasiswa dari Hindia Belanda, tidak seperti Budi Utomo yang sekalipun didirikan pada tahun yang sama, lambat laun menjadi suatu organisasi yang beranggotakan orang Jawa saja. Pilihan ke arah ini oleh Indische Vereniging tidaklah kebetulan, karena pada mulanya beberapa para pendirinya mengusulkan untuk membuat perkumpulan tersebut menjadi cabang Budi Utomo di negeri Belanda. Tetapi, walaupun mayoritas mahasiswa Hindia Belanda di Nederland itu orang Jawa, namun usul itu tidak diterima oleh mereka yang berasal dari Sumatera, Minahasa, Maluku, dan yang lainnya. Akibatnya, Indische Vereniging mampu mengatasi hambatan etnosentrisme. Namun demikian, ternyata masih diperlukan dua dasawarsa bagi para pemimpin nasionalis di Hindia Belanda untuk menjadi sadar akan persatuan nasional Indonesia.&lt;br /&gt;Kedua, Indische Vereniging bukan hanya sekedar organisasi persahabatan seperti disebut oleh beberapa penulis mengenai sejarah Indonesia modern. Pasal dua dari anggaran Dasarnya menetapkan sebagai berikut: “memperbaiki atau meningkatkan kepentingan bersama orang Hindia di Negeri Belanda dan memelihara hubungan dengan Hindia Belanda”. Pada bulan Januari 1909 pengadilan lokal di kota Leiden mempersoalkan istilah “orang Hindia” (Indier) dan Soemitro, sekretaris organisasi pada waktu itu, harus menghadap untuk memberi penjelasan mengapa perkataan tersebut digunakan dan bukan kata yang lazim dipakai, yaitu “Inlander” (pribumi), walaupun dengan konotasi yang diskriminatif (Nagazumi, 1977).&lt;br /&gt;Dalam sejarah perjalanannya, Perhimpunan Indonesia terbukti mampu mengakomodasikan semua orang Hindia secara egaliter dan tanpa diskriminatif—berbeda dengan Budi Utomo—menjadi awal bangkitnya semangat perlawanan mahasiswa Indonesia. Bahkan dari tahun 1923 hingga tahun 1930 organisasi ini merubah dirinya dari organisasi mahasiswa menjadi organisasi politik, sebuah metamorfosis yang sangat berani waktu itu. Semangat mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia kemudian semakin mengkristal dalam berbagai gerakan perubahan di tanah air dengan lahirnya Sumpah Pemuda tahun 1928, dan kemerdekaan Indonesia tahun 1945.&lt;br /&gt;Setelah Indonesia merdeka, peranan mahasiswa mulai menonjol kembali terutama pada jaman Demokrasi Terpimpin. Pada masa itu tiga kekuatan, yakni mahasiswa, Presiden Sukarno dan Angkatan Darat merupakan aktor-aktor yang menentukan. Angkatan Darat sejak mengumumkan SOB pada bulan Maret 1957, berhasil menciptakan transformasi dan konsolidasi politik internal. Sehingga secara politik menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Hal ini kemudian diperkuat oleh konsepsi Jenderal Nasution tentang middle way (jalan tengah) yang kelak menjadi konsep dwi fungsi ABRI (sekarang TNI). Sedangkan Soekarno, sejak mengumumkan dekrit 5 Juli 1959, posisinya semakin sentral. Partai politik yang di masa Demokrasi Parlementer menjadi aktor dominan, pada era demokrasi terpimpin ini semakin tergeser perannya. Soekarno kemudian berhasil menjadi faktor penyeimbang (balance of power) antara Angkatan Darat dan kekuatan politik lain, terutama PKI yang jelas berseberangan dengan Angkatan Darat dan mahasiswa (Sudjana, 1995).&lt;br /&gt;Peran mahasiswa pada era ini tumbuh bersamaan dengan terbentuknya Badan Kerjasama Pemuda-Militer. Badan inilah yang menjadi cikal bakal dan merupakan forum pertama bagi gerakan mahasiswa untuk menjadi partisipan politik atas namanya sendiri. Dibandingkan masa Demokrasi Parlementer peran seperti ini hampir-hampir mustahil, karena pada saat itu posisi mahasiswa selalu berada dalam subordinat partai politik dengan ideologi dan alirannya masing-masing. Kemelut ekonomi dan politik pada tahun 1966 dan dibarengi dengan usaha kudeta PKI pada tanggal 30 September 1966 (G 30 S) menyebabkan terjadinya situasi yang chaos. Para pemimpin mahasiswa yang tergabung dalam KAMI dan KAPPI terus menjalin kerjasama erat dengan militer, terutama pimpinan Angkatan Darat, yang kemudian menaikkan Jenderal Suharto dan lahirlah Orde Baru.&lt;br /&gt;Semasa Orde baru berkuasa, tercatat banyak momentum politik yang melibatkan mahasiswa. Misalnya tuntutan mahasiswa tahun 1974 dengan peristiwa “Malari” dan tahun 1978 yang meminta Presiden Suharto mundur. Kedua peristiwa tersebut berbuntut pada ditangkap dan diadilinya banyak aktivis mahasiswa. Sejak itu, pemerintahan Suharto menerapkan langkah jitu untuk membungkam setiap gerakan mahasiswa dengan melakukan depolitisasi mahasiswa dan mengintegrasikan kanpus menjadi bagiand dari birokrasi negara. Kebijakan ini tentu saja berakibat pada penghancuran infrastruktur politik mahasiswa. Kegiatan mahasiswa kemudian menjadi bagian dan dikontrol oleh birokrasi kampus (Rektorat) yang merupakan kepanjangan tangan birokrasi negara. Sejak saat itu, mahasiswa kita tidak terlibat lagi dalam politik kampus dan nasional, bahkan cenderung merasa dirinya tidak bermakna dalam politik. Dalam banyak hal berkembang sinisme, apatisme dan bahkan “inertia”. Kondisi ini jelas sangat memprihatinkan.&lt;br /&gt;Lebih parah lagi, kebijakan deideologisasi partai politik, ormas dan lembaga kemahasiswaan dengan diterapkannya azas tunggal Pancasila pada tahun 1985 membuat dinamika gerakan mahasiswa menjadi lesu. Hal ini tidak saja dialami oleh lembaga-lembaga mahasiswa intra kampus bentukan Orde Baru, juga dialami oleh organisasi-organisasi ekstra kampus seperti HMI, PMII, GMNI, PMKRI, GMKI, dan lain-lain. Dalam keadaan seperti ini, model-model gerakan berubah total dari pola jalanan (demonstrasi) ke pola-pola yang lebih “aman” melalui kajian-kajian intelektual. Maka muncullah banyak kelompok-kelompok studi di kampus-kampus sebagai ajang aktualisasi akan fenomena yang terjadi. Keadaan ini berlangsung hingga akhir tahun 1997-an.&lt;br /&gt;Sekitar awal tahun 1990-an, gerakan mahasiswa menemukan bentuknya kembali di bawah represifitas negara yang belum surut. Mungkin banyak orang mengira bahwa gerakan mahasiswa telah mandeg, tetapi ternyata tidak. Pola-pola “aman” yang diterapkannya dengan sekali-kali melakukan model jalanan, terutama di beberapa kota besar, ternyata cukup menjadi investasi menghadapi perubahan politik nasional pada akhir 1997 saat Indonesia dilanda krisis moneter. Tidak banyak lembaga mahasiswa cukup berani dan eksis dalam gerakan tersebut. Di Yogyakarta ada LMMY (Liga Mahasiswa Muslim Yogyakarta) dan SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi). Sementara di Jakarta ada FKMIJ (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta.&lt;br /&gt;SMID yang kemudian menjadi lembaga tingkat nasional menggambarkan rejim Orde Baru sebagai bersifat fasis dan totaliter, dan pada 1994 menuntut sebuah sistem multipartai demokratis. Setelah terjadinya pembantaian dan kerusuhan di kantor pusat PDI pada Juli 1996, banyak aktivis SMID ditahan. Sementara itu, aktivis mahasiswa muslim, termasuk yang ada di FKMIJ, mengorganisir demonstrasi besar-besaran menentang judi milik negara, SDSB, pada 1993. Protes-protes keras terutama yang didasarkan pada nilai-nilai agama dan moral, memaksa pemerintah membubarkan usaha itu. Demonstrasi anti SDSB merupakan arak-arakan protes pertama yang mencapai istana kepresidenan di Jakarta. Aktivis-aktivis mahasiswa muslim juga ikut ambil bagian untuk menyatakan solidaritas terhadap Bosnia dan menentang pemberantasan korupsi (Uhlin, 1998). Hal senada juga dilakukan mahasiswa muslim Yogyakarta dibawah payung LMMY. LMMY dan FKMIJ merupakan institusi kantong Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) yang menjadi lembaga bawah tanah selama Orde Baru berkuasa.&lt;br /&gt;Menjelang akhir tahun 1997 saat Indonesia dilanda krisis moneter dan diikuti dengan berbagai krisis lainnya, para aktivis mahasiswa semakin memantapkan posisinya untuk melakukan gerakan menuntut Soeharto mundur. Pada saat itu, muncul banyak sekali elemen-elemen aksi mahasiswa yang bersifat instan dengan mengusung warna ideologi masing-masing. Namun, satu hal yang mempersatukan mereka adalah keinginan bersama untuk menjatuhkan rejim totaliter Soeharto. Didukung oleh berbagai demonstrasi besar-besaran di berbagai kota di tanah air, gerakan ini kemudian mengkristal menjadi gerakan massa. Sayangnya, gerakan massa rakyat tersebut diwarnai dengan berbagai kerusuhan, terutama di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya, yang justru mencoreng citra gerakan mahasiswa itu sendiri. Walaupun demikian, tekanan perubahan yang dahsyat pada waktu itu memaksa Soeharto mengundurkan diri dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998. Di sinilah mahasiswa bersama elemen masyarakat lainnya—kecuali militer—berperan sangat sentral dalam menggulingkan rejim Orde Baru.&lt;br /&gt;Kalau pada tahun 1966 mahasiswa bekerjasama dengan militer dalam menggulingkan Orde Lama, maka pada tahun 1998 mahasiswa justru menjadikan militer sebagai musuh bersama (common enemy) yang dianggap anti reformasi. Demikianlah, momentum perubahan politik nasional pada 1998 yang terkenal dengan istilah “gerakan reformasi” tidak serta merta membawa perubahan yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat. Kekuatan anti reformasi Orde baru masih banyak bercokol di Partai Golkar dan TNI. Dus, setelah empat tahun rejim Soeharto dijatuhkan, kemudian berturut-turut penguasa berganti dari Habibie, Abdurrahman Wahid, dan kini Megawati Soekarnoputri, perubahan yang sejak awal dicita-citakan mahasiswa belum banyak memenuhi harapan. Di sinilah peran gerakan mahasiswa era selanjutnya harus dimainkan, yakni menuntaskan berbagai agenda reformasi yang belum berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Sejak Perhimpunan Indonesia berdiri pada 1908 hingga tahun perubahan politik nasional tahun 1998, gerakan mahasiswa Indonesia mengalami fluktuasi dan pasang surut mengikuti situasi perubahan yang terjadi. Dalam masa-masa itu pula peran sentral mereka dalam perubahan terlihat jelas. Walaupun demikian, ada juga masa-masa di mana mereka tidak mampu menampilkan perannya secara maksimal, seperti pada saat kurun waktu 1978 hingga awal 1990-an. Disamping itu, kondisi subyektif seperti yang dijelaskan Sarlito menunjukkan bahwa para aktivis mahasiswa adalah kelompok minoritas kreatif yang kerap tampil sebagai penggerak utama dalam setiap momentum gerakan.&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana gerakan mahasiswa Indonesia ke depan? Apakah mereka akan menemukan bentuknya yang relevan, atau justru kembali pada pengulangan sejarah dalam ketidakberdayaannya? Kalau kita melihat kondisi ril sejak reformasi 1998, gerakan mahasiswa cenderung tidak jelas. Keberhasilan gerakan tahun 1998 tidak serta merta memberikan dinamika positif pada gerakan mahasiswa selanjutnya secara keseluruhan. Ternyata, depolitisasi Orde baru masih tersimpan dalam alam bawah sadar mahasiswa dan masyarakat kita hingga kini. Sehingga pembinaan mahasiswa di lembaga intra kampus pun belum berubah dan beranjak maju. Dengan kata lain, masih seperti dulu pada jaman NKK/BKK. Lemahnya proses ideologisasi dan hanya ditopang oleh semangat euforia sesaat, menyebabkan gerakan tahun 1998 hanya menemukan momentumnya yang sementara, dan kemudian redup.&lt;br /&gt;Walaupun demikian, dengan melihat analisis di atas, maka tentu saja gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti, sebelum perubahan masyarakat seperti yang dicita-citakan terwujud. Generasi boleh berganti, tapi semangat, cita-cita dan idealisme gerakan tidak boleh redup. n&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-518065681955919414?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/518065681955919414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=518065681955919414' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/518065681955919414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/518065681955919414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/07/mahasiswa-dam-tanggung-jawab.html' title=''/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-1605326670372056014</id><published>2008-07-09T02:06:00.000-07:00</published><updated>2008-07-09T02:09:58.991-07:00</updated><title type='text'>PERAN MAHASISWA DALAM MENGEMBAN</title><content type='html'>TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan jenjang terakhir dari hirarki pendidikan formal mempunyai tiga missi yang diemban yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat atau lebih dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tiga missi yang diembankannya tersebut bukanlah missi yang ringan untuk direalisasikan. Missi pendidikan di Perguruan Tinggi merupakan proses berlangsungnya pewarisan ilmu pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya, agar dengan demikian proses alih generasi juga diikuti dengan proses alih ilmu pengetahuan dalam arti luas. Kemudian untuk menghindari stagnasi ilmu pengetahuan yang berorientasi pada tuntutan zaman, maka dalam proses berlangsungnya pewarisan ilmu pengetahuan membutuhkan pengembangan konsep atau teori ke arah konsep atau teori yang lebih baik. Usaha pengembangan teori atau konsep dilaksanakan secara sistematis dan melalui prosedur ilmiah, kegiatan ini disebut penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Usaha pewarisan dan pengembangan ilmu pengetahuan oleh perguruan tinggi harus senantiasa memiliki pijakan dan relevansi dengan kondisi masyarakat. Usaha memformulasikan peran Perguruan Tinggi dalam dinamika  masyarakat inilah yang lebih dikenal dengan nama pengabdian masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Berdasarkan missi yang diembannya maka dapat dikatakan bahwa Perguruan Tinggi mempunyai dua peran, yaitu sebagai lembaga kajian dan sebagai lembaga layanan. Sebagai lembaga kajian maka Perguruan Tinggi mengembangkan ilmu sebagai proses, sedangkan perannya sebagai lembaga layanan menghasilkan ilmu sebagai produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dalam posisi sebagai lembaga kajian dan lembaga layanan maka Perguruan Tinggi berfungsi sebagai konseptor, dinamisator dan evaluator pembangunan masyarakat baik secara langsung maupun secara tidak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Fungsi konseptor terwujud melalui produk ilmiah yang dihasilkannya. Melalui serangkaian tindakan imiah yang dilaksanakan, Perguruan Tinggi hendaknya mampu memprediksi kebutuhan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa depan, tetapi pada saat itu juga memiliki kemampuan menyusun suatu teori atau konsep yang dibutuhkan pada masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Fungsi dinamisator secara langsung terlihat pada lulusan Perguruan Tinggi yang terdiri dari tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat berperan di dalam masyarakatnya. Sehingga tenaga-tenaga ahli tersebut dapat berperan sebagai dinamisator dalam laju pembangunan masyarakat. Banyaknya tenaga ahli lulusan Perguruan Tinggi yang terlibat dalam gerak pembangunan dimungkinkan timbulnya pemikiran-pemikiran baru, langkah-langkah inovatif  yang konsepsional dan lahirnya aspirasi-aspirasi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Selanjutnya fungsi evaluator dilakukan bersama-sama oleh segenap warga sivitas akademika di dalam Perguruan Tinggi, melalui penelitian terhadap berbagai dampak pembangunan. Dengan pengertian yang lebih luas maka Perguruan Tinggi hendaknya mampu bertindak sebagai pelopor pembaharuan dan  modernisasi. Kemudian bersamaan dengan itu Perguruan Tinggi mampu pula bertindak sebagai agen perubahan sosial sekaligus sebagai pengawas sosial, sehingga dapat memberi warna terhadap arah laju perkembangan dan pembangunan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Upaya Meningkatkan Peran Mahasiswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Untuk mewujudkan peran Perguruan Tinggi seperti yang diungkapkan di muka maka dalam proses belajar mengajar di Perguruan Tinggi perlu dikembangkan kultur kebebasan mimbar (academic freedom culture).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pengembangan kultur kebebasan mimbar tersebut diupayakan untuk meningkatkan kepekaan mahasiswa. Dalam kehidupan Perguruan Tinggi, pemanfaatan mimbar ilmiah dalam meningkatkan kepekaan mahasiswa adalah tidak terlepas dari karakter khas dan fungsi Perguruan Tinggi itu sendiri yaitu membentuk insan akademik intelektualis yang dapat mempertanggungjawabkan  kualitas keilmuannya dan membentuk insan akademis yang mengabdi (sensitif/ involve) terhadap masyarakat. Jadi ada dua manfaat yang mendasar dari mimbar ilmiah, pertama untuk meningkatkan kepekaan kualitas intelektual mahasiswa, dan kedua untuk meningkatkan kepekaan mahasiswa terhadap masyarakat (lingkungannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Upaya mendasar agar aplikasi pemanfaatan mimbar ilmiah itu bisa terselenggara maka harus tercipta kultur kebebasan mimbar (academic freedom culture) yang didukung oleh semua komponen Perguruan Tinggi. Kultur kebebasan mimbar bisa terwujud jika didukung adanya kebebasan belajar (freedom to learn) dan kebebasan berkomunikasi (freedom to communication). Kedua kebebasan ini merupakan sisi dari kebebasan mimbar dan merupakan upaya yang tepat dalam meningkatkan kepekaan mahasiswa. &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Freedom To Learn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Oleh karena implikasi Perguruan Tinggi tidak terlepas dari pengabdian masyarakat, maka kebebasan belajar (freedom to learn) harus diartikan secara luas, yaitu tidak hanya terbatas pada dinding-dinding kampus, akan tetapi juga kebebasan untuk mempelajari persoalan-persoalan yang ada di luar dinding-dinding kampus (masalah riil dalam masyarakat). Dan kebebasan untuk mempelajari masalah riil dalam masyarakat ini adalah fokus yang terlebih penting dalam mencetak mahasiswa yang betul-betul berurusan dengan masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Adanya kebebasan belajar yang berimplikasi sosial (masyarakat), dilihat dari pengembangan intelektual adalah sangat menguntungkan. Hal ini dikarenakan ramuan ilmu yang dikonsumir oleh mahasiswa sebagian dari dunia luar yang kondisinya lain dengan apa yang ada dalam masyarakat Indonesia.  Sebagai konsekwensinya apabila konsep-konsep serta teori yang datang dari luar tersebut mau digunakan untuk memecahkan problem-problem kemasyarakatan Indonesia maka memerlukan modifikasi dan penyesuaian seperlunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dengan demikian mahasiswa dalam pengembangan intelektualnya tidak bisa berpaling dari masalah kemasyarakatan. Dan apabila keterlibatan mahasiswa dalam memahami masalah kemasyarakatan tidak dikembangkan maka ilmu-ilmu yang diterima di bangku kuliah akan menjadi pisau analisa yang tumpul. Alasan ini ditunjang oleh GBHN bahwa usaha pembinaan  mahasiswa diarahkan agar berjiwa penuh pengabdian sera memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara, sehingga bermanfaat bagi usaha-usaha nasional dan pembangunan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Freedom To Communication&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Setelah adanya kebebasan belajar (freedom to learn) sebagai langkah awal dari cara mempelajari persoalan-persoalan yang ada di lingkungan kampus dan masyarakat, maka untuk lebih meningkatkan kepekaan mahasiswa dalam  memperluas cakrawalan pemikiran dan penalaran, menumbuhkan sikap dinamis, kritis, terbuka dan mempunyai kemampuan untuk memilih alternatif  terbaik diperlukan terciptanya cultur kebebasan berkomunikasi (freedom to communication).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kebebasan berkomunikasi yang baik adalah adanya peluang mahasiswa untuk berpendapat, bertanya, berhak untuk melontarkan gagasan ilmiah secara obyektif serta kebebasan untuk penyebaran ilmu pengetahuan dan publikasi hasil-hasil penelitian kepada seluruh komponen Perguruan Tinggi  dan terhadap lingkungan masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dalam rangka terwujudnya kebebasan berkomunikasi ini, maka perlu adanya  hubungan kerjasama antara mahasiswa dengan komponen-komponen di lingkungan Perguruan Tinggi untuk mengadakan kegiatan-kegiatan ilmiah seperti seminar, diskusi, Pers, dan sebagainya. Sebab menciptakan kultur kebebasan mimbar ilmiah adalah merupakan tanggung jawab seluruh sivitas akademika Perguruan Tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Barangkali dengan pengertian freedom to learn dan freedom to communication tersebut mimbar ilmiah benar-benar dapat bermanfaat dalam meningkatkan kepekaan mahasiswa untuk mewujudkan peran Tri Dharma Perguruan Tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAN MAHASISWA DALAM MENGEMBAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   3. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan jenjang terakhir dari hirarki pendidikan formal mempunyai tiga missi yang diemban yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat atau lebih dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tiga missi yang diembankannya tersebut bukanlah missi yang ringan untuk direalisasikan. Missi pendidikan di Perguruan Tinggi merupakan proses berlangsungnya pewarisan ilmu pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya, agar dengan demikian proses alih generasi juga diikuti dengan proses alih ilmu pengetahuan dalam arti luas. Kemudian untuk menghindari stagnasi ilmu pengetahuan yang berorientasi pada tuntutan zaman, maka dalam proses berlangsungnya pewarisan ilmu pengetahuan membutuhkan pengembangan konsep atau teori ke arah konsep atau teori yang lebih baik. Usaha pengembangan teori atau konsep dilaksanakan secara sistematis dan melalui prosedur ilmiah, kegiatan ini disebut penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Usaha pewarisan dan pengembangan ilmu pengetahuan oleh perguruan tinggi harus senantiasa memiliki pijakan dan relevansi dengan kondisi masyarakat. Usaha memformulasikan peran Perguruan Tinggi dalam dinamika  masyarakat inilah yang lebih dikenal dengan nama pengabdian masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Berdasarkan missi yang diembannya maka dapat dikatakan bahwa Perguruan Tinggi mempunyai dua peran, yaitu sebagai lembaga kajian dan sebagai lembaga layanan. Sebagai lembaga kajian maka Perguruan Tinggi mengembangkan ilmu sebagai proses, sedangkan perannya sebagai lembaga layanan menghasilkan ilmu sebagai produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dalam posisi sebagai lembaga kajian dan lembaga layanan maka Perguruan Tinggi berfungsi sebagai konseptor, dinamisator dan evaluator pembangunan masyarakat baik secara langsung maupun secara tidak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Fungsi konseptor terwujud melalui produk ilmiah yang dihasilkannya. Melalui serangkaian tindakan imiah yang dilaksanakan, Perguruan Tinggi hendaknya mampu memprediksi kebutuhan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa depan, tetapi pada saat itu juga memiliki kemampuan menyusun suatu teori atau konsep yang dibutuhkan pada masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Fungsi dinamisator secara langsung terlihat pada lulusan Perguruan Tinggi yang terdiri dari tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat berperan di dalam masyarakatnya. Sehingga tenaga-tenaga ahli tersebut dapat berperan sebagai dinamisator dalam laju pembangunan masyarakat. Banyaknya tenaga ahli lulusan Perguruan Tinggi yang terlibat dalam gerak pembangunan dimungkinkan timbulnya pemikiran-pemikiran baru, langkah-langkah inovatif  yang konsepsional dan lahirnya aspirasi-aspirasi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Selanjutnya fungsi evaluator dilakukan bersama-sama oleh segenap warga sivitas akademika di dalam Perguruan Tinggi, melalui penelitian terhadap berbagai dampak pembangunan. Dengan pengertian yang lebih luas maka Perguruan Tinggi hendaknya mampu bertindak sebagai pelopor pembaharuan dan  modernisasi. Kemudian bersamaan dengan itu Perguruan Tinggi mampu pula bertindak sebagai agen perubahan sosial sekaligus sebagai pengawas sosial, sehingga dapat memberi warna terhadap arah laju perkembangan dan pembangunan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   4. Upaya Meningkatkan Peran Mahasiswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Untuk mewujudkan peran Perguruan Tinggi seperti yang diungkapkan di muka maka dalam proses belajar mengajar di Perguruan Tinggi perlu dikembangkan kultur kebebasan mimbar (academic freedom culture).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pengembangan kultur kebebasan mimbar tersebut diupayakan untuk meningkatkan kepekaan mahasiswa. Dalam kehidupan Perguruan Tinggi, pemanfaatan mimbar ilmiah dalam meningkatkan kepekaan mahasiswa adalah tidak terlepas dari karakter khas dan fungsi Perguruan Tinggi itu sendiri yaitu membentuk insan akademik intelektualis yang dapat mempertanggungjawabkan  kualitas keilmuannya dan membentuk insan akademis yang mengabdi (sensitif/ involve) terhadap masyarakat. Jadi ada dua manfaat yang mendasar dari mimbar ilmiah, pertama untuk meningkatkan kepekaan kualitas intelektual mahasiswa, dan kedua untuk meningkatkan kepekaan mahasiswa terhadap masyarakat (lingkungannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Upaya mendasar agar aplikasi pemanfaatan mimbar ilmiah itu bisa terselenggara maka harus tercipta kultur kebebasan mimbar (academic freedom culture) yang didukung oleh semua komponen Perguruan Tinggi. Kultur kebebasan mimbar bisa terwujud jika didukung adanya kebebasan belajar (freedom to learn) dan kebebasan berkomunikasi (freedom to communication). Kedua kebebasan ini merupakan sisi dari kebebasan mimbar dan merupakan upaya yang tepat dalam meningkatkan kepekaan mahasiswa. &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Freedom To Learn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Oleh karena implikasi Perguruan Tinggi tidak terlepas dari pengabdian masyarakat, maka kebebasan belajar (freedom to learn) harus diartikan secara luas, yaitu tidak hanya terbatas pada dinding-dinding kampus, akan tetapi juga kebebasan untuk mempelajari persoalan-persoalan yang ada di luar dinding-dinding kampus (masalah riil dalam masyarakat). Dan kebebasan untuk mempelajari masalah riil dalam masyarakat ini adalah fokus yang terlebih penting dalam mencetak mahasiswa yang betul-betul berurusan dengan masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Adanya kebebasan belajar yang berimplikasi sosial (masyarakat), dilihat dari pengembangan intelektual adalah sangat menguntungkan. Hal ini dikarenakan ramuan ilmu yang dikonsumir oleh mahasiswa sebagian dari dunia luar yang kondisinya lain dengan apa yang ada dalam masyarakat Indonesia.  Sebagai konsekwensinya apabila konsep-konsep serta teori yang datang dari luar tersebut mau digunakan untuk memecahkan problem-problem kemasyarakatan Indonesia maka memerlukan modifikasi dan penyesuaian seperlunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dengan demikian mahasiswa dalam pengembangan intelektualnya tidak bisa berpaling dari masalah kemasyarakatan. Dan apabila keterlibatan mahasiswa dalam memahami masalah kemasyarakatan tidak dikembangkan maka ilmu-ilmu yang diterima di bangku kuliah akan menjadi pisau analisa yang tumpul. Alasan ini ditunjang oleh GBHN bahwa usaha pembinaan  mahasiswa diarahkan agar berjiwa penuh pengabdian sera memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara, sehingga bermanfaat bagi usaha-usaha nasional dan pembangunan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Freedom To Communication&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Setelah adanya kebebasan belajar (freedom to learn) sebagai langkah awal dari cara mempelajari persoalan-persoalan yang ada di lingkungan kampus dan masyarakat, maka untuk lebih meningkatkan kepekaan mahasiswa dalam  memperluas cakrawalan pemikiran dan penalaran, menumbuhkan sikap dinamis, kritis, terbuka dan mempunyai kemampuan untuk memilih alternatif  terbaik diperlukan terciptanya cultur kebebasan berkomunikasi (freedom to communication).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kebebasan berkomunikasi yang baik adalah adanya peluang mahasiswa untuk berpendapat, bertanya, berhak untuk melontarkan gagasan ilmiah secara obyektif serta kebebasan untuk penyebaran ilmu pengetahuan dan publikasi hasil-hasil penelitian kepada seluruh komponen Perguruan Tinggi  dan terhadap lingkungan masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dalam rangka terwujudnya kebebasan berkomunikasi ini, maka perlu adanya  hubungan kerjasama antara mahasiswa dengan komponen-komponen di lingkungan Perguruan Tinggi untuk mengadakan kegiatan-kegiatan ilmiah seperti seminar, diskusi, Pers, dan sebagainya. Sebab menciptakan kultur kebebasan mimbar ilmiah adalah merupakan tanggung jawab seluruh sivitas akademika Perguruan Tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Barangkali dengan pengertian freedom to learn dan freedom to communication tersebut mimbar ilmiah benar-benar dapat bermanfaat dalam meningkatkan kepekaan mahasiswa untuk mewujudkan peran Tri Dharma Perguruan Tinggi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-1605326670372056014?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/1605326670372056014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=1605326670372056014' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/1605326670372056014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/1605326670372056014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/07/peran-mahasiswa-dalam-mengemban.html' title='PERAN MAHASISWA DALAM MENGEMBAN'/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-8191713658073466689</id><published>2008-07-09T01:58:00.000-07:00</published><updated>2008-07-09T02:04:09.801-07:00</updated><title type='text'>Majasiswa dan tanggung jawab sosial</title><content type='html'>Perguruan tinggi adalah sebuah institusi yang tidak sekedar untuk kuliah, mencatat pelajaran, pulang dan tidur. Tapi harus dipahami bahwa perguruan tinggi adalah tempat untuk penggemblengan mahasiswa dalam melakukan kontempelasi dan penggambaran intelektual agar mempunyai idealisme dan komitmen perjuangan sekaligus tuntutan perubahan.&lt;br /&gt;Penggagasan terhadap terminologi perguruan tinggi tidak akan bisa dilepaskan bisa dilepaskan dari suplemen utama, yaitu mahasiswa. Stigma yang muncul dalam diskursus perguruan tinggi selama ini cenderung berpusat pada kehidupan mahasiswa. Hal ini sebagai konsekuensi logis agresitivitas mereka dalam merespon gejala sosial ketimbang kelompok lain dari sebuah sistem civitas akademika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Akan tetapi fenomena yang berkembang menunjukkan bahwa derap modernisasi di Indonesia dengan pembangunan sebagai ideologinya telah memenjarakan mahasiswa dalam sekat institusionalisasi, transpolitisasi dan depolitisasi dalam kampus. Keberhasilan upaya dengan dukungan penerapan konsep NKK/BKK itu, pada sisi lain mahasiswa dikungkung dunia isolasi hingga tercerabut dari realitas sosial yang melingkupinya. Akibatnya, mahasiswa mengalami kegamangan atas dirinya maupun peran-peran kemasyrakatan yang semestinya diambil. Mahasiswapun tidak lagi memiliki kesadaran kritis dan bahkan sebaliknya bersikap apolitis.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;   Melihat realitas seperti itu maka perlu ditumbuhkan kesadaran kritis mahassiwa dalam merespon gejala sosial yang dihadapinya, karena di samping belum tersentuh kepentingan praktis, mahasiswa lebih relatif tercerahkan (well informed) dan potensi sebagai kelompok dinamis yang diharapkan mampu mempengaruhi atau menjadi penyuluh pada basis mayarakat baik dalam lingkup kecil maupun secara luas. Dengan tataran idela seperti itu, semestinya mahasiswa dapat mengambil peran kemasyrakatan yang lebih bermakna bagi kehidupan kampus dan mayarakat. Oleh karena itulah, segenap mahasiswa dan generasi muda Banyuwangi mengajak kepada segenap mahasiswa dan orang muda Banyuwangi yang peduli akan perubahan, untuk membangun komitmen membenahi masadepan bangsa dan negara. Ter khusus membenahi banyuwangi sebagai tanah kelahiran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-8191713658073466689?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/8191713658073466689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=8191713658073466689' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/8191713658073466689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/8191713658073466689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/07/majasiswa-dan-tanggung-jawab-sosial.html' title='Majasiswa dan tanggung jawab sosial'/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-8051694841953571101</id><published>2008-06-12T01:54:00.000-07:00</published><updated>2008-06-12T01:57:34.851-07:00</updated><title type='text'>Sosiologi Pedesaan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ETIKA dan BUDAYA MASYARAKAT DESA &lt;br /&gt;A. MASYARAKAT DESA DALAM TINJAUAN SOSIAL BUDAYA&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengertian desa menurut kamus Poerwadarminta (1976) adalah:&lt;br /&gt;“sekelompok rumah di luar kota yang merupakan kesatuan, kampung (di luar kota); dusun;… 2 dusun atau udik (dalam arti daerah pedalaman sebagai lawan dari kota);….”. Desa menurut kamus tersebut terutama dalam arti fisik. Lain lagi dengan istilah desa dalam rembug desa, yang berarti fisik, masyarakat dan pemerintahannya. Istilah lain yang memiliki pengertian hampir sama adalah village. Menurut The Random House Dictionary (1968), village adalah:&lt;br /&gt;“a small community or group of house in a rural  area usually smaller than a town and sometimes incorporated as a municipality”&lt;br /&gt;Definisi tersebut mengandung makna bahwa yang dimaksud dengan masyarakat kecil adalah masyarakat di daerah masyarakat pedesaan. Masyarakat kecil disebut juga rural community yang diartikan sebagai masyarakat yang anggota-anggotanya hidup bersama di suatu lokalitas tertentu, yang seorang merasa dirinya bagian dari kelompok, kehidupan mereka meliputi urusan-urusan yang merupakan tanggungjawab bersama dan masing-masing merasa terikat pada norma-norma tertentu yang mereka taati bersama.&lt;br /&gt;B. KARAKTERISTIK UMUM MASYARAKAT DESA&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masyarakat desa selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup bermasyarakat, yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik dapat digeneralisasikan pada kehidupan masyarakat desa di Jawa. Namun demikian, dengan adanya perubahan sosial religius dan perkembangan era informasi dan teknologi, terkadang sebagian karakteristik tersebut sudah “tidak berlaku”. Berikut ini disampaikan sejumlah karakteristik masyarakat desa, yang terkait dengan etika dan budaya mereka, yang bersifat umum yang selama ini masih sering ditemui. Setidaknya, ini menjadi salah satu wacana bagi kita yang akan bersama-sama hidup di lingkungan pedesaan. &lt;br /&gt;1. Sederhana&lt;br /&gt;Sebagian besar masyarakat desa hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan ini terjadi karena dua hal:&lt;br /&gt;a. Secara ekonomi memang tidak mampu &lt;br /&gt;b. Secara budaya memang tidak senang menyombongkan diri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Mudah curiga&lt;br /&gt;Secara umum, masyarakat desa akan menaruh curiga pada:&lt;br /&gt;a. Hal-hal baru di luar dirinya yang belum dipahaminya&lt;br /&gt;b. Seseorang/sekelompok yang bagi komunitas mereka dianggap “asing” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Menjunjung tinggi “unggah-ungguh”&lt;br /&gt;Sebagai “orang Timur”, orang desa sangat menjunjung tinggi kesopanan atau “unggah-ungguh” apabila:&lt;br /&gt;a. Bertemu dengan tetangga &lt;br /&gt;b. Berhadapan dengan pejabat&lt;br /&gt;c. Berhadapan dengan orang yang lebih tua/dituakan&lt;br /&gt;d. Berhadapan dengan orang yang lebih mampu secara ekonomi&lt;br /&gt;e. Berhadapan dengan orang yang tinggi tingkat pendidikannya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Guyub, kekeluargaan&lt;br /&gt;Sudah menjadi karakteristik khas bagi masyarakat desa bahwa suasana kekeluargaan dan persaudaraan telah “mendarah-daging” dalam hati sanubari mereka. &lt;br /&gt;5. Lugas&lt;br /&gt;“Berbicara apa adanya”, itulah ciri khas lain yang dimiliki masyarakat desa. Mereka tidak peduli apakah ucapannya menyakitkan atau tidak bagi orang lain karena memang mereka tidak berencana untuk menyakiti orang lain. Kejujuran, itulah yang mereka miliki. &lt;br /&gt;6. Tertutup dalam hal keuangan&lt;br /&gt;Biasanya masyarakat desa akan menutup diri manakala ada orang yang bertanya tentang sisi kemampuan ekonomi keluarga. Apalagi jika orang tersebut belum begitu dikenalnya. Katakanlah, mahasiswa yang sedang melakukan tugas penelitian survei pasti akan sulit mendapatkan informasi tentang jumlah pendapatan dan pengeluaran mereka. &lt;br /&gt;7. Perasaan “minder” terhadap orang kota&lt;br /&gt;Satu fenomena yang ditampakkan oleh masayarakat desa, baik secara langsung ataupun tidak langsung ketika bertemu/bergaul dengan orang kota adalah perasaan mindernya yang cukup besar. Biasanya mereka cenderung untuk diam/tidak banyak omong. &lt;br /&gt;8. Menghargai (“ngajeni”) orang lain&lt;br /&gt;Masyarakat desa benar-benar memperhitungkan kebaikan orang lain yang pernah diterimanya sebagai “patokan” untuk membalas budi sebesar-besarnya. Balas budi ini tidak selalu dalam wujud material tetapi juga dalam bentuk penghargaan sosial atau dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan “ngajeni”. &lt;br /&gt;9. Jika diberi janji, akan selalu diingat&lt;br /&gt;Bagi masyarakat desa, janji yang pernah diucapkan seseorang/komunitas tertentu akan sangat diingat oleh mereka terlebih berkaitan dengan kebutuhan mereka. Hal ini didasari oleh pengalaman/trauma yang selama ini sering mereka alami, khususnya terhadap janji-janji terkait dengan program pembangunan di daerahnya.  &lt;br /&gt;Sebaliknya bila janji itu tidak ditepati, bagi mereka akan menjadi “luka dalam” yang begitu membekas di hati dan sulit menghapuskannya. Contoh kecil: mahasiswa menjanjikan pertemuan di Balai Desa jam 19.00. Dengan tepat waktu, mereka telah standby namun mahasiswa baru datang jam 20.00. Mereka akan sangat kecewa dan selalu mengingat pengalaman itu. &lt;br /&gt;10. Suka gotong-royong&lt;br /&gt;Salah satu ciri khas masyarakat desa yang dimiliki dihampir seluruh kawasan Indonesia adalah gotong-royong atau kalau dalam masyarakat Jawa lebih dikenal dengan istilah “sambatan”. Uniknya, tanpa harus dimintai pertolongan, serta merta mereka akan “nyengkuyung” atau bahu-membahu meringankan beban tetangganya yang sedang punya “gawe” atau hajatan. Mereka tidak memperhitungkan kerugian materiil yang dikeluarkan untuk membantu orang lain. Prinsip mereka: “rugi sathak, bathi sanak”. Yang kurang lebih artinya: lebih baik kehilangan materi tetapi mendapat keuntungan bertambah saudara.  &lt;br /&gt;11. Demokratis&lt;br /&gt;Sejalan dengan adanya perubahan struktur organisasi di desa, pengambilan keputusan terhadap suatu kegiatan pembangunan selalu dilakukan melalui mekanisme musyawarah untuk mufakat. Dalam hal ini peran BPD (Badan Perwakilan Desa) sangat penting dalam mengakomodasi pendapat/input dari warga. &lt;br /&gt;12. Religius&lt;br /&gt;Masyarakat pedesaan dikenal sangat religius. Artinya, dalam keseharian mereka taat menjalankan ibadah agamanya. Secara kolektif, mereka juga mengaktualisasi diri ke dalam kegiatan budaya yang bernuansa keagamaan. Misalnya: tahlilan, rajaban, Jumat Kliwonan, dll. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Catatan: 11 karakteristik tersebut, pada saat ini tidak bisa digeneralisasikan bagi seluruh warga masyarakat desa. Ini disebabkan oleh adanya perubahan sosial religius yang begitu besar pengaruhnya dalam tata pranata kehidupan masyarakat pedesaan. Dampak yang terjadi meliputi aspek agama, ekonomi, sosial politik, budaya dan pertahanan keamanan. (ingat: kasus kerusuhan yang terjadi di beberapa pedesaan di pulau Jawa) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;C. CARA MENYIKAPI atau BERADAPTASI&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Bersikap “andhap asor”&lt;br /&gt;Sebagai “komunitas tamu” yang berasal dari luar komunitas masyarakat desa seyogyanya kita mengambil posisi yang “merendah” atau minimal “seimbang” sekalipun secara materi dan intelektualitas lebih tinggi mereka. &lt;br /&gt;2. Bersahabat&lt;br /&gt;Sifat arogan harus dikikis habis, diganti dengan perilaku yang bersahabat dan “sumedulur” (bersaudara). Sebagai tamu sudah semestinya tidak bersikap arogan dan menunjukkan sifat dan perilaku kekotaan. &lt;br /&gt;3. Menghargai&lt;br /&gt;Sebagai reaksi atas sikap kekeluargaan dari masyarakat desa, sepantasnya kita juga menghargai mereka. Sikap menghargai ini dapat diberikan dalam hal:&lt;br /&gt;a. Memahami pola pikir mereka yang berbeda kontra dengan pola pikir kita&lt;br /&gt;b. Menerima pemberian sesuatu sebagai bentuk “tresno” (kasih sayang) mereka kepada kita. &lt;br /&gt;c. Memahami pola hidup mereka yang jauh berbeda dengan pola hidup kita&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Sopan santun&lt;br /&gt;Dalam rangka mengikuti adat/istiadat/kebiasaan yang berlaku di desa maka sudah selayaknya kita menyesuaikan diri, diantaranya:&lt;br /&gt;• Dalam hal berpakaian, sebaiknya tidak mengenakan pakaian “ala kota”.&lt;br /&gt;• Dalam gaya hidup, sebaiknya tidak menunjukkan sikap yang menurut mereka “pamer materi”. Misalnya: ber-handphone ria ditengah-tengah mereka, ber-walkman ria sambil berbicara dengan mereka.&lt;br /&gt;• Dalam hal berbicara, sebaiknya tidak menggunakan kata-kata/kalimat yang hanya bisa dipahami oleh kalangan mahasiswa. Misalnya: bahasa Inggris/bahasa “ngilmiah”. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Terbuka&lt;br /&gt;Sebagai reaksi positif atas keterbukaan yang ditunjukkan oleh masyarakat desa maka seyogyanya kita juga menunjukkan sikap terbuka kepada mereka, misalnya:&lt;br /&gt;• Jika tuan rumah sudah berbicara apa adanya tentang menu makanan sehari-hari maka jika kita memang kurang suka sebaiknya “ngomong”. Contoh: Si A tidak suka makan mie. Sebaiknya ngomong ke tuan rumah daripada nggerundhel.&lt;br /&gt;• Jika keluar dari rumah pondokan sebaiknya menjelaskan secara terbuka: mau kemana, dengan siapa dan kapan pulang. Hal ini penting, karena biasanya mahasiswa sudah dianggap sebagai anak sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6. Membantu tanpa pamrih&lt;br /&gt;Mengacu pada karakteristik gotong-royong yang dimiliki masyrakat desa, maka sudah semestinya kita menyesuaikan dan mengikuti kebiasaan itu. Bekerja dan membantu masyarakat desa tanpa pamrih. Dengan senang hati mengikuti setiap acara tradisional (misal: kenduri) yang diadakan di desa. Sekalipun tetap memperhitungkan waktu kerja program COP. &lt;br /&gt;7. Tepat waktu&lt;br /&gt;Demi menjaga kepercayaan masyarakat desa, sebaiknya perlu diperhatikan ketepatan waktu dalam setiap acara peretemuan yang melibatkan orang banyak. Hal ini sangat penting agar masyarakat desa juga menaruh kepercayaan kepada kita sehingga sosialisasi program dan keterlanjutan pelaksanaannya dapat terjaga.   &lt;br /&gt;8. Silahturahmi&lt;br /&gt;Sebagai “tamu asing” sudah menjadi kebiasaan yang lumrah jika kita harus melakukan silaturahmi (= memperkenalkan diri) kepada warga masyarakat desa agar didalam melakukan sosialisasi dan pelaksanaan program tidak mengalami hambatan hanya dikarenakan belum kenal. Silaturahmi ini dapat dilakukan secara formal maupun informal. Misal: &lt;br /&gt;• Ketika melakukan sosialisasi ketemu warga desa, sebaiknya langsung memperkenalkan diri (informal)&lt;br /&gt;• Perkenalan diri secara formal di Balai Desa (formal)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;9. “Srawung”&lt;br /&gt;Selama menjalankan program COP sebaiknya kita tetap menjaga hubungan baik dengan masyarakat desa sehari-hari. Jangan sekali-kali kita mengucilkan diri dan seolah membentuk kelompok “eksklusif  orang kota”. &lt;br /&gt;10. Gotong-royong&lt;br /&gt;Partisipatif, ini kata kuncinya ! Dalam menjalankan program kerja jangan sampai meninggalkan prinsip dasar, yaitu PARTISIPASI MASYARAKAT. Pada dasarnya program dapat berjalan karena ada partisipasi, baik dari seluruh anggota kelompok maupun masyarakat setempat. Memunculkan minat berpartisipasi tidaklah mudah, karena itu dibutuhkan komitmen yang tinggi yang diawali dari diri sendiri. &lt;br /&gt;11. Demokratis&lt;br /&gt;Mencermati iklim demokrasi yang juga sudah merambah di desa, hendaknya kita bersedia mengikuti proses yang berlangsung. Karena itu, dalam merencanakan dan melaksanakan program kita harus melibatkan BPD (Badan Perwakilan Desa). Ini juga berarti kita menghargai proses demokrasi dalam sebuah “lembaga” yang namanya desa. &lt;br /&gt;12. Religius&lt;br /&gt;Menyikapi kenyataan ini, secara psikologis kita tidak perlu khawatir atau bahkan takut karena justru akan menyulitkan kita untuk bersosialisasi.  Sikap menghargai, itulah yang mesti kita kembangkan ! Kita mesti tahu diri disaat masyarakat desa sedang menjalankan ibadah agamanya. Karena itu dalam menyusun suatu kegiatan, pertimbangan faktor “lima waktu” sangat penting untuk diperhatikan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;D. ALTERNATIF SISTEM PENDEKATAN kepada MASYARAKAT DESA dalam RANGKA PENGEMBANGAN MASYARAKAT&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Kekeliruan pendekatan selama ini dan beberapa akibatnya:&lt;br /&gt;• Pendekatan kebijakan pemerintah&lt;br /&gt;• Pendekatan ekonomis&lt;br /&gt;• Pendekatan intimidatif&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengembangan masyarakat secara partisipatif sebagai alternatif:&lt;br /&gt;• Pendekatan Partisipatif &lt;br /&gt;• Pendekatan Persuasif&lt;br /&gt;• Pendekatan Akomodatif&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TIGA GARIS BESAR INDIKATOR KEBERHASILAN COMMUNITY DEVELOPMENT (= “payung besar” dari KKN):&lt;br /&gt;1. Perbaikan dan peningkatan kondisi dan taraf hidup masyarakat desa telah berhasil. &lt;br /&gt;2. Termotivasinya masyarakat desa untuk berpartisipasi dalam pembangunan desanya sendiri.&lt;br /&gt;3. Tumbuhnya kemampuan masyarakat desa untuk berkembang secara mandiri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(Talidzuhu Ndraha, 1986) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8 jenis partisipasi:&lt;br /&gt;1. Pemikiran&lt;br /&gt;2. Uang&lt;br /&gt;3. Tenaga kerja&lt;br /&gt;4. Konsumsi&lt;br /&gt;5. Peralatan kerja&lt;br /&gt;6. Perlindungan&lt;br /&gt;7. Tempat tinggal&lt;br /&gt;8. Suasana kekeluargaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita berbagai macam nikmat, sehingga aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu membawa keberkahan, baik kehidupan di alam dunia ini, lebih-lebih  lagi pada kehidupan akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita capai menjadi lebih mudah dan penuh manfaat. &lt;br /&gt;     Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada  Dosen serta teman-teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moriil maupun materil, sehingga makalah ini terselesaikan  dalam waktu yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;     Kami menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangnya, baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian  kepada dosen serta teman-teman sekalian, yang kadangkala hanya  menturuti egoisme pribadi, untuk itu besar harapan kami jika ada kritik dan saran  yang membangun untuk lebih menyempurnakan makalah-makah kami dilain waktu. &lt;br /&gt;     Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudah-mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil hikmah dari judul ini ( masyarakat desa dan masyarakat kota ) sebagai tambahan dalam menambah referensi yang telah ada. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Jakarta,    Januari 2007 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      Penyusun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. Alasan pemilihan Judul&lt;br /&gt;Melihat dari berbagai aspek yang ada, baik kita lihat secara langsung ataupun melalui media informasi, baik cetak maupun media elektronik, bahwa betapa fenomena hidup yang ada dipedesaan mulai mengalami pergeseran nilai, norma serta adat istiadat  yang tidak lagi dihiraukan oleh banyak penduduk desa yang ingin merasa kehidupannya berubah, baik ekonomi maupun status sosialnya. Serta fenomena kehidupan perkotaan yang mempunyai motto hidup “Biar tekor asal Tersohor” menjadi sebuah gaya hidup serba boleh, walaupun itu melabrak norma-norma hukum lebih-lebih norma agama.&lt;br /&gt;B. Latar Belakang Pemilihan Judul&lt;br /&gt;Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.&lt;br /&gt;Masyarakat (society) merupakan istilah yang digunakan untuk menerangkan komuniti manusia yang tinggal bersama-sama. Boleh juga dikatakan masyarakat itu merupakan jaringan perhubungan antara pelbagai individu. Dari segi perlaksaan, ia bermaksud sesuatu yang dibuat - atau tidak dibuat - oleh kumpulan orang itu. Masyarakat merupakan subjek utama dalam pengkajian sains sosial. &lt;br /&gt;Perkataan society datang daripada bahasa Latin societas, "perhubungan baik dengan orang lain". Perkataan societas diambil dari socius yang bererti "teman", maka makna masyarakat itu adalah berkait rapat dengan apa yang dikatakan sosial. Ini bermakna telah tersirat dalam kata masyarakat bahawa ahli-ahlinya mempunyai kepentingan dan matlamat yang sama. Maka, masyarakat selalu digunakan untuk menggambarkan rakyat sesebuah negara.1&lt;br /&gt;Walaupun setiap masyarakat itu berbeza, namun cara ia musnah adalah selalunya sama: penipuan, pencurian, keganasan, peperangan dan juga kadangkala penghapusan etnik jika perasaan perkauman itu timbul. Masyarakat yang baru akan muncul daripada sesiapa yang masih bersama, ataupun daripada sesiapa yang tinggal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN &lt;br /&gt;A. Definisi Masyarakat&lt;br /&gt;Dalam Bahasa Inggris disebut  Society, asal katanya Socius yang berarti “kawan”. Kata “Masyarakat” berasal dari bahasa Arab, yaitu Syiek, artinya “bergaul”. Adanya saling bergaul ini tentu karena ada bentuk – bentuk akhiran  hidup, yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai pribadi melainkan oleh unsur – unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan kesatuan2&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;B. Masyarakat Pedesaan (masyarakat tradisional)&lt;br /&gt;a. Pengertian desa/pedesaan&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan desa menurut Sutardjo Kartodikusuma mengemukakan sebagai berikut: Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri3&lt;br /&gt;Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesatuan goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.&lt;br /&gt;Sedang menurut Paul H. Landis :Desa adalah pendudunya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.&lt;br /&gt;b. Ada pertalian perasaan yang sama  tentang kesukaan terhadap kebiasaan &lt;br /&gt;c)  Cara berusaha (ekonomi)adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti : iklim, keadaan alam ,kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan&lt;br /&gt;Dalam kamus sosiologi kata tradisional dari bahasa Inggris, Tradition artinya Adat istiadat dan kepercayaan yang turun menurun dipelihara, dan ada beberapa pendapat yang ditinjau dari berbagai segi bahwa, pengertian desa itu sendiri mengandung kompleksitas yang saling berkaitan satu sama lain diantara unsur-unsurnya, yang sebenarnya desa masih dianggap sebagai standar dan pemelihara sistem kehidupan bermasyarakat dan kebudayaan asli seperti tolong menolong, keguyuban, persaudaraan, gotong royong, kepribadian dalam berpakaian, adat istiadat , kesenian kehidupan moral susila dan lain-lain yang mempunyai ciri yang jelas.&lt;br /&gt;Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan pengertian desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Dari defenisi tersebut, sebetulnya desa merupakan bagian vital bagi keberadaan bangsa Indonesia. Vital karena desa merupakan satuan terkecil dari bangsa ini yang menunjukkan keragaman Indonesia. Selama ini terbukti keragaman tersebut telah menjadi kekuatan penyokong bagi tegak dan eksisnya bangsa. Dengan demikian penguatan desa menjadi hal yang tak bisa ditawar dan tak bisa dipisahkan dari pembangunan bangsa ini secara menyeluruh. &lt;br /&gt;Memang hampir semua kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan pembangunan desa mengedepankan sederet tujuan mulia, seperti mengentaskan rakyat miskin, mengubah wajah fisik desa, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat, memberikan layanan social desa, hingga memperdayakan masyarakat dan membuat pemerintahan desa lebih modern. Sayangnya sederet tujuan tersebut mandek diatas kertas.&lt;br /&gt;Karena pada kenyataannya desa sekedar dijadikan obyek pembangunan, yang keuntungannya direguk oleh actor yang melaksanakan pembangunan di desa tersebut : bisa elite kabupaten, provinsi, bahkan pusat.4 Di desa, pembangunan fisik menjadi indicator keberhasilan pembangunan. Karena itu, Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang ada sejak tahun 2000 dan secara teoritis memberi kesempatan pada desa untuk menentukan arah pembangunan dengan menggunakan dana PPK, orientasi penggunaan dananyapun lebih untuk pembangunan fisik. Bahkan, di Sumenep (Madura), karena kuatnya peran kepala desa (disana disebut klebun) dalam mengarahkan dana PPK untuk pembangunan fisik semata, istilah PPK sering dipelesetkan menjadi proyek para klebun. &lt;br /&gt;Menyimak realitas diatas, memang benar bahwa yang selama ini terjadi sesungguhnya adalah “Pembangunan di desa” dan bukan pembangunan untuk, dari dan oleh desa. Desa adalah unsur bagi tegak dan eksisnya sebuah bangsa (nation) bernama Indonesia.&lt;br /&gt;Kalaupun derap pembangunan merupakan sebuah program yang diterapkan sampai kedesa-desa, alangkah baiknya jika menerapkan konsep :”Membangun desa, menumbuhkan kota”. Konsep ini, meski sudah sering dilontarkan oleh banyak kalangan, &lt;br /&gt;tetapi belum dituangkan ke dalam buku yang khusus dan lengkap. Inilah tantangan yang harus segera dijawab.&lt;br /&gt;b. Ciri-ciri Masyarakat desa (karakteristik)&lt;br /&gt;Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mebngenal ciri-ciri sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan  tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain  dan menolongnya tanpa pamrih.&lt;br /&gt;b. Orientasi kolektif  sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.&lt;br /&gt;c. Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme)&lt;br /&gt;d. Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).&lt;br /&gt;e. Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott Parson) dapat terlihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar.5&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;C. Masyarakat Perkotaan &lt;br /&gt;a. Pengertian Kota&lt;br /&gt;Seperti halnya desa, kota juga mempunyai pengertian yang bermacam-macam seperti pendapat beberapa ahli berikut ini.&lt;br /&gt;i. Wirth&lt;br /&gt;Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.&lt;br /&gt;ii. Max Weber&lt;br /&gt;Kota menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal.  &lt;br /&gt;iii. Dwigth Sanderson&lt;br /&gt;Kota ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih.&lt;br /&gt;Dari beberapa pendapat secara umum dapat dikatakan mempunyani ciri-ciri mendasar yang sama. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan.&lt;br /&gt;Menurut konsep Sosiologik sebagian Jakarta dapat disebut  Kota,6 karena memang gaya hidupnya yang cenderung bersifat individualistik. Marilah sekarang kita meminjam lagi teori Talcott Parsons mengenai tipe masyarakat kota yang diantaranya mempunyai ciri-ciri  :&lt;br /&gt;a).    Netral Afektif&lt;br /&gt;Masyarakat Kota memperlihatkan sifat yang lebih mementingkat Rasionalitas dan sifat rasional ini erat hubungannya dengan konsep Gesellschaft atau Association. Mereka tidak mau mencampuradukan hal-hal yang bersifat emosional atau yang menyangkut perasaan pada umumnya dengan hal-hal yang bersifat rasional, itulah sebabnya tipe masyarakat itu disebut netral dalam perasaannya.&lt;br /&gt;b).  Orientasi Diri&lt;br /&gt;Manusia dengan kekuatannya sendiri harus dapat mempertahankan dirinya sendiri, pada umumnya dikota tetangga itu bukan orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan kita oleh karena itu setiap orang dikota terbiasa hidup tanpa menggantungkan diri pada orang lain, mereka cenderung untuk individualistik.&lt;br /&gt;      c).   Universalisme &lt;br /&gt;Berhubungan dengan semua hal yang berlaku umum, oleh karena itu pemikiran rasional merupakan dasar yang sangat penting untuk Universalisme. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      d).  Prestasi&lt;br /&gt;Mutu atau prestasi seseorang akan dapat menyebabkan orang itu diterima  berdasarkan kepandaian atau keahlian yang dimilikinya.&lt;br /&gt;      e).  Heterogenitas&lt;br /&gt;Masyarakat kota lebih memperlihatkan sifat Heterogen, artinya terdiri dari lebih banyak komponen dalam susunan penduduknya.&lt;br /&gt;b. Ciri-ciri masyarakat Perkotaan  &lt;br /&gt;Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu :&lt;br /&gt;i. Kehidupan keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.&lt;br /&gt;ii. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada orang lain (Individualisme).&lt;br /&gt;iii. Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.&lt;br /&gt;iv. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.&lt;br /&gt;v. Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, intuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.&lt;br /&gt;vi. Perubahan-perubahan tampak nyata  dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;D. Perbedaan antara desa dan kota&lt;br /&gt;Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community). Menurut Soekanto (1994), per-bedaan tersebut sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana, karena dalam masyarakat modern, betapa pun kecilnya suatu desa, pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Perbedaan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan, pada hakekatnya bersifat gradual. &lt;br /&gt;Kita dapat membedakan antara masya-rakat desa dan masyarakat kota yang masing-masing punya karakteristik tersendiri. Masing-masing punya sistem yang mandiri, dengan fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat berbeda, bahkan kadang-kadang dikatakan "berlawanan" pula. Perbedaan ciri antara kedua sistem tersebut dapat diungkapkan secara singkat menurut Poplin (1972) sebagai berikut:   &lt;br /&gt;Masyarakat Pedesaan Masyarakat Kota&lt;br /&gt;Perilaku homogen &lt;br /&gt;Perilaku yang dilandasi oleh konsep kekeluargaan dan kebersamaan &lt;br /&gt;Perilaku yang berorientasi pada tradisi dan status &lt;br /&gt;Isolasi sosial, sehingga statik &lt;br /&gt;Kesatuan dan keutuhan kultural &lt;br /&gt;Banyak ritual dan nilai-nilai sakral &lt;br /&gt;Kolektivisme  Perilaku heterogen &lt;br /&gt;Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan &lt;br /&gt;                                                      Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi &lt;br /&gt;Mobilitas sosial, sehingga dinamik &lt;br /&gt;Kebauran dan diversifikasi kultural &lt;br /&gt;Birokrasi fungsional dan nilai-nilai sekular                                    Individualisme &lt;br /&gt;Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang lebih erat dan lebih mendalam ketimbang hubungan mereka dengan warga masyarakat pedesaan lainnya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan (Soekanto, 1994). Selanjutnya Pudjiwati (1985), menjelaskan ciri-ciri relasi sosial yang ada di desa itu, adalah pertama-tama, hubungan kekerabatan. Sistem kekerabatan dan kelompok kekerabatan masih memegang peranan penting. Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian, walaupun terlihat adanya tukang kayu, tukang genteng dan bata, tukang membuat gula, akan tetapi inti pekerjaan penduduk adalah pertanian. Pekerjaan-pekerjaan di samping pertanian, hanya merupakan pekerjaan sambilan saja7. &lt;br /&gt;Golongan orang-orang tua pada masyarakat pedesaan umumnya memegang peranan penting. Orang akan selalu meminta nasihat kepada mereka apabila ada kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Nimpoeno (1992) menyatakan bahwa di daerah pedesaan kekuasaan-kekuasaan pada umumnya terpusat pada individu seorang kiyai, ajengan, lurah dan sebagainya. &lt;br /&gt;Ada beberapa ciri yang dapat dipergunakan  sebagai petunjuk untuk membedakan antara desa dan kota. Dengan melihat perbedaan perbedaan yang ada mudah mudahan akan dapat mengurangi kesulitan dalam menentukan apakah suatu masyarakat dapat disebut sebagi masyarakat pedeasaan atau masyarakat perkotaan.&lt;br /&gt;Ciri ciri tersebut antara lain :&lt;br /&gt;1. jumlah dan kepadatan penduduk &lt;br /&gt;2. lingkungan hidup&lt;br /&gt;3. mata pencaharian&lt;br /&gt;4. corak kehidupan sosial&lt;br /&gt;5. stratifiksi sosial&lt;br /&gt;6. mobilitas sosial&lt;br /&gt;7. pola interaksi sosial&lt;br /&gt;8. solidaritas sosial&lt;br /&gt;9. kedudukan dalam hierarki sistem administrasi nasional&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;E. Hubungan Desa-kota, hubungan pedesaan-perkotaan.&lt;br /&gt;   Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komonitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan bahan pangan seperti beras sayur mayur , daging dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi bagi jenis jenis pekerjaan tertentu dikota. Misalnya saja buruh bangunan dalam proyek proyek perumahan. Proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja pekerja musiman. Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan dibidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.&lt;br /&gt;   “Interface”, dapat diartikan adanya kawasan perkotaan yang tumpang-tindih dengan kawasan perdesaan, nampaknya persoalan tersebut sederhana, bukankah telah ada alat transportasi, pelayanan kesehatan, fasilitas pendidikan, pasar, dan rumah makan dan lain sebagainya, yang mempertemukan kebutuhan serta sifat kedesaan dan kekotaan.&lt;br /&gt;   Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami yaitu yang kuat akan menang, karena itu dalam hubungan desa-kota, makin besar suatu kota makin berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan.&lt;br /&gt;   Secara teoristik, kota merubah atau paling mempengaruhi desa melalui beberapa caar, seperti: (i) Ekspansi kota ke desa, atau boleh dibilang perluasan kawasan perkotaan dengan merubah atau mengambil kawasan perdesaan. Ini terjadi di semua kawasan perkotaan dengan besaran dan kecepatan yang beraneka ragam; (ii) Invasi kota , pembangunan kota baru seperti misalnya Batam dan banyak kota baru sekitar Jakarta merubah perdesaan menjadi perkotaan. Sifat kedesaan lenyap atau hilang dan sepenuhnya diganti dengan perkotaan; (iii) Penetrasi kota ke desa, masuknya produk, prilaku dan nilai kekotaan ke desa. Proses ini yang sesungguhnya banyak terjadi; (iv) ko-operasi kota-desa, pada umumnya berupa pengangkatan produk yang bersifat kedesaan ke kota. Dari keempat hubungan desa-kota tersebut kesemuanya diprakarsai pihak dan orang kota. Proses sebaliknya hampir tidak pernah terjadi, oleh karena itulah berbagai permasalahan dan gagasan yang dikembangkan pada umumnya dikaitkan dalam kehidupan dunia yang memang akan mengkota.&lt;br /&gt;Salah satu bentuk hubungan antara kota dan desa adalah :&lt;br /&gt;a). Urbanisasi dan Urbanisme&lt;br /&gt;Dengan adanya hubungan Masyarakat Desa dan Kota  yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut maka timbulah masalah baru yakni ; Urbanisasi yaitu suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan. (soekanto,1969:123 ).8&lt;br /&gt;b. Sebab-sebab Urbanisasi &lt;br /&gt;1. Faktor-faktor yang mendorong penduduk desa untuk meninggalkan daerah kediamannya (Push factors)&lt;br /&gt;2. Faktor-faktor yang ada dikota yang menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap dikota (pull factors)&lt;br /&gt;• Hal – hal yang termasuk push factor antara lain :&lt;br /&gt;a. Bertambahnya penduduk sehingga tidak seimbang dengan persediaan lahan pertanian,&lt;br /&gt;b. Terdesaknya kerajinan rumah di desa oleh produk industri modern.&lt;br /&gt;c. Penduduk desa, terutama kaum muda, merasa tertekan oleh oleh adat istiadat yang ketat sehingga mengakibatkan suatu cara hidup yang monoton.&lt;br /&gt;d. Didesa tidak banyak kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;e. Kegagalan panen yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti banjir, serangan hama, kemarau panjang, dsb. Sehingga memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan lain dikota.&lt;br /&gt;• Hal – hal yang termasuk pull factor antara lain :&lt;br /&gt;a. Penduduk desa kebanyakan beranggapan bahwa dikota  banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan&lt;br /&gt;b. Dikota lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industri kerajinan.&lt;br /&gt;c. Pendidikan terutama pendidikan lanjutan, lebih banyak dikota dan lebih mudah didapat.&lt;br /&gt;d. Kota dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam kultur manusianya.&lt;br /&gt;e. Kota memberi kesempatan untuk menghindarkan diri dari kontrol sosial yang ketat atau untuk mengangkat diri dari posisi sosial yang rendah ( Soekanti, 1969 : 124-125 ).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP &lt;br /&gt;A.  Kesimpulan&lt;br /&gt;   Manusia menjalani  kehidupan didunia ini tidaklah bisa hanya mengandalkan dirinya sendiri dalam artian butuh bantuan dan pertolongan orang lain , maka dari itu manusia disebut makhluk sosial, sesuai dengan Firman Allah SWT yang artinya : “ Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal ( bersosialisasi ).....” (Al-Hujurat :13 ). Oleh karena itu kehidupan bermasyarakat hendaklah menjadi sebuah pendorong  atau sumber kekuatan untuk mencapai cita-cita kehidupan yang harmonis, baik itu kehidupan didesa maupun diperkotaan. Tentunya itulah harapan kita bersama, tetapi fenomena apa yang kita saksikan sekarang ini, jauh sekali dari harapan dan tujuan pembangunan Nasional negara ini, kesenjangan Sosial,  yang kaya makin Kaya dan yang Miskin tambah melarat , mutu pendidikan yang masih rendah, orang mudah sekali membunuh saudaranya (dekadensi moral ) hanya karena hal sepele saja, dan masih banyak lagi fenomena kehidupan tersebut diatas yang kita rasakan bersama, mungkin juga fenomena itu ada pada lingkungan dimana kita tinggal. &lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu, barangkali kita berprasangka atau mengira fenomena-fenomena yang terjadi diatas hanya terjadi dikota saja, ternyata problem yang tidak jauh beda ada didesa, yang kita sangka adalah tempat yang aman, tenang  dan berakhlak (manusiawi), ternyata telah tersusupi oleh kehidupan kota yang serba boleh dan bebas itu disatu pihak masalah urbanisasi menjadi masalah serius bagi kota dan desa, karena masyarakat desa yang berurbanisasi ke kota menjadi masyarakat marjinal dan bagi desa pengaruh urbanisasi menjadikan sumber daya manusia yang produktif di desa menjadi berkurang yang membuat sebuah desa tak maju bahkan cenderung tertinggal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B. Saran - saran&lt;br /&gt;      Pembangunan Wilayah perkotaan seharusnya berbanding lurus dengan pengembangan wilayah desa yang berpengaruh besar terhadap pembangunan kota. Masalah yang terjadi di kota tidak terlepas karena adanya problem masalah yang terjadi di desa, kurangnya sumber daya manusia yang produktif akibat urbanisasi menjadi masalah yang pokok untuk diselesaikan dan paradigma yang sempit bahwa dengan mengadu nasib dikota maka kehidupan menjadi bahagia dan sejahtera menjadi masalah serius.  Problem itu tidak akan menjadi masalah serius apabila pemerintah lebih fokus terhadap perkembangan dan pembangunan desa tertinggal dengan membuka lapangan pekerjaan dipedesaan sekaligus mengalirnya investasi dari kota dan juga menerapkan desentralisasi otonomi daerah yang memberikan keleluasaan kepada seluruh daerah untuk mengembangkan potensinya menjadi lebih baik, sehingga kota dan desa saling mendukung dalam segala aspek kehidupan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ahmadi, Abu, Drs. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineke Cipta.&lt;br /&gt;Kosim, H, E. 1996. Bandung: Sekolah Tinggi Bahasa Asing Yapari&lt;br /&gt;Marwanto, 12 November 2006. Jangan bunuh desa kami. Jakarta:Kompas&lt;br /&gt;_______, 1994. Sosiologi 3 SMU. Jakarta: Yudistira&lt;br /&gt;1 http://ms.wikipedia.org/wiki/Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-8051694841953571101?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/8051694841953571101/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=8051694841953571101' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/8051694841953571101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/8051694841953571101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/06/sosiologi-pedesaan.html' title='Sosiologi Pedesaan'/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-4134488027183482416</id><published>2008-05-20T21:07:00.001-07:00</published><updated>2008-05-20T21:07:52.686-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>cinta kagak bisa diteorikan ato diandaikan dalam prinsip ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;natural, happening and developing. Well, it s true if there are classification of love such....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gua gak ngerti maksud loe dengan hubungannya commercial&lt;br /&gt;contohnya apa dengan masyarakat?....maksudnya dengan pengaruh pengalaman masyarakat apa? ...can u explore more..?&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapere Aude! Berpikirlah sendiri!&lt;br /&gt;Immanuel Kant pernah berkata : "Dua hal memenuhi hati sanubari dengan penuh takzim dan takjub, dengan kedua hal inilah pikiran menyibukkan diri : Langit berbintang di atas saya dan hukum moral di dalam saya".&lt;br /&gt;Kalau bagi aku, pikiranku menyibukkan diri dengan apa yang ada "di seberang" langit berbintang dan hukum moral dalam hati itu; Aku bicara tentang cinta.&lt;br /&gt;CINTA itu seperti laut, sedangkan pikiran kita itu seperti gayung. Tapi gayung itu bisa menampung sedikit saja air laut yang luas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itulah bahasa yang kita pakai untuk mengartikan cinta: Kita sebut cinta itu prinsipil untuk membedakannya dari nafsu yang irrasional, kita sebut suci untuk membedakannya dari sekedar suatu hasil evolusi sosial manusia, kita sebut tak terbatas untak membedakannya dari pengetahuan kita yang terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kata2 yang aku senangi dari pengantar Codex Iuris Canonici bunyinya kira2 begini: "Hukum (Lex) di buat bukan untuk menggantikan cinta kasih dan karunia tetapi untuk keteraturan yang memberikan tempat utama kepada cinta kasih dan karunia".&lt;br /&gt;Teori tentang cinta juga begitu; bukan untuk menggantikan cinta itu sendiri, tetapi agar cinta yang sebenarnya mendapatkan tempatnya yang terhormat dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudku tentang hubungan cinta dengan masyarakat itu begini loh mbak:&lt;br /&gt;Masyarakat kita sekarang semakin canggih, makin efisien dan makin efektif.&lt;br /&gt;Teknologi membuat pekerjaan makin mudah. Tapi akibatnya manusia jatuh pada penyembahan diktat nilai2 ekonomis; alienasi diri. Contohnya: Di kota2 besar kadang2 tetangga sendiri aja kagak tau! ELU ELU GUA GUA NGANA NGANA BETA BETA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada produksi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan justru kebutuhanlah yang dimanipulasi untuk memenuhi produksi, liat aja iklan pembalut, mulai dari yang bersayap ampe yang tipis kayak kertas aja ada. Bahkan segala usaha membongkar kebrobokan struktural ini pun dijinakkan bahkan turut dikomersialisasikan. Kasarnya jadi barang komoditi. Usaha ini kita bisa kategorisasikan agama, filosofi, ideologi. Mari kita lihat contohnya: Masih ingat waktu kita bahas THM harus tutup selama bulan ramadan? THM kita andaikan tempat maksiat, dia harus tutup selama puasa, tapi bulan2 lain silakan buka. Itukan sama saja mengajak masyarakat di bulan Ramadan untuk berbenah diri serta bertobat dan di bulan2 lain untuk bermaksiat.&lt;br /&gt;Jadi apa yang kita lihat? Agama jadi komoditi! Sekedar kedok untuk melancarkan struktur yang sudah sedemikian bobrok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi intinya biarpun kita capek2 ngomongin prinsip2 mulia seperti Cinta, Kebaikan, Agama, Etika. Semuanya sia2 kalau kita mengembalikan dalam pemahaman kita yang bersandarkan pada pengalaman kita di masyarakat.&lt;br /&gt;Kita perlu revolusi dan yang perlu kita revolusi pertama kali adalah cara berpikir kita.&lt;br /&gt;Kita tidak perlu merombak semua norma yang ada karena gak kita percayai lagi(gak perlu) tapi pendekatan terhadap norma2 itu yang perlu kita ubah.&lt;br /&gt;Yg kita pentingkan bukan bagaimana sesuatu itu berjalan sesuai aturan yg ada tapi bagaimana prinsip2 yang mendasari semua peraturan itu bisa terjamin.&lt;br /&gt;Contohnya : Peraturan lalu lintas tidak boleh dilanggar karena menjamin keselamtan manusia. Tapi bagaimana dengan ambulans yg membawa orang sekarat? Jadi yang diutamakan kita lihat adalah keselamatan manusia. Kita tidak meniadakan norma2 tetapi mau kritis kalau norma2 itu justru menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Yang boleh menjadi tujuan adalah prinsip yang mendasari norma itu. Dan seperti yang di atas tadi, prinsip di atas semua prinsip itu adalah CINTA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-4134488027183482416?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/4134488027183482416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=4134488027183482416' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/4134488027183482416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/4134488027183482416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/05/cinta-kagak-bisa-diteorikan-ato.html' title=''/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-7079823935054602525</id><published>2008-05-20T20:51:00.000-07:00</published><updated>2008-05-20T21:05:09.244-07:00</updated><title type='text'>Arti Cinta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align:center;"&gt;&lt;br /&gt;               &lt;embed src="http://img.kapanlagi.com/c/s/07912.swf" quality="high" bgcolor="#FFFFFF" width="500" height="357" type="application/x-shockwave-flash" pluginspage="http://www.macromedia.com/shockwave/download/index.cgi?P1  _Prod_Version=ShockwaveFlash" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               &lt;a href="http://kartu.kapanlagi.com/"&gt;Lihat Kartu Ucapan Lainnya&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;               (&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KapanLagi.com&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;               &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-7079823935054602525?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/7079823935054602525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=7079823935054602525' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/7079823935054602525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/7079823935054602525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/05/lihat-kartu-ucapan-lainnya-kapanlagi.html' title='Arti Cinta'/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-8717715676393648016</id><published>2008-05-20T20:20:00.000-07:00</published><updated>2008-05-20T20:22:29.140-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>ORDE LAMA&lt;br /&gt;Demokrasi terpimpin adalah sebuah demokrasi yang sempat ada di Indonesia, yang seluruh keputusan serta pemikiran berpusat pada pemimpinnya saja. Pada bulan 5 Juli 1959 parlemen dibubarkan dan Presiden Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden. Soekarno juga membubarkan Dewan Konstituante yang ditugasi untuk menyusun Undang-Undang Dasar yang baru, dan sebaliknya menyatakan diberlakukannya kembali Undang-Undang Dasar 1945, dengan semboyan "Kembali ke UUD' 45". Soekarno memperkuat tangan Angkatan Bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting.&lt;br /&gt;PKI menyambut "Demokrasi Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa PKI mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara nasionalisme, agama (Islam) dan komunisme yang dinamakan NASAKOM. Antara tahun 1959 dan tahun 1965, Amerika Serikat memberikan 64 juta dollar dalam bentuk bantuan militer untuk jendral-jendral militer Indonesia. Menurut laporan di "Suara Pemuda Indonesia": Sebelum akhir tahun 1960, Amerika Serikat telah melengkapi 43 batalyon angkatan bersenjata. Tiap tahun AS melatih perwira-perwira militer sayap kanan. Di antara tahun 1956 dan 1959, lebih dari 200 perwira tingkatan tinggi telah dilatih di AS, dan ratusan perwira angkatan rendah terlatih setiap tahun. Kepala Badan untuk Pembangunan Internasional di Amerika pernah sekali mengatakan bahwa bantuan AS, tentu saja, bukan untuk mendukung Sukarno dan bahwa AS telah melatih sejumlah besar perwira-perwira angkatan bersenjata dan orang sipil yang mau membentuk kesatuan militer untuk membuat Indonesia sebuah "negara bebas".&lt;br /&gt;Di tahun 1962, perebutan Irian Barat secara militer oleh Indonesia mendapat dukungan penuh dari kepemimpinan PKI, mereka juga mendukung penekanan terhadap perlawanan penduduk adat. Era "Demokrasi Terpimpin", yaitu kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum borjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, cadangan devisa menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer menjadi wabah.&lt;br /&gt;Parlemen dibubarkan dan Presiden Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden. Soekarno juga membubarkan Dewan Konstituante yang ditugasi untuk menyusun Undang-Undang Dasar yang baru, dan sebaliknya menyatakan diberlakukannya kembali Undang-Undang Dasar 1945, dengan semboyan "Kembali ke UUD' 45". Soekarno memperkuat tangan Angkatan Bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting. PKI menyambut "Demokrasi Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa PKI mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara nasionalisme, agama (Islam) dan komunisme yang dinamakan NASAKOM.&lt;br /&gt;Antara tahun 1959 dan tahun 1965, Amerika Serikat memberikan 64 juta dollar dalam bentuk bantuan militer untuk jendral-jendral militer Indonesia. Menurut laporan di "Suara Pemuda Indonesia": Sebelum akhir tahun 1960, Amerika Serikat telah melengkapi 43 batalyon angkatan bersenjata. Tiap tahun AS melatih perwira-perwira militer sayap kanan. Di antara tahun 1956 dan 1959, lebih dari 200 perwira tingkatan tinggi telah dilatih di AS, dan ratusan perwira angkatan rendah terlatih setiap tahun. Kepala Badan untuk Pembangunan Internasional di Amerika pernah sekali mengatakan bahwa bantuan AS, tentu saja, bukan untuk mendukung Sukarno dan bahwa AS telah melatih sejumlah besar perwira-perwira angkatan bersenjata dan orang sipil yang mau membentuk kesatuan militer untuk membuat Indonesia sebuah "negara bebas".&lt;br /&gt;Di tahun 1962, perebutan Irian Barat secara militer oleh Indonesia mendapat dukungan penuh dari kepemimpinan PKI, mereka juga mendukung penekanan terhadap perlawanan penduduk adat. Era "Demokrasi Terpimpin", yaitu kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum borjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, cadangan devisa menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer menjadi wabah.&lt;br /&gt;Pada 6 Juni 1901 Bung Karno lahir di Surabaya. Dia meninggal dunia pada 21 Juni 1970 di Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Saya yang ikut meliput acara pemakaman almarhum dari rumah duka di Wisma Yaso Jl Gatot Subroto (kini Museum Satria Mandala) ke Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, melihat pengantar jenasah yang begitu membludak di sepanjang jalan.Dari kediaman Nyonya Dewi, istrinya, di Wisma Yaso, ke bandara yang jaraknya belasan kilometer, mobil jenazah harus berjalan perlahan-lahan karena harus melewati ribuan massa. Di antara mereka banyak yang melelehkan air mata dan menangis histeris. Kabarnya, haul 27 tahun wafat presiden RI pertama itu akan diperingati di Blitar. Dikabarkan banyak tokoh nasional yang akan hadir, termasuk mantan presiden Megawati, puteri tertua almarhum.&lt;br /&gt;Presiden Soekarno — seperti dinyatakannya sendiri — baru merasa berkuasa penuh setelah pada 5 Juli 1959 mengeluarkan maklumat kembali ke UUD 1945 dan membubarkan konstituante hasil pemilu pertama. Dia begitu membenci demokrasi parlementer, yang olehnya dikritik sebagai demokrasi ala Barat yang tidak cocok dengan demokrasi Indonesia.&lt;br /&gt;Tapi, menurut Herbeth Feith &amp; Lance Coster dalam buku Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, periode demokrasi parlementer boleh dianggap berakhir Maret 1958, ketika terjadi pertentangan yang amat seru antara pusat dan daerah dan berujung pemberontakan PRRI/Permesta. Kekalahan pemberontak yang begitu cepat dan pengambilalihan semua milik Belanda, disusul dengan susunan politik baru. Parpol-parpol menjadi lemah dan peran para pemimpin ABRI menjadi jauh lebih besar.&lt;br /&gt;Pidato Presiden Soekarno pada hari kemerdekaan 17 Agustus 1960 berjudul Kembali ke Jalur Revolusi, oleh MPRS kemudian ditetapkan sebagai Manifesto Politik (Manipol) menjadi garis-garis besar Haluan Negara. Parpol maupun perorangan, yang dinilai menyimpang dari Manipol, disingkirkan. Masyumi dan PSI dibubarkan, tokoh-tokohnya dipenjarakan, termasuk tokoh oposisi yang tergabung dalam Liga Demokrasi. Setelah membubarkan BPS (Badan Pendukung Sukarnoisme), terakhir kali Bung Karno membubarkan Partai Murba — musuh utama PKI.&lt;br /&gt;Dari soal-soal politik kita bisa menyoroti suasana kota Jakarta di era demokrasi terpimpin, yang pada 22 Juni 2007 nanti berusia 480 tahun. Bung Karno, pada masa jayanya itu, punya pengaruh cukup menentukan dalam membentuk wajah kota Jakarta. Pada awal demokrasi terpimpin, penduduk Jakarta hampir tiga juta jiwa. Kenaikan enam kali dari populasi 1941, menjelang hengkangnya kolonial Belanda.&lt;br /&gt;Pada masa pendudukan Jepang penduduk Jakarta baru sekitar 500 ribu jiwa. Sebagian akibat migrasi, karena banyaknya orang ngendon ke Jakarta akibat stagnasi di kota-kota lain. Seperti juga sekarang, meski diberlakukan otonomi, tapi pendatang ke kota si Pitung ini makin membludak.&lt;br /&gt;Seperti juga tahun 1950-an, gubuk-gubuk liar banyak bertebaran di mana-mana. Tidak terhitung jumlah pengemis dan gelandangan. Bung Karno yang ketika itu menjadikan Jakarta sebagai kota perjuangan bangsa-bangsa tertindas, sangat sibuk menerima kepala-kepala negara asing.&lt;br /&gt;Guna menunjukkan keramahan bangsa Indonesia, untuk menyambut tamu negara dikerahkan murid-murid sekolah, kaum buruh dan pegawai negeri sipil. Mereka berbaris di sisi kiri dan kanan jalan yang di lewati tamu negara — dari bandara Kamayoran hingga depan Istana Negara — sambil mengelu-ngelukannya.&lt;br /&gt;Pernah terjadi menjelang kedatangan Presiden Polandia, di dekat bandara Kemayoramn dipasang bendera negara Eropa Timur itu yang bewarna putih-merah. Seorang Hansip, yang menyangka bendera itu dipasang terbalik, langsung menaiki tiang dan membaliknya jadi merah putih. Karuan saja panitia menjadi repot akibat ulah si Hansip. Benderapun dikembalikan menjadi putih merah.&lt;br /&gt;Bung Karno-lah yang membangun Jl Thamrin dan Jl Sudirman — menjelang Asian Games IV awal 1960-an — yang menghubungkan Senayan dan Kebayoran Baru. Jalan ini — semula tidak beraspal — oleh Bung Karno disulap menjadi jalan protokol. Kini kawasan di timur kedua jalan tersebut, bersama Kuningan-Gatot Subroto, merupakan kawasan segi tiga emas.&lt;br /&gt;Di Jl Thamrin, Bung Karno membangun gedung berlantai 20, Sarinah, pencakar langit tertinggi kala itu, dari hasil uang pampasan perang Jepang. Di lantai bagian atas pada masa Bang Ali Sadikin dibangun kasino yang kemudian mendapat protes keras dari umat Islam. Sementara, Usmar Ismail — tokoh perfilman nasional — membangun nite club Mirasa Sky Club yang merupakan klub malam pertama ketika itu. Di Jl Thamrin, Bung Karno membangun Hotel Indonesia bertingkat 13, setelah sebelumnya menggusur Hotel des Indes di Jl Gajah Mada, peninggalan Belanda. Dia kurang menyenangi bangunan warisan kolonial.&lt;br /&gt;Kawasan Sudirman-Thamrin makin bergengsi setelah dibangun kompleks OR Gelora Bung Karno pada 1960, ketika Indonesia terpilih menjadi tuan rumah Asian Games IV. Meskipun, untuk itu tergusur ribuan KK warga Betawi yang kemudian ditempatkan di Tebet, Jakarta Timur. Setelah daerah ini berkembang, ribuan warga Betawi tergusur lagi ke daerah-daerah pinggiran.&lt;br /&gt;Kini jumlah warga Betawi korban gusuran yang masih tinggal di Tebet dapat dihitung dengan jari. Memang demikianlah nasib warga Betawi di kota kelahirannya sendiri. Semoga gubernur mendatang lebih memberikan perhatian pada nasib warga Betawi dan tidak lagi melakukan penggusuran secara sewenang-wenang tanpa ganti rugi yang layak. Demokrasi Terpimpin&lt;br /&gt;Pemberontakan yang gagal di Sumatera, Sulawesi, Jawa Barat dan pulau-pulau lainnya yang dimulai sejak 1958, ditambah kegagalan MPR untuk mengembangkan konstitusi baru, melemahkan sistem parlemen Indonesia. Akibatnya pada 1959 ketika Presiden Soekarno secara unilateral membangkitkan kembali konstitusi 1945 yang bersifat sementara, yang memberikan kekuatan presidensil yang besar, dia tidak menemui banyak hambatan.&lt;br /&gt;Dari 1959 hingga 1965, Presiden Soekarno berkuasa dalam rezim yang otoriter di bawah label "Demokrasi Terpimpin". Dia juga menggeser kebijakan luar negeri Indonesia menuju non-blok, kebijakan yang didukung para pemimpin penting negara-negara bekas jajahan yang menolak aliansi resmi dengan Blok Barat maupun Blok Uni Soviet. Para pemimpin tersebut berkumpul di Bandung, Jawa Barat pada tahun 1955 dalam KTT Asia-Afrika untuk mendirikan fondasi yang kelak menjadi Gerakan Non-Blok.&lt;br /&gt;Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, Soekarno bergerak lebih dekat kepada negara-negara komunis Asia dan kepada Partai Komunis Indonesia (PKI) di dalam negeri. Meski PKI merupakan partai komunis terbesar di dunia di luar Uni Soviet dan China, dukungan massanya tak pernah menunjukkan penurutan ideologis kepada partai komunis seperti di negara-negara lainnya.&lt;br /&gt;Konfrontasi Indonesia-Malaysia&lt;br /&gt;Soekarno menentang pembentukan Federasi Malaysia dan menyebut bahwa hal tersebut adalah sebuah "rencana neo-kolonial" untuk mempermudah rencana komersial Inggris di wilayah tersebut. Selain itu dengan pembentukan Federasi Malaysia, hal ini dianggap akan memperluas pengaruh imperialisme negara-negara Barat di kawasan Asia dan memberikan celah kepada negara Inggris dan Australia untuk mempengaruhi perpolitikan regional Asia. Menanggapi keputusan PBB untuk mengakui kedaulatan Malaysia dan menjadikan Malaysia anggota tidak tetab Dewan Keamanan PBB, presiden Soekarno mengumumkan pengunduran diri negara Indonesia dari keanggotaan PBB pada tanggal 20 Januari 1965 dan mendirikan Konferensi Kekuatan Baru (CONEFO) sebagai tandingan PBB dan GANEFO sebagai tandingan Olimpiade. Pada tahun itu juga konfrontasi ini kemudian mengakibatkan pertempuran antara pasukan Indonesia dan Malaysia (yang dibantu oleh Inggris).&lt;br /&gt;Nasib Irian Barat&lt;br /&gt;Pada saat kemerdekaan, pemerintah Belanda mempertahankan kekuasaan terhadap belahan barat pulau Nugini (Irian), dan mengizinkan langkah-langkah menuju pemerintahan-sendiri dan pendeklarasian kemerdekaan pada 1 Desember 1961.&lt;br /&gt;Negosiasi dengan Belanda mengenai penggabungan wilayah tersebut dengan Indonesia gagal, dan pasukan penerjun payung Indonesia mendarat di Irian pada 18 Desember sebelum kemudian terjadi pertempuran antara pasukan Indonesia dan Belanda pada 1961 dan 1962. Pada 1962 Amerika Serikat menekan Belanda agar setuju melakukan perbincangan rahasia dengan Indonesia yang menghasilkan Perjanjian New York pada Agustus 1962, dan Indonesia mengambil alih kekuasaan terhadapa Irian Jaya pada 1 Mei 1963.&lt;br /&gt;Gerakan 30 September&lt;br /&gt;Hingga 1965, PKI telah menguasai banyak dari organisasi massa yang dibentuk Soekarno untuk memperkuat dukungan untuk rezimnya dan, dengan persetujuan dari Soekarno, memulai kampanye untuk membentuk "Angkatan Kelima" dengan mempersenjatai pendukungnya. Para petinggi militer menentang hal ini.&lt;br /&gt;Pada 30 September 1965, enam jendral senior dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta yang disalahkan kepada para pengawal istana yang loyal kepada PKI. Panglima Komando Strategi Angkatan Darat saat itu, Mayjen Soeharto, menumpas kudeta tersebut dan berbalik melawan PKI. Soeharto lalu menggunakan situasi ini untuk mengambil alih kekuasaan. Lebih dari puluhan ribu orang-orang yang dituduh komunis kemudian dibunuh. Jumlah korban jiwa pada 1966 mencapai setidaknya 500.000; yang paling parah terjadi di Jawa dan Bali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-8717715676393648016?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/8717715676393648016/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=8717715676393648016' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/8717715676393648016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/8717715676393648016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/05/orde-lama-demokrasi-terpimpin-adalah.html' title=''/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-8729241397957862185</id><published>2008-05-20T20:16:00.000-07:00</published><updated>2008-05-20T20:18:08.944-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cjomblo%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cjomblo%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h2 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-outline-level:2; 	font-size:18.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	font-weight:bold;} h3 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-outline-level:3; 	font-size:13.5pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	font-weight:bold;} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.mw-headline 	{mso-style-name:mw-headline;} p.storytext, li.storytext, div.storytext 	{mso-style-name:storytext; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:404031121; 	mso-list-template-ids:1061446214;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l1 	{mso-list-id:2146047134; 	mso-list-template-ids:1133292752;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="1028"&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;ORDE BARU&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;Orde Baru&lt;/span&gt; adalah sebutan bagi masa pemerintahan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Presiden_Republik_Indonesia" title="Presiden Republik Indonesia"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Presiden&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto" title="Soeharto"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Soeharto&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia" title="Indonesia"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Orde Baru menggantikan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia:_Era_Orde_Lama" title="Indonesia: Era Orde Lama"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Orde Lama&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang merujuk kepada era pemerintahan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno" title="Soekarno"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Soekarno&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Orde Baru hadir dengan semangat "koreksi total" atas penyimpangan yang dilakukan Orde Lama Soekarno. Orde Baru berlangsung dari tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1968" title="1968"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1968&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; hingga &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1998" title="1998"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1998&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Dalam jangka waktu tersebut, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_Indonesia" title="Ekonomi Indonesia"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;ekonomi Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; berkembang pesat meski hal ini dibarengi praktek &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi" title="Korupsi"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;korupsi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang merajalela di negara ini. Selain itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar.&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;Masa Jabatan Suharto&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1968" title="1968"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1968&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/MPR" title="MPR"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;MPR&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; secara resmi melantik Soeharto untuk masa jabatan 5 tahun sebagai presiden, dan dia kemudian dilantik kembali secara berturut-turut pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1973" title="1973"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1973&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1978" title="1978"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1978&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1983" title="1983"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1983&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1988" title="1988"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1988&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1993" title="1993"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1993&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1998" title="1998"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1998&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Politik"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;Politik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" dalam dunia politik &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya. Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/19_September" title="19 September"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;19 September&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1966" title="1966"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1966&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; mengumumkan bahwa Indonesia "bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PBB", dan menjadi anggota PBB kembali pada tanggal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/28_September" title="28 September"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;28 September&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1966" title="1966"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1966&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima pertama kalinya. Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas. Orde Lama atau Orde Baru. Pengucilan politik — di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa_Timur" title="Eropa Timur"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Eropa Timur&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; sering disebut &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lustrasi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Lustrasi (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;lustrasi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; — dilakukan terhadap orang-orang yang terkait dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Komunis_Indonesia" title="Partai Komunis Indonesia"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Partai Komunis Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Sanksi kriminal dilakukan dengan menggelar &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mahkamah_Militer_Luar_Biasa&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Mahkamah Militer Luar Biasa (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Mahkamah Militer Luar Biasa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; untuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat "dibuang" ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Buru" title="Pulau Buru"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pulau Buru&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Sanksi nonkriminal diberlakukan dengan pengucilan politik melalui pembuatan aturan administratif. Instrumen penelitian khusus diterapkan untuk menyeleksi kekuatan lama ikut dalam gerbong Orde Baru. KTP ditandai ET (eks &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tapol" title="Tapol"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;tapol&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;). Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer namun dengan nasehat dari ahli ekonomi didikan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dunia_Barat" title="Dunia Barat"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Barat&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/DPR" title="DPR"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;DPR&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/MPR" title="MPR"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;MPR&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; tidak berfungsi secara efektif. Anggotanya bahkan seringkali dipilih dari kalangan militer, khususnya mereka yang dekat dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cendana" title="Cendana"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Cendana&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat. Pembagian &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_Asli_Daerah" title="Pendapatan Asli Daerah"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;PAD&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; juga kurang adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta" title="Jakarta"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Seskoad&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Seskoad (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Seskoad&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; II 1966 dan konsep akselerasi pembangunan II yang diusung &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_Moertopo" title="Ali Moertopo"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Ali Moertopo&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Soeharto merestrukturisasi politik dan ekonomi dengan dwitujuan, bisa tercapainya stabilitas politik pada satu sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang kekuatan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Golkar" title="Golkar"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Golkar&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/TNI" title="TNI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;TNI&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, dan lembaga pemikir serta dukungan kapital internasional, Soeharto mampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan politik yang tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Eksploitasi_sumber_daya"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;Eksploitasi sumber daya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Selama masa pemerintahannya, kebijakan-kebijakan ini, dan pengeksploitasian &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_alam" title="Sumber daya alam"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;sumber daya alam&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; secara besar-besaran menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar namun tidak merata di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Contohnya, jumlah orang yang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelaparan" title="Kelaparan"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;kelaparan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dikurangi dengan besar pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1970-an" title="1970-an"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1970-an&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1980-an" title="1980-an"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1980-an&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Warga_Tionghoa"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;Warga Tionghoa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Warga keturunan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa" title="Tionghoa"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tionghoa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; juga dilarang berekspresi. Sejak tahun 1967, warga keturunan dianggap sebagai warga negara asing di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan kedudukannya berada di bawah warga &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pribumi" title="Pribumi"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;pribumi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, yang secara tidak langsung juga menghapus hak-hak asasi mereka. Kesenian &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Barongsai" title="Barongsai"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;barongsai&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; secara terbuka, perayaan hari raya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Imlek" title="Imlek"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Imlek&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, dan pemakaian &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Mandarin" title="Bahasa Mandarin"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bahasa Mandarin&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dilarang, meski kemudian hal ini diperjuangkan oleh komunitas Tionghoa Indonesia terutama dari komunitas pengobatan Tionghoa tradisional karena pelarangan sama sekali akan berdampak pada resep obat yang mereka buat yang hanya bisa ditulis dengan bahasa Mandarin. Mereka pergi hingga ke Mahkamah Agung dan akhirnya Jaksa Agung &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; waktu itu memberi izin dengan catatan bahwa Tionghoa &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; berjanji tidak menghimpun kekuatan untuk memberontak dan menggulingkan pemerintahan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Satu-satunya &lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt; kabar berbahasa Mandarin yang diizinkan terbit adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Harian_Indonesia&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Harian Indonesia (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Harian Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang sebagian artikelnya ditulis dalam bahasa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Harian ini dikelola dan diawasi oleh militer &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; dalam hal ini adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/ABRI" title="ABRI"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;ABRI&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; meski beberapa orang Tionghoa &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; bekerja juga di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Agama tradisional Tionghoa dilarang. Akibatnya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Konghucu" title="Agama Konghucu"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;agama Konghucu&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; kehilangan pengakuan pemerintah. Pemerintah Orde Baru berdalih bahwa warga Tionghoa yang populasinya ketika itu mencapai kurang lebih 5 juta dari keseluruhan rakyat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dikhawatirkan akan menyebarkan pengaruh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komunisme" title="Komunisme"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;komunisme&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; di Tanah Air. Padahal, kenyataan berkata bahwa kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pedagang, yang tentu bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh komunisme, yang sangat mengharamkan perdagangan dilakukan &lt;sup&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Mengutip_sumber" title="Wikipedia:Mengutip sumber"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;rujukan?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;]&lt;/sup&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Orang Tionghoa dijauhkan dari kehidupan politik praktis. Sebagian lagi memilih untuk menghindari dunia politik karena khawatir akan keselamatan dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Perpecahan_bangsa"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;Perpecahan bangsa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Di masa Orde Baru pemerintah sangat mengutamakan persatuan bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Setiap hari media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Radio" title="Radio"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;radio&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi" title="Televisi"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;televisi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; mendengungkan slogan "persatuan dan kesatuan bangsa". Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Transmigrasi" title="Transmigrasi"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;transmigrasi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dari daerah yang padat penduduknya seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa" title="Jawa"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Jawa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bali" title="Bali"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bali&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Madura" title="Madura"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Madura&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ke luar Jawa, terutama ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan" title="Kalimantan"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi" title="Sulawesi"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Sulawesi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Timor_Timur" title="Timor Timur"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Timor Timur&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Papua" title="Papua"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Irian Jaya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Namun dampak negatif yang tidak diperhitungkan dari program ini adalah terjadinya marjinalisasi terhadap penduduk setempat dan kecemburuan terhadap penduduk pendatang yang banyak mendapatkan bantuan pemerintah. Muncul tuduhan bahwa program transmigrasi sama dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa" title="Jawa"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;jawanisasi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang disertai sentimen anti-Jawa di berbagai daerah, meskipun tidak semua transmigran itu orang Jawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pada awal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia:_Era_Reformasi" title="Indonesia: Era Reformasi"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Era Reformasi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; konflik laten ini meledak menjadi terbuka antara lain dalam bentuk &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Konflik_Ambon&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Konflik Ambon (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;konflik Ambon&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Konflik_Madura-Dayak&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Konflik Madura-Dayak (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;konflik Madura-Dayak&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; di Kalimantan.&lt;sup&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Orde_Baru#cite_note-0" title=""&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Sementara itu gejolak di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Papua" title="Papua"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Papua&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang dipicu oleh rasa diperlakukan tidak adil dalam pembagian keuntungan pengelolaan sumber alamnya, juga diperkuat oleh ketidaksukaan terhadap para transmigran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Kelebihan_sistem_Pemerintahan_Orde_Baru"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;Kelebihan sistem Pemerintahan Orde Baru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;perkembangan      &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/GDP" title="GDP"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;GDP&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; per kapita Indonesia yang pada tahun      1968 hanya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dolar_AS" title="Dolar AS"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;AS$&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;70 dan pada 1996 telah mencapai lebih      dari AS$1.000&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;sukses      &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Transmigrasi" title="Transmigrasi"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;transmigrasi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;sukses      &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/KB" title="KB"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;KB&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;sukses      memerangi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buta_huruf" title="Buta huruf"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;buta huruf&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;sukses      swasembada pangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;pengangguran      minimum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;sukses      REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;sukses      Gerakan Wajib Belajar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;sukses      Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;sukses      keamanan dalam negeri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Investor      asing mau menanamkan modal di Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;sukses      menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Kekurangan_Sistem_Pemerintahan_Orde_Baru"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;Kekurangan Sistem Pemerintahan Orde Baru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;semaraknya      &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi" title="Korupsi"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;korupsi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kolusi" title="Kolusi"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;kolusi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nepotisme" title="Nepotisme"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;nepotisme&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;pembangunan      &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;      yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan pembangunan antara pusat dan      daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan daerah sebagian besar disedot      ke pusat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;munculnya      rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan pembangunan,      terutama di Aceh dan Papua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;kecemburuan      antara penduduk setempat dengan para transmigran yang memperoleh tunjangan      pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;bertambahnya      kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya      dan si miskin)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;kritik      dibungkam dan oposisi diharamkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;kebebasan      pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang      dibreidel&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;penggunaan      kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain dengan program      "Penembakan Misterius" (petrus)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;tidak      ada rencana suksesi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Krisis_finansial_Asia"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;Krisis finansial &lt;st1:place st="on"&gt;Asia&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pada pertengahan 1997, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; diserang krisis keuangan dan ekonomi Asia (untuk lebih jelas lihat: &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Krisis_finansial_Asia" title="Krisis finansial Asia"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Krisis finansial Asia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;), disertai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kemarau" title="Kemarau"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;kemarau&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; terburuk dalam 50 tahun terakhir dan harga minyak, gas dan komoditas ekspor lainnya yang semakin jatuh. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rupiah" title="Rupiah"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Rupiah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; jatuh, inflasi meningkat tajam, dan perpindahan modal dipercepat. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; demonstran, yang awalnya dipimpin para mahasiswa, meminta pengunduran diri Soeharto. Di tengah gejolak kemarahan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang meluas, Soeharto mengundurkan diri pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/21_Mei" title="21 Mei"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;21 Mei&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1998" title="1998"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1998&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, tiga bulan setelah MPR melantiknya untuk masa bakti ketujuh. Soeharto kemudian memilih sang Wakil Presiden, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/B._J._Habibie" title="B. J. Habibie"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;B. J. Habibie&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, untuk menjadi presiden ketiga &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Pasca-Orde_Baru"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;Pasca-Orde Baru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Mundurnya Soeharto dari jabatannya pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1998" title="1998"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1998&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dapat dikatakan sebagai tanda akhirnya Orde Baru, untuk kemudian digantikan "&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia:_Era_Reformasi" title="Indonesia: Era Reformasi"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Era Reformasi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;". Masih adanya tokoh-tokoh penting pada masa Orde Baru di jajaran pemerintahan pada masa Reformasi ini sering membuat beberapa orang mengatakan bahwa Orde Baru masih belum berakhir. Oleh karena itu Era Reformasi atau Orde Reformasi sering disebut sebagai "Era Pasca Orde Baru".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;a href="http://www.indonesiaindonesia.com/f/2389-indonesia-era-demokrasi-terpimpin/"&gt;http://www.indonesiaindonesia.com/f/2389-indonesia-era-demokrasi-terpimpin/&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ekonomi di bawah Orde Baru &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="width: 156pt;" width="208" align="right" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td rowspan="2" style="padding: 0in; background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;    &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;    &lt;v:formulas&gt;     &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;     &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;    &lt;/v:formulas&gt;    &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;    &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt;   &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:3.75pt;"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\jomblo\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.gif" href="http://www.bbc.co.uk/f/t.gif"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/jomblo/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_i1025" width="5" border="0" height="1" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kebjiakan ekonomi pada awal pemerintahan   Suharto berhasil menekan inflasi yang sangat tinggi&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Suharto mengakhiri jabatannya sebagai presiden akibat fondasi ekonomi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ambruk diterjang krisis dan gelombang politik yang menghendaki perubahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Kenyataan ini bertolak belakang dengan situasi pada awal kepemimpinan jenderal purnawirawan ini pada tahun 1968.&lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Di awal Orde Baru, Suharto berusaha keras membenahi ekonomi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang terpuruk, dan berhasil untuk beberapa lama. &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;"Kondisi ekonomi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ketika Pak Harto pertama memerintah adalah keadaan ekonomi dengan inflasi sangat tinggi, 650% setahun," kata Emil Salim, mantan menteri pada pemerintahan Suharto. &lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="background: rgb(227, 237, 247) none repeat scroll 0% 0%; width: 156pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" width="208" align="right" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:3.75pt;height:.75pt'"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\jomblo\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.gif" href="http://www.bbc.co.uk/f/t.gif"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/jomblo/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_i1026" width="5" border="0" height="1" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1027" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:13.5pt;height:9.75pt'"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\jomblo\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.gif" href="http://www.bbc.co.uk/worldservice/images/furniture/800_left_quote.gif"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/jomblo/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.gif" shapes="_x0000_i1027" width="18" border="0" height="13" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;   pandangan bahwa demokrasi yang dikembangkan di negara berkembang itu membutuhkan   semacam pengarahan atau intervensi untuk tidak segera bersifat liberal&lt;br /&gt;   &lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:-369.75pt;" allowoverlap="f"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\jomblo\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image004.gif" title="800_right_quote"&gt;    &lt;w:wrap type="square"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/jomblo/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" shapes="_x0000_s1026" width="18" align="left" border="0" height="13" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Emil Salim&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Orang yang dulu dikenal sebagai salah seorang penasehat ekonomi presiden menambahkan langkah pertama yang diambil Suharto, yang bisa dikatakan berhasil, adalah mengendalikan inflasi dari 650% menjadi di bawah 15% dalam waktu hanya dua tahun. &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Untuk menekan inflasi yang begitu tinggi, Suharto membuat kebijakan yang berbeda jauh dengan kebijakan Sukarno, pendahulunya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Ini dia lakukan dengan menertibkan anggaran, menertibkan sektor perbankan, mengembalikan ekonomi pasar, memperhatikan sektor ekonomi, dan merangkul negara-negara barat untuk menarik modal. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Terikat modal asing'&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Menurut Emil Salim, Suharto menerapkan cara militer dalam menangani masalah ekonomi yang dihadapi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, yaitu dengan mencanangkan sasaran yang tegas. &lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="width: 156pt;" width="208" align="right" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td rowspan="2" style="padding: 0in; background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1028" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:3.75pt;height:.75pt'"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\jomblo\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.gif" href="http://www.bbc.co.uk/f/t.gif"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/jomblo/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_i1028" width="5" border="0" height="1" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Presiden Suharto menandatangi kesepakatan IMF   beberapa bulan sebelum mundur di tahun 1998&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Suharto menamai programnya 'Pembangunan Lima Tahun' atau PELITA, yang dengan melibatkan para teknokrat dari Universitas &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, dia berhasil memperoleh pinjaman dari negara-negara Barat dan lembaga keuangan seperti IMF dan Bank Dunia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Liberalisasi perdagangan dan investasi kemudian dibuka selebarnya. Inilah yang sejak awal dipertanyakan oleh Kwik Kian Gie, yang menilai kebijakan ekonomi Suharto membuat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; terikat pada kekuatan modal asing. &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;"Liberalisasi sebesar mungkin, sebebas-bebasnya, kalau ada intervensi boleh dikatakan didikte oleh IMF dan Bank Dunia, yang dibelakangnya adalah pemerintah Amerika Serikat dan dampaknya dirasakan sampai sekarang," kata mantan menteri koordinator perekonomian &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; antar tahun 1999-2000. &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Namun menurut Emil Salim, untuk menggerakkan pembangunan, Suharto sejak tahun 1970-an juga menggenjot penambangan minyak dan pertambangan, sehingga pemasukan negara dari migas meningkat dari $0,6 miliar pada tahun 1973 menjadi $10,6 miliar pada tahun 1980. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.bbc.co.uk/indonesian/specials/1023_suhartopolicy/"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1029" type="#_x0000_t75" alt="" href="http://www.bbc.co.uk/indonesian/specials/1023_suhartopolicy/" style="'width:3pt;" button="t"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\jomblo\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.gif" href="http://www.bbc.co.uk/worldservice/images/furniture/800_arrow.gif"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/jomblo/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.gif" class="buttonpadding" title="" shapes="_x0000_i1029" width="4" border="0" height="11" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;Kembali ke halaman depan&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kemajuan sektor migas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Puncaknya adalah penghasilan dari migas yang memiliki nilai sama dengan 80% ekspor &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;"Dengan kebijakan itu, &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; di bawah Orde Baru, bisa dihitung sebagai kasus sukses pembangunan ekonomi," kata pengamat ekonomi Djisman Simandjuntak. &lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="background: rgb(227, 237, 247) none repeat scroll 0% 0%; width: 156pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" width="208" align="right" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1030" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:3.75pt;height:.75pt'"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\jomblo\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.gif" href="http://www.bbc.co.uk/f/t.gif"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/jomblo/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_i1030" width="5" border="0" height="1" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1031" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:13.5pt;height:9.75pt'"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\jomblo\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.gif" href="http://www.bbc.co.uk/worldservice/images/furniture/800_left_quote.gif"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/jomblo/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.gif" shapes="_x0000_i1031" width="18" border="0" height="13" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt; Liberalisasi sebesar mungkin,   sebebas-bebasnya, kalau ada intervensi boleh dikatakan didikte oleh IMF dan   Bank Dunia, yang dibelakangnya adalah pemerintah Amerika Serikat dan   dampaknya dirasakan sampai sekarang&lt;br /&gt;   &lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1027" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:-369.75pt;" allowoverlap="f"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\jomblo\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image004.gif" title="800_right_quote"&gt;    &lt;w:wrap type="square"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/jomblo/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" shapes="_x0000_s1027" width="18" align="left" border="0" height="13" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kwik Kian Gie, tentang kebijakan ekonomi   Suharto&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Keberhasilan Pak Harto membenahi bidang ekonomi sehingga &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; mampu berswasembada pangan pada tahun 1980-an, menurut Emil Salim, diawali dengan pembenahan di bidang politik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Kebijakan perampingan partai dan penerapan azas tunggal ditempuh pemerintah Orde Baru, dilatari pengalaman masa Orde Lama ketika politik multi partai menyebabkan energi terkuras untuk bertikai. &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Lebih lanjut, Emil Salim menilai, pendekatan seperti yang dilakukan Suharto pada awal pemerintahannya lazim dipraktekkan oleh para pemimpin di kawasan Asia Timur dan Tenggara. &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;"&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pandangan bahwa demokrasi yang dikembangkan di negara berkembang itu membutuhkan semacam pengarahan atau intervensi untuk tidak segera bersifat liberal," kata Emil Salim. &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Gaya&lt;/st1:city&gt; kepemimpinan tegas seperti yang dijalankan Suharto pada masa Orde Baru oleh Kwik Kian Gie diakui memang dibutuhkan untuk membenahi perekonomian &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang berantakan di akhir tahun 1960 &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Namun, dengan menstabilkan politik demi pertumbuhan ekonomi, yang sempat dapat dipertahankan antara 6%-7% per tahun, semua kekuatan yang berseberangan dengan Orde Baru kemudian tidak diberi tempat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.bbc.co.uk/indonesian/specials/1023_suhartopolicy/"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1032" type="#_x0000_t75" alt="" href="http://www.bbc.co.uk/indonesian/specials/1023_suhartopolicy/" style="'width:3pt;" button="t"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\jomblo\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.gif" href="http://www.bbc.co.uk/worldservice/images/furniture/800_arrow.gif"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/jomblo/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.gif" class="buttonpadding" title="" shapes="_x0000_i1032" width="4" border="0" height="11" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;Kembali ke halaman depan&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Titik balik&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Masa keemasan ekonomi Orde Baru, kata Emil salim, mengalami titik balik ketika memasuki tahun 1990-an, saat BJ Habibie dengan visi teknololgi masuk merambah bidang ekonomi. &lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="width: 156pt;" width="208" align="right" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td rowspan="2" style="padding: 0in; background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1033" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:3.75pt;height:.75pt'"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\jomblo\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.gif" href="http://www.bbc.co.uk/f/t.gif"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/jomblo/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_i1033" width="5" border="0" height="1" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Suharto melepaskan jabatan setelah unjuk rasa   besar-besaran tahun 1998&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Tetapi, Kwik Kian Gie tidak sependapat dan dia menilai Habibie bukan faktor penting dalam titik balik ekonomi Orde Baru. &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;"Pertumbuhan ekonomi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; di masa Orde Baru terkesan begitu memukau," kata Kwik, namun menurutnya di sisi lain kesenjangan dan kemiskinan adalah akibat kebijakan ekonomi liberal. &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Krisis moneter sejak Juli 1997, yang disusul dengan tuntutan reformasi total, dia anggap sebagai konsekuensi logis dari kebijakan tersebut yang diperburuk oleh situasi politik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Namun, pengamat ekonomi Djisman Simandjuntak mempunyai analisa berbeda tengan jatuhnya Suharto.&lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;"Krisis ekonomi untuk sebagian orang memang bisa ditelusuri ke praktek kebijakan, bukan desain kebijakan di atas kertasnya," kata Djisman. &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Pengamat ekonomi ini menilai pada prakteknya kebijakan pemerintahan Suharto sarat dengan berbagai penyelewengan seperti kolusi, korupsi dan nepotisme pada kroni Suharto. &lt;/p&gt;  &lt;p class="storytext" style="text-align: justify;"&gt;Pada saat yang bersamaan, rakyat menuntut suksesi politik. Dan krisis ekonomi yang melanda &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; menjadi pemicu krisis politik yang sudah dipendam oleh rakyat, tambah Djisman Simandjuntak. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-8729241397957862185?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/8729241397957862185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=8729241397957862185' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/8729241397957862185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/8729241397957862185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/05/v-behaviorurldefaultvml-o.html' title=''/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-8754229235631044521</id><published>2008-05-20T19:43:00.001-07:00</published><updated>2008-12-08T17:44:17.011-08:00</updated><title type='text'>SOEHARTO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_MBHIUR73cxY/SDOMpAaP7-I/AAAAAAAAAAk/bOohGZ9UENs/s1600-h/budhy.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MBHIUR73cxY/SDOMpAaP7-I/AAAAAAAAAAk/bOohGZ9UENs/s320/budhy.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202656630655676386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-8754229235631044521?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/8754229235631044521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=8754229235631044521' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/8754229235631044521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/8754229235631044521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/05/soeharto.html' title='SOEHARTO'/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_MBHIUR73cxY/SDOMpAaP7-I/AAAAAAAAAAk/bOohGZ9UENs/s72-c/budhy.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-4233240558845427051</id><published>2008-05-13T21:21:00.001-07:00</published><updated>2008-12-08T17:44:17.130-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_MBHIUR73cxY/SCprgQaP79I/AAAAAAAAAAU/lRypPQ9ZkvE/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MBHIUR73cxY/SCprgQaP79I/AAAAAAAAAAU/lRypPQ9ZkvE/s320/untitled.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200086921657708498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-4233240558845427051?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/4233240558845427051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=4233240558845427051' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/4233240558845427051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/4233240558845427051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/05/blog-post_13.html' title=''/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_MBHIUR73cxY/SCprgQaP79I/AAAAAAAAAAU/lRypPQ9ZkvE/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-5297104015065875924</id><published>2008-05-13T21:21:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T21:26:56.091-07:00</updated><title type='text'>Perdagangan bebas</title><content type='html'>&lt;h1 class="firstHeading"&gt;Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.&lt;/h1&gt;                     &lt;div id="jump-to-nav"&gt;Langsung ke: &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas#column-one"&gt;navigasi&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas#searchInput"&gt;cari&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;   &lt;!-- start content --&gt;    &lt;p&gt;&lt;b&gt;Perdagangan bebas&lt;/b&gt; adalah sebuah konsep &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi" title="Ekonomi"&gt;ekonomi&lt;/a&gt; yang mengacu kepada penjualan produk antar negara tanpa pajak ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Perdagangan bebas&lt;/b&gt; dapat juga didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar individual-individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_internasional" title="Perdagangan internasional"&gt;Perdagangan internasional&lt;/a&gt; sering dibatasi oleh berbagai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajak" title="Pajak"&gt;pajak&lt;/a&gt; negara, biaya tambahan yang diterapkan pada barang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ekspor" title="Ekspor"&gt;ekspor&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Impor&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Impor (belum dibuat)"&gt;impor&lt;/a&gt;, dan juga regulasi non tarif pada barang impor. Secara teori, semuha hambatan-hambatan inilah yang ditolak oleh perdagangan bebas. Namun dalam kenyataannya, perjanjian-perjanjian perdagangan yang didukung oleh penganut perdagangan bebas ini justru sebenarnya menciptakan hambatan baru kepada terciptanya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar_bebas" title="Pasar bebas"&gt;pasar bebas&lt;/a&gt;. Perjanjian-perjanjian tersebut sering dikritik karena melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan besar.&lt;/p&gt; &lt;table id="toc" class="toc" summary="Daftar isi"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td&gt; &lt;div id="toctitle"&gt; &lt;h2&gt;Daftar isi&lt;/h2&gt;  &lt;span class="toctoggle"&gt;[&lt;a href="javascript:toggleToc()" class="internal" id="togglelink"&gt;sembunyikan&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;ul&gt;&lt;li class="toclevel-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas#Sejarah_Pasar_Bebas"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;1&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Sejarah Pasar Bebas&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas#Pro-kontra_perdagangan_bebas"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;2&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Pro-kontra perdagangan bebas&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas#Menggugat_Mitos-mitos_Neoliberalisme_tentang_Pasar_Bebas"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;3&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Menggugat Mitos-mitos Neoliberalisme tentang Pasar Bebas&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;ul&gt;&lt;li class="toclevel-2"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas#Paham_Neoloberalisme"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;3.1&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Paham Neoloberalisme&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-2"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas#Mitos"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;3.2&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Mitos&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas#Antiglobalisasi"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Antiglobalisasi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas#Pustaka"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;5&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Pustaka&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas#Lihat_pula"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;6&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Lihat pula&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt; //&lt;![CDATA[  if (window.showTocToggle) { var tocShowText = "tampilkan"; var tocHideText = "sembunyikan"; showTocToggle(); }  //]]&gt; &lt;/script&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="Sejarah_Pasar_Bebas" id="Sejarah_Pasar_Bebas"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perdagangan_bebas&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=1" title="Sunting bagian: Sejarah Pasar Bebas"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Sejarah Pasar Bebas&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;Sejarah dari perdagangan bebas internasional adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sejarah_perdagangan_internasional&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Sejarah perdagangan internasional (belum dibuat)"&gt;sejarah perdagangan internasional&lt;/a&gt; memfokuskan dalam pengembangan dari pasar terbuka. Diketahui bahwa bermacam kebudayaan yang makmur sepanjang sejarah yang bertransaksi dalam perdagangan. Berdasarkan hal ini, secara teoritis rasionalisasi sebagai kebijakan dari perdagangan bebas akan menjadi menguntungkan ke negara berkembang sepanjang waktu. Teori ini berkembang dalam rasa moderennya dari kebudayaan komersil di Inggris, dan lebih luas lagi Eropa, sepanjang lima abad yang lalu. Sebelum kemunculan perdagangan bebas, dan keberlanjutan hal tersebut hari ini, kebijakan dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Merkantilisme" title="Merkantilisme"&gt;merkantilisme&lt;/a&gt; telah berkembang di Eropa di tahun 1500. Ekonom awal yang menolak merkantilisme adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=David_Ricardo&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="David Ricardo (belum dibuat)"&gt;David Ricardo&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adam_Smith" title="Adam Smith"&gt;Adam Smith&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ekonom yang menganjurkan perdagangan bebas percaya kalau itu merupakan alasan kenapa beberapa kebudayaan secara ekonomis makmur. Adam Smith, contohnya, menunjukkan kepada peningkatan perdagangan sebagai alasan berkembangnya kultur tidak hanya di Mediterania seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir" title="Mesir"&gt;Mesir&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yunani" title="Yunani"&gt;Yunani&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Roma" title="Roma"&gt;Roma&lt;/a&gt;, tapi juga Bengal dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tiongkok" title="Tiongkok"&gt;Tiongkok&lt;/a&gt;. Kemakmuran besar dari Belanda setelah menjatuhkan kekaisaran Spanyol, dan mendeklarasikan perdagangan bebas dan kebebasan berpikir, membuat pertentangan merkantilis/perdagangan bebas menjadi pertanyaan paling penting dalam ekonomi untuk beberapa abad. Kebijakan perdagangan bebas telah berjibaku dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Merkantilisme" title="Merkantilisme"&gt;merkantilisme&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Proteksionisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Proteksionisme (belum dibuat)"&gt;proteksionisme&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Isolasionisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Isolasionisme (belum dibuat)"&gt;isolasionisme&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komunisme" title="Komunisme"&gt;komunisme&lt;/a&gt; dan kebijakan lainnya sepanjang abad.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="Pro-kontra_perdagangan_bebas" id="Pro-kontra_perdagangan_bebas"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perdagangan_bebas&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=2" title="Sunting bagian: Pro-kontra perdagangan bebas"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Pro-kontra perdagangan bebas&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;Banyak ekonom yang berpendapat bahwa perdagangan bebas meningkatkan standar hidup melalui teori &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keuntungan_komparatif&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Keuntungan komparatif (belum dibuat)"&gt;keuntungan komparatif&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ekonomi_skala_besar&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Ekonomi skala besar (belum dibuat)"&gt;ekonomi skala besar&lt;/a&gt;. Sebagian lain berpendapat bahwa perdagangan bebas memungkinkan negara maju untuk mengeksploitasi negara berkembang dan merusak industri lokal, dan juga membatasi standar kerja dan standar sosial. Sebaliknya pula, perdagangan bebas juga dianggap merugikan negara maju karena ia menyebabkan pekerjaan dari negara maju berpindah ke negara lain dan juga menimbulkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perlombaan_serendah_mungkin&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Perlombaan serendah mungkin (belum dibuat)"&gt;perlombaan serendah mungkin&lt;/a&gt; yang menyebabkan standar hidup dan keamanan yang lebih rendah. Perdagangan bebas dianggap mendorong negara-negara untuk bergantung satu sama lain, yang berarti memperkecil kemungkinan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang" title="Perang"&gt;perang&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="Menggugat_Mitos-mitos_Neoliberalisme_tentang_Pasar_Bebas" id="Menggugat_Mitos-mitos_Neoliberalisme_tentang_Pasar_Bebas"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perdagangan_bebas&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=3" title="Sunting bagian: Menggugat Mitos-mitos Neoliberalisme tentang Pasar Bebas"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;b&gt;Menggugat Mitos-mitos Neoliberalisme tentang Pasar Bebas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;dl&gt;&lt;dd&gt; &lt;div class="boilerplate" id="catmore"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Crystal_xmag.png" class="image" title="!"&gt;&lt;img alt="!" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7c/Crystal_xmag.png/20px-Crystal_xmag.png" width="20" border="0" height="20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Artikel utama untuk bagian ini adalah: &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Neoliberalisme" title="Neoliberalisme"&gt;Neoliberalisme&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt; &lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Neoliberalisme" title="Neoliberalisme"&gt;Neoliberalisme&lt;/a&gt; sebagai perwujudan baru paham &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Liberalisme" title="Liberalisme"&gt;liberalisme&lt;/a&gt; saat ini dapat dikatakan telah menguasai sistem perekonomian dunia. Paham liberalisme dipelopori oleh ekonom asal Inggris &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adam_Smith" title="Adam Smith"&gt;Adam Smith&lt;/a&gt; dalam karyanya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/The_Wealth_of_Nations" title="The Wealth of Nations"&gt;The Wealth of Nations&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1776" title="1776"&gt;1776&lt;/a&gt;). Sistem ini sempat menjadi dasar bagi ekonomi negara-negara maju seperti Amerika Serikat dari periode 1800-an hingga masa kejatuhannya pada periode krisis besar (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Great_Depression" class="mw-redirect" title="Great Depression"&gt;Great Depression&lt;/a&gt;) di tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1930" title="1930"&gt;1930&lt;/a&gt;. Sistem ekonomi yang menekankan pada penghapusan intervensi pemerintah ini mengalami kegagalan untuk mengatasi krisis ekonomi besar-besaran yang terjadi saat itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selanjutnya sistem liberal digantikan oleh gagasan-gagasan dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/John_Maynard_Keynes" title="John Maynard Keynes"&gt;John Maynard Keynes&lt;/a&gt; yang digunakan oleh Presiden &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Roosevelt" class="mw-redirect" title="Roosevelt"&gt;Roosevelt&lt;/a&gt; dalam kebijakan &lt;i&gt;New Deal&lt;/i&gt;. Kebijakan itu ternyata terbukti sukses karena mampu membawa negara selamat dari bencana krisis ekonomi. Inti dari gagasannya menyebutkan tentang penggunaan &lt;i&gt;full employment&lt;/i&gt; yang dijabarkan sebagai besarnya peranan buruh dalam pengembangan kapitalisme dan pentingnya peran serta pemerintah dan bank sentral dalam menciptakan lapangan kerja. Kebijakan ini mampu menggeser paham liberalisme untuk beberapa saat sampai munculnya kembali krisis kapitalisme yang berakibat semakin berkurangnya tingkat profit dan menguatnya perusahaan-perusahaan transnasional atau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Trans_Nasional_Corporation&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Trans Nasional Corporation (belum dibuat)"&gt;Trans Nasional Corporation&lt;/a&gt;/&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Multi_Nasional_Corporation&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Multi Nasional Corporation (belum dibuat)"&gt;Multi Nasional Corporation&lt;/a&gt; (TNC/MNC).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menguatnya kekuatan modal dan politik perusahaan-perusahaan transnasional (TNC/MNC) yang banyak muncul di negara-negara maju makin meningkatkan tekanan untuk mengurangi berbagai bentuk intervensi pemerintah dalam perekonomian karena hal itu akan berpengaruh pada berkurangnya keuntungan yang mereka terima. Melalui kebijakan politik negara-negara maju dan institusi moneter seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/IMF" class="mw-redirect" title="IMF"&gt;IMF&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bank_Dunia" title="Bank Dunia"&gt;Bank Dunia&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/WTO" title="WTO"&gt;WTO&lt;/a&gt;, mereka mampu memaksakan penggunaan kembali paham liberalisme gaya baru atau yang lebih dikenal dengan sebutan paham neo-liberalisme.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="Paham_Neoloberalisme" id="Paham_Neoloberalisme"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perdagangan_bebas&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=4" title="Sunting bagian: Paham Neoloberalisme"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Paham Neoloberalisme&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Secara garis besar Mansour Fakih (2003) menjelaskan pendirian paham neoliberalisme:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;biarkan pasar bekerja tanpa distorsi (&lt;i&gt;unregulated market is the best way to increase economic growth&lt;/i&gt;), keyakinan ini berakibat bahwa perusahaan swasta harus bebas dari intervensi pemerintah, apapun akibat sosial yang dihasilkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kurangi pemborosan dengan memangkas semua anggaran negara yang tidak perlu seperti subsidi untuk pelayanan sosial seperti anggaran pendidikan, kesehatan dan jaminan sosial lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;perlu diterapkan deregulasi ekonomi, mereka percaya bahwa regulasi selalu mengurangi keuntungan, termasuk regulasi mengenai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/AMDAL" class="mw-redirect" title="AMDAL"&gt;AMDAL&lt;/a&gt;, keselamatan kerja dan sebagainya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;privatisasikan semua badan usaha negara. Privatisasi ini termasuk juga perusahaan-perusahaan strategis yang melayaani kepentignan rakyat banyak seperti PLN, Sekolah dan Rumah Sakit. Hal ini akan mengakibatkan konsentrasi kapital di tangan sedikit orang dan memaksa rakyat kecil membayar lebih mahal atas kebutuhan dasar mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;masukkan gagasan seperti “barang-barang publik”, “gotong-royong” serta berbagai keyakinan solidaritas sosial yang hidup di masyarakat ke dalam peti es dan selanjutnya digantikan dengan gagasan “tanggung jawab individual”. Masing-masing orang akan bertanggung jawab terhadap kebutuhan mereka sendiri-sendiri. Golongan paling miskin di masyarakat akan menjadi korban gagasan ini karena merekalah yang paling kesulitan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="Mitos" id="Mitos"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perdagangan_bebas&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=5" title="Sunting bagian: Mitos"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Mitos&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Dalam rangka memantapkan kebijakan neo-liberalisme, para pendukungnya secara gencar mengampanyekan mitos-mitos berkaitan dengan neo-liberalisme dan lebih lanjut tentang pasar bebas. Lebih lanjut dijelaskan oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mansour_Fakih&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Mansour Fakih (belum dibuat)"&gt;Mansour Fakih&lt;/a&gt; (2003) bahwa mitos-mitos itu diantaranya adalah :&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;perdagangan bebas akan menjamin pangan murah dan kelaparan tidak akan terjadi. Kenyataan yang terjadi bahwa perdagangan bebas justru meningkatkan harga pangan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;WTO dan TNC akan memproduksi pangan yang aman. Kenyataannya dengan penggunaan pestisida secara berlebih dan pangan hasil rekayasa genetik justru membahayakan kesehatan manusia dan juga keseimbangan ekologis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kaum permpuan akan diuntungkan dengan pasar bebas pangan. Kenyataannya, perempuan petani semakin tersingkir baik sebagai produsen maupun konsumen.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;bahwa paten dan hak kekayaan intelektual akan melindungi inovasi dan pengetahuan. Kenyataannya, paten justru memperlambat alih teknologi dan membuat teknologi menjadi mahal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;perdagangan bebas di bidang pangan akan menguntungkan konsumen karena harga murah dan banyak pilihan. Kenyataannya justru hal itu mengancam ketahanan pangan di negara-negara dunia ketiga.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Akibat dari gagasan-gagasan yang selanjutnya diterapkan menjadi kebijakan ini dapat kita perhatikan pada kehidupan di negeri ini. Bagaimana rakyat menjerit akibat kenaikan harga-harga seiring dengan ketetapan pemerintah mencabut subsidi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/BBM" title="BBM"&gt;BBM&lt;/a&gt;. PHK massal mewabah karena efisiensi perusahaan akibat meningkatnya beban biaya produksi. Mahalnya harga obat karena paten dan hak cipta yang membuat rakyat makin sulit mendapatkannya. Mahalnya biaya perawatan rumah sakit karena swastanisasi. Makin tercekiknya kesejahteraan petani akibat kebijakan impor beras dan diperburuk dengan mahalnya harga pupuk dan obat-obatan pembasmi hama. Masih banyak contoh yang dapat kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akibat dalam skala lebih luas menurut &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Yanuar_Nugroho&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Yanuar Nugroho (belum dibuat)"&gt;Yanuar Nugroho&lt;/a&gt; (2005) ternyata perekonomian dunia saat ini hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup 800 juta dari 6.5 miliar manusia. Itupun ia sudah mengonsumsi 80 persen dari semua sumber daya bumi yang tersedia. Jika cara ini diteruskan, sumber daya bumi ini akan segera terkuras habis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi" title="Globalisasi"&gt;Globalisasi&lt;/a&gt; dan pasar bebas memang membawa kesejahteraan dan pertumbuhan, namun hanya bagi segelintir orang karena sebagian besar dunia ini tetap menderita. Ketika budaya lokal makin hilang akibat gaya hidup global, tiga perempat penghuni bumi ini harus hidup dengan kurang dari dua dollar sehari. Satu miliar orang harus tidur sembari kelaparan setiap malam. Satu setengah miliar penduduk bola dunia ini tidak bisa mendapatkan segelas air bersih setiap hari. Satu ibu mati saat melahirkan setiap menit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="Antiglobalisasi" id="Antiglobalisasi"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perdagangan_bebas&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=6" title="Sunting bagian: Antiglobalisasi"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Antiglobalisasi&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;dl&gt;&lt;dd&gt; &lt;div class="boilerplate" id="catmore"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Crystal_xmag.png" class="image" title="!"&gt;&lt;img alt="!" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7c/Crystal_xmag.png/20px-Crystal_xmag.png" width="20" border="0" height="20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Artikel utama untuk bagian ini adalah: &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Antiglobalisasi" title="Antiglobalisasi"&gt;antiglobalisasi&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt; &lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt; &lt;p&gt;Perlawanan di seluruh dunia sudah mulai berlangsung. Ketiga institusi keuangan dunia yang dianggap sebagai alat kaum neo-liberal terus menerus ditekan. Ketiganya yaitu WTO, IMF dan Bank Dunia selalu mendapat demonstrasai besar-besaran di setiap pertemuan yang dilakukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perlawanan dalam skala besar pertama berlangsung pada pertemua WTO di Seattle, AS. Berbagai gerakan sosial dari penjuru dunia berbondong-bondong memadati kota Seattle. Mereka melakukan demo besar-besaran untuk menghentikan pertemuan tersebut. Mereka berasal dari berbagai kalangan seperti kelompok lingkungan, kelompok perempuan, aktivis buruh, petani dan berbagai kelompok sosialis. Maraknya aksi yang mereka lakukan membuat pertemuan itu gagal menyelesaikan agenda yang seharusnya dibahas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perlawanan selanjutnya terus menerus berlangsung mengiringi setiap pertemuan WTO. Demo juga kerap kali berlangsung di depan kantor Bank Dunia dan IMF. Bahkan yang paling fenomenal adalah tewasnya seorang petani asal Korea Selatan yang menghunjamkan tubuhnya pada barikade pasukan anti huru-hara pada pertemuan WTO di Cancun, Meksiko (Jhamtani,2005). Pertemuan WTO di Hongkong baru-baru ini juga mengundang aksi demonstrasi yang tak kalah besarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada akhirnya karena situasi ekonomi global yang dikuasai paham neo-liberalisme saat ini ternyata penuh dengan mitos-mitos palsu, kita harus lebih bisa bersikap kritis terhadapnya. Dengan penguasaan teknologi informasi dan jaringan media global oleh perusahaan perusahaan raksasa internasional, akan mudah sekali bagi mereka untuk menyusupkan kembali mitos-mitos tersebut di benak kita. Untuk itu diperlukan kewaspadaan lebih dan sikap kritis yang didukung dengan informasi yang kaya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-5297104015065875924?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/5297104015065875924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=5297104015065875924' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/5297104015065875924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/5297104015065875924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/05/perdagangan-bebas.html' title='Perdagangan bebas'/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-1067821871611441771</id><published>2008-05-13T20:55:00.000-07:00</published><updated>2008-12-08T17:44:17.157-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_MBHIUR73cxY/SCpkDAaP78I/AAAAAAAAAAM/-dc8Lpyl3ns/s1600-h/osama.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MBHIUR73cxY/SCpkDAaP78I/AAAAAAAAAAM/-dc8Lpyl3ns/s320/osama.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200078722565140418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-1067821871611441771?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/1067821871611441771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=1067821871611441771' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/1067821871611441771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/1067821871611441771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/05/blog-post.html' title=''/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_MBHIUR73cxY/SCpkDAaP78I/AAAAAAAAAAM/-dc8Lpyl3ns/s72-c/osama.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-3094740071611652126</id><published>2008-05-13T20:43:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T20:45:39.919-07:00</updated><title type='text'>NEOLIBERALISME</title><content type='html'>Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.    &lt;div id="contentSub"&gt;(Dialihkan dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Neo_Liberalisme&amp;amp;redirect=no" title="Neo Liberalisme"&gt;Neo Liberalisme&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;          &lt;div id="jump-to-nav"&gt;Langsung ke: &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Neo_Liberalisme#column-one"&gt;navigasi&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Neo_Liberalisme#searchInput"&gt;cari&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;   &lt;!-- start content --&gt;    &lt;p&gt;&lt;b&gt;Neoliberalisme&lt;/b&gt; yang juga dikenal sebagai paham &lt;b&gt;ekonomi neoliberal&lt;/b&gt; mengacu pada filosofi ekonomi-politik yang mengurangi atau menolak campur tangan pemerintah dalam ekonomi domestik. Paham ini memfokuskan pada metode &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar_bebas" title="Pasar bebas"&gt;pasar bebas&lt;/a&gt;, pembatasan yang sedikit terhadap perilaku bisnis dan hak-hak milik pribadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam kebijakan luar negeri, neoliberalisme erat kaitannya dengan pembukaan pasar luar negeri melalui cara-cara politis, menggunakan tekanan ekonomi, diplomasi, dan/atau intervensi militer. Pembukaan pasar merujuk pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas" title="Perdagangan bebas"&gt;perdagangan bebas&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Neoliberalisme secara umum berkaitan dengan tekanan politik &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Multilateral" class="mw-redirect" title="Multilateral"&gt;multilateral&lt;/a&gt;, melalui berbagai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kartel" title="Kartel"&gt;kartel&lt;/a&gt; pengelolaan perdagangan seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/WTO" title="WTO"&gt;WTO&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bank_Dunia" title="Bank Dunia"&gt;Bank Dunia&lt;/a&gt;. Ini mengakibatkan berkurangnya wewenang pemerintahan sampai titik minimum. Neoliberalisme melalui ekonomi pasar bebas berhasil menekan intervensi pemerintah (seperti paham &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keynesianisme" title="Keynesianisme"&gt;Keynesianisme&lt;/a&gt;), dan melangkah sukses dalam pertumbuhan ekonomi keseluruhan. Untuk meningkatkan efisiensi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Korporasi" class="mw-redirect" title="Korporasi"&gt;korporasi&lt;/a&gt;, neoliberalisme berusaha keras untuk menolak atau mengurangi kebijakan hak-hak buruh seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Upah_minimum" title="Upah minimum"&gt;upah minimum&lt;/a&gt;, dan hak-hak daya tawar kolektif lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Neoliberalisme bertolakbelakang dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisme" title="Sosialisme"&gt;sosialisme&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Proteksionisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Proteksionisme (belum dibuat)"&gt;proteksionisme&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Environmentalisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Environmentalisme (belum dibuat)"&gt;environmentalisme&lt;/a&gt;. Secara domestik, ini tidak langsung berlawanan secara prinsip dengan poteksionisme, tetapi terkadang menggunakan ini sebagai alat tawar untuk membujuk negara lain untuk membuka pasarnya. Neoliberalisme sering menjadi rintangan bagi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perdagangan_adil&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Perdagangan adil (belum dibuat)"&gt;perdagangan adil&lt;/a&gt; dan gerakan lainnya yang mendukung &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hak-hak_buruh&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Hak-hak buruh (belum dibuat)"&gt;hak-hak buruh&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keadilan_sosial" title="Keadilan sosial"&gt;keadilan sosial&lt;/a&gt; yang seharusnya menjadi prioritas terbesar dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan_internasional" title="Hubungan internasional"&gt;hubungan internasional&lt;/a&gt; dan ekonomi.&lt;/p&gt; &lt;table id="toc" class="toc" summary="Daftar isi"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td&gt; &lt;div id="toctitle"&gt; &lt;h2&gt;Daftar isi&lt;/h2&gt;  &lt;span class="toctoggle"&gt;[&lt;a href="javascript:toggleToc()" class="internal" id="togglelink"&gt;sembunyikan&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;ul&gt;&lt;li class="toclevel-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Neo_Liberalisme#Sekilas_tentang_pandangan_kaum_libertarian"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;1&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Sekilas tentang pandangan kaum libertarian&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Neo_Liberalisme#Kekalahan_liberalisme"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;2&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Kekalahan liberalisme&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Neo_Liberalisme#Kebangkitan_Neoliberalisme"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;3&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Kebangkitan Neoliberalisme&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Neo_Liberalisme#Neoliberalisme"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;4&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Neoliberalisme&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Neo_Liberalisme#Penyebaran_Neoliberalisme"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;5&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Penyebaran Neoliberalisme&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;ul&gt;&lt;li class="toclevel-2"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Neo_Liberalisme#di_Indonesia"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;5.1&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-2"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Neo_Liberalisme#di_Amerika_Serikat"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;5.2&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;di Amerika Serikat&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Neo_Liberalisme#Kritik"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;6&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Kritik&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Neo_Liberalisme#Lihat_pula"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;7&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Lihat pula&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="toclevel-1"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Neo_Liberalisme#Pranala_luar"&gt;&lt;span class="tocnumber"&gt;8&lt;/span&gt; &lt;span class="toctext"&gt;Pranala luar&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt; //&lt;![CDATA[  if (window.showTocToggle) { var tocShowText = "tampilkan"; var tocHideText = "sembunyikan"; showTocToggle(); }  //]]&gt; &lt;/script&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="Sekilas_tentang_pandangan_kaum_libertarian" id="Sekilas_tentang_pandangan_kaum_libertarian"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Neoliberalisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=1" title="Sunting bagian: Sekilas tentang pandangan kaum libertarian"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Sekilas tentang pandangan kaum libertarian&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;Bagi kaum &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Liberalisme" title="Liberalisme"&gt;liberal&lt;/a&gt;, pada awalnya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme" title="Kapitalisme"&gt;kapitalisme&lt;/a&gt; dianggap menyimbolkan kemajuan pesat eksistensi masyarakat berdasarkan seluruh capaian yg telah berhasil diraih. Bagi mereka, masyarakat pra-kapitalis adalah masyarakat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Feodal" class="mw-redirect" title="Feodal"&gt;feodal&lt;/a&gt; yang penduduknya ditindas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/John_Locke" title="John Locke"&gt;John Locke&lt;/a&gt;, filsuf abad 18, kaum liberal ini adalah orang-orang yg memiliki hak untuk 'hidup, merdeka, dan sejahtera'. Orang-rang yang bebas bekerja, bebas mengambil kesempatan apapun, bebas mengambil keuntungan apapun, termasuk dalam kebebasan untuk 'hancur', bebas hidup tanpa tempat tinggal, bebas hidup tanpa pekerjaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme" title="Kapitalisme"&gt;Kapitalisme&lt;/a&gt; membanggakan kebebasan seperti ini sebagai hakikat dari penciptaannya. dan dalam perjalanannya, kapitalisme selalu menyesuaikan dan menjaga kebebasan tersebut. Misalnya masalah upah pekerja, menurut konsepsi kapitalis, semua keputusan pemerintah atau tuntutan publik adalah tidak relevan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian paham yang terbentuk bagi kaum liberal adalah kebebasan, berarti: ada sejumlah orang yang akan menang dan sejumlah orang yg akan kalah. Kemenangan dan kekalahan ini terjadi karena persaingan. Apakah anda bernilai bagi orang lain, ataukah orang lain akan dengan senang hati memberi sesuatu kepada anda. Sehingga kebebasan akan diartikan sebagai memiliki hak-hak dan mampu menggunakan hak-hak tsb dengan memperkecil turut campur nya aturan pihak lain. "kita berhak menjalankan kehidupan sendiri"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat ini, ekonom seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Friedrich_von_Hayek&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Friedrich von Hayek (belum dibuat)"&gt;Friedrich von Hayek&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Milton_Friedman" title="Milton Friedman"&gt;Milton Friedman&lt;/a&gt; kembali mengulangi argumentasi klasik &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adam_Smith" title="Adam Smith"&gt;Adam Smith&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=JS_Milton&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="JS Milton (belum dibuat)"&gt;JS Milton&lt;/a&gt;, menyatakan bahwa: masyarakat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas" title="Perdagangan bebas"&gt;pasar kapitalis&lt;/a&gt; adalah masyarakat yg bebas dan masyarakat yang produktif. Kapitalisme bekerja menghasilkan kedinamisan, kesempatan, dan kompetisi. Kepentingan dan keuntungan pribadi adalah motor yang mendorong masyarakat bergerak dinamis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="Kekalahan_liberalisme" id="Kekalahan_liberalisme"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Neoliberalisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=2" title="Sunting bagian: Kekalahan liberalisme"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Kekalahan liberalisme&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;Sejak masa kehancuran &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wall_Street" title="Wall Street"&gt;Wall Street&lt;/a&gt; (dikenal dengan masa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Depresi_Hebat" class="mw-redirect" title="Depresi Hebat"&gt;Depresi Hebat&lt;/a&gt; atau &lt;i&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Great_Depression" class="extiw" title="en:Great_Depression"&gt;Great Depression&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;) hingga awal 1970-an, wacana negeri industri maju masih 'dikuasai' wacana politik &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sosial_demokrat&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Sosial demokrat (belum dibuat)"&gt;sosial demokrat&lt;/a&gt; dengan argumen kesejahteraan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kaum elit politik dan pengusaha memegang teguh pemahaman bahwa salah satu bagian penting dari tugas pemerintah adalah menjamin kesejahteraan warga negara dari bayi sampai meninggal dunia. Rakyat berhak mendapat tempat tinggal layak, mendapatkan pendidikan, mendapatkan pengobatan, dan berhak mendapatkan fasilitas-fasilitas sosial lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam sebuah konferensi moneter dan keuangan internasional yang diselenggarakan oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perserikatan_Bangsa_Bangsa" class="mw-redirect" title="Perserikatan Bangsa Bangsa"&gt;Perserikatan Bangsa Bangsa&lt;/a&gt; (PBB) di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bretton_Woods&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Bretton Woods (belum dibuat)"&gt;Bretton Woods&lt;/a&gt; pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1944" title="1944"&gt;1944&lt;/a&gt;, setelah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II" title="Perang Dunia II"&gt;Perang Dunia II&lt;/a&gt;. Konferensi yang dikenal sebagai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Konferensi_Bretton_Woods&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Konferensi Bretton Woods (belum dibuat)"&gt;konferensi Bretton Woods&lt;/a&gt; ini bertujuan mencari solusi untuk mencegah terulangnya depresi ekonomi di masa sesudah perang. Negara-negara anggota PBB lebih condong pada konsep &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Negara_kesejahteraan&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Negara kesejahteraan (belum dibuat)"&gt;negara kesejahteraan&lt;/a&gt; sebagaimana digagas oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/John_Maynard_Keynes" title="John Maynard Keynes"&gt;John Maynard Keynes&lt;/a&gt;. Dalam konsep negara kesejahteraan, peranan negara dalam bidang ekonomi tidak dibatasi hanya sebagai pembuat peraturan, tetapi diperluas sehingga meliputi pula kewenangan untuk melakukan intervensi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fiskal" title="Fiskal"&gt;fiskal&lt;/a&gt;, khususnya untuk menggerakkan sektor riil dan menciptakan lapangan kerja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada kondisi dan suasana seperti ini, tulisan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Friedrich_August_von_Hayek&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Friedrich August von Hayek (belum dibuat)"&gt;Hayek&lt;/a&gt; pada tahun 1944, &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Road_Of_Serdom&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="The Road Of Serdom (belum dibuat)"&gt;The Road Of Serdom&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, yg menolak pasal-pasal tentang kesejahteraan dinilai janggal. Tulisan Hayek ini menghubungkan antara pasal-pasal kesejahteraan dan kekalahan liberal, kekalahan kebebasan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Individualisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Individualisme (belum dibuat)"&gt;individualisme&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="Kebangkitan_Neoliberalisme" id="Kebangkitan_Neoliberalisme"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Neoliberalisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=3" title="Sunting bagian: Kebangkitan Neoliberalisme"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Kebangkitan Neoliberalisme&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;Perubahan kemudian terjadi seiring krisis minyak dunia tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1973" title="1973"&gt;1973&lt;/a&gt;, akibat reaksi terhadap dukungan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat" title="Amerika Serikat"&gt;Amerika Serikat&lt;/a&gt; terhadap &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Israel" title="Israel"&gt;Israel&lt;/a&gt; dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Yom_Kippur" title="Perang Yom Kippur"&gt;perang Yom Kippur&lt;/a&gt;, dimana mayoritas negara-negara penghasil minyak di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Timur_Tengah" title="Timur Tengah"&gt;Timur Tengah&lt;/a&gt; melakukan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Embargo" title="Embargo"&gt;embargo&lt;/a&gt; terhadap AS dan sekutu-sekutunya, serta melipatgandakan harga minyak dunia, yang kemudian membuat para elit politik di negara-negara sekutu Amerika Serikat berselisih paham sehubungan dengan angka pertumbuhan ekonomi, beban bisnis, dan beban biaya-biaya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sosial_demokrat&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Sosial demokrat (belum dibuat)"&gt;sosial demokrat&lt;/a&gt; (biaya-biaya fasilitas negara untuk rakyatnya). Pada situasi inilah ide-ide &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Libertarian&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Libertarian (belum dibuat)"&gt;libertarian&lt;/a&gt; sebagai wacana dominan, tidak hanya di tingkat nasional dalam negeri tapi juga di tingkat global di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/IMF" class="mw-redirect" title="IMF"&gt;IMF&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/World_Bank" class="mw-redirect" title="World Bank"&gt;World Bank&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1975" title="1975"&gt;1975&lt;/a&gt;, di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat" title="Amerika Serikat"&gt;Amerika Serikat&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Robert_Nozick&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Robert Nozick (belum dibuat)"&gt;Robert Nozick&lt;/a&gt; mengeluarkan tulisan berjudul "&lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Anarchy%2C_State%2C_and_Utopia&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Anarchy, State, and Utopia (belum dibuat)"&gt;Anarchy, State, and Utopia&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;", yang dengan cerdas menyatakan kembali posisi kaum &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Minimalis&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Minimalis (belum dibuat)"&gt;ultra minimalis&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Libertarian&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Libertarian (belum dibuat)"&gt;ultra libertarian&lt;/a&gt; sebagai retorika dari lembaga pengkajian universitas, yang kemudian disebut dengan istilah "&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Reaganomics&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Reaganomics (belum dibuat)"&gt;Reaganomics&lt;/a&gt;".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Inggris" title="Inggris"&gt;Inggris&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keith_Joseph&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Keith Joseph (belum dibuat)"&gt;Keith Joseph&lt;/a&gt; menjadi arsitek "&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Thatcherisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Thatcherisme (belum dibuat)"&gt;Thatcherisme&lt;/a&gt;". Reaganomics atau Reaganisme menyebarkan retorika kebebasan yang dikaitkan dengan pemikiran &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Locke" title="Locke"&gt;Locke&lt;/a&gt;, sedangkan Thatcherisme mengaitkan dengan pemikiran liberal klasik &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mill&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Mill (belum dibuat)"&gt;Mill&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adam_Smith" title="Adam Smith"&gt;Smith&lt;/a&gt;. Walaupun sedikit berbeda, tetapi kesimpulan akhirnya sama: Intervensi negara harus berkurang dan semakin banyak berkurang sehingga individu akan lebih bebas berusaha. Pemahaman inilah yang akhirnya disebut sebagai "&lt;b&gt;Neoliberalisme&lt;/b&gt;".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Paham ekonomi neoliberal ini yang kemudian dikembangkan oleh teori gagasan ekonomi neoliberal yang telah disempurnakan oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mazhab_Chicago&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Mazhab Chicago (belum dibuat)"&gt;Mazhab Chicago&lt;/a&gt; yang dipelopori oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Milton_Friedman" title="Milton Friedman"&gt;Milton Friedman&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="Neoliberalisme" id="Neoliberalisme"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Neoliberalisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=4" title="Sunting bagian: Neoliberalisme"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Neoliberalisme&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Neoliberalisme&lt;/b&gt; bertujuan mengembalikan kepercayaan pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas" title="Perdagangan bebas"&gt;kekuasaan pasar&lt;/a&gt;, dengan pembenaran mengacu pada kebebasan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seperti pada contoh kasus upah pekerja, dalam pemahaman neoliberalisme pemerintah tidak berhak ikut campur dalam penentuan gaji pekerja atau dalam masalah-masalah tenaga kerja sepenuhnya ini urusan antara si pengusaha pemilik modal dan si pekerja. Pendorong utama kembalinya kekuatan kekuasaan pasar adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Privatisasi" title="Privatisasi"&gt;privatisasi&lt;/a&gt; aktivitas-aktivitas ekonomi, terlebih pada usaha-usaha industri yang dimiliki-dikelola pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tapi privatisasi ini tidak terjadi pada negara-negara kapitalis besar, justru terjadi pada negara-negara &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Selatan" title="Amerika Selatan"&gt;Amerika Selatan&lt;/a&gt; dan negara-negara miskin berkembang lainnya. Privatisasi ini telah mengalahkan proses panjang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisasi" title="Nasionalisasi"&gt;nasionalisasi&lt;/a&gt; yang menjadi kunci negara berbasis kesejahteraan. Nasionalisasi yang menghambat aktivitas pengusaha harus dihapuskan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Revolusi neoliberalisme ini bermakna bergantinya sebuah manajemen ekonomi yang berbasiskan persediaan menjadi berbasis permintaan. Sehingga menurut kaum Neoliberal, sebuah perekonomian dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi" title="Inflasi"&gt;inflasi&lt;/a&gt; rendah dan pengangguran tinggi, tetap lebih baik dibanding inflasi tinggi dengan pengangguran rendah. Tugas pemerintah hanya menciptakan lingkungan sehingga modal dapat bergerak bebas dengan baik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam titik ini pemerintah menjalankan kebijakan-kebijakan memotong pengeluaran, memotong biaya-biaya publik seperti subsidi, sehingga fasilitas-fasilitas untuk kesejahteraan publik harus dikurangi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhirnya logika pasarlah yang berjaya diatas kehidupan publik. Ini menjadi pondasi dasar neoliberalism, menundukan kehidupan publik ke dalam logika pasar. Semua pelayanan publik yang diselenggarakan negara harusnya menggunakan prinsip untung-rugi bagi penyelenggara bisnis publik tersebut, dalam hal ini untung rugi ekonomi bagi pemerintah. Pelayanan publik semata, seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Subsidi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Subsidi (belum dibuat)"&gt;subsidi&lt;/a&gt; dianggap akan menjadi pemborosan dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Inefisiensi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Inefisiensi (belum dibuat)"&gt;inefisiensi&lt;/a&gt;. Neoliberalisme tidak mengistimewakan kualitas kesejahteraan umum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak ada wilayah kehidupan yang tidak bisa dijadikan komoditi barang jualan. Semangat neoliberalisme adalah melihat seluruh kehidupan sebagai sumber &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Laba" title="Laba"&gt;laba&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Korporasi" class="mw-redirect" title="Korporasi"&gt;korporasi&lt;/a&gt;. Misalnya dengan sektor sumber daya air, program liberalisasi sektor sumber daya air yang implementasinya dikaitkan oleh Bank Dunia dengan skema &lt;i&gt;watsal&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;water resources sector adjustment loan&lt;/i&gt;. Air dinilai sebagai barang ekonomis yang pengelolaannya pun harus dilakukan sebagaimana layaknya mengelola barang ekonomis. Dimensi sosial dalam sumberdaya &lt;i&gt;public goods&lt;/i&gt; direduksi hanya sebatas sebagai komoditas ekonomi semata. Hak penguasaan atau konsesi atas sumber daya air ini dapat dipindah tangankan dari pemilik satu ke pemilik lainnya, dari satu korporasi ke korporasi lainnya, melalui mekanisme transaksi jual beli. Selanjutnya sistem pengaturan beserta hak pengaturan penguasaan sumber air ini lambat laun akan dialihkan ke suatu badan berbentuk &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Korporasi" class="mw-redirect" title="Korporasi"&gt;korporasi&lt;/a&gt; bisnis atau konsursium korporasi bisnis yang dimiliki oleh pemerintah atau perusahaan swasta nasional atau perusahaan swasta atau bahkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perusahaan_multinasional" title="Perusahaan multinasional"&gt;perusahaan multinasional&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perusahaan_transnasional&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Perusahaan transnasional (belum dibuat)"&gt;perusahaan transnasional&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Satu kelebihan neoliberalisme adalah menawarkan pemikiran politik yang sederhana, menawarkan penyederhanaan politik sehingga pada titik tertentu politik tidak lagi mempunyai makna selain apa yang ditentukan oleh pasar dan pengusaha. Dalam pemikiran neoliberalisme, politik adalah keputusan-keputusan yang menawarkan nilai-nilai, sedangkan secara bersamaan neoliberalisme menganggap hanya satu cara rasional untuk mengukur nilai, yaitu pasar. Semua pemikiran diluar rel pasar dianggap salah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme" title="Kapitalisme"&gt;Kapitalisme&lt;/a&gt; neoliberal menganggap wilayah politik adalah tempat dimana pasar berkuasa, ditambah dengan konsep &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi" title="Globalisasi"&gt;globalisasi&lt;/a&gt; dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas" title="Perdagangan bebas"&gt;perdagangan bebas&lt;/a&gt; sebagai cara untuk perluasan pasar melalui &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/WTO" title="WTO"&gt;WTO&lt;/a&gt;, akhirnya kerap dianggap sebagai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Neoimperialisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Neoimperialisme (belum dibuat)"&gt;Neoimperialisme&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="Penyebaran_Neoliberalisme" id="Penyebaran_Neoliberalisme"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Neoliberalisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=5" title="Sunting bagian: Penyebaran Neoliberalisme"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Penyebaran Neoliberalisme&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;Penerapan agenda-agenda ekonomi neoliberal secara mencolok dimotori oleh Inggris melalui pelaksanaan privatisasi seluruh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Usaha_Milik_Negara" title="Badan Usaha Milik Negara"&gt;Badan Usaha Milik Negara&lt;/a&gt; (BUMN) mereka. Penyebarluasan agenda-agenda ekonomi neoliberal ke seluruh penjuru dunia, menemukan momentum setelah dialaminya krisis moneter oleh beberapa Negara Amerika Latin pada penghujung 1980-an. Sebagaimana dikemukakan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stiglitz" class="mw-redirect" title="Stiglitz"&gt;Stiglitz&lt;/a&gt;, dalam rangka menanggulangi krisis moneter yang dialami oleh beberapa negara Amerika Latin, bekerja sama dengan Departemen keuangan AS dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bank_Dunia" title="Bank Dunia"&gt;Bank Dunia&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/IMF" class="mw-redirect" title="IMF"&gt;IMF&lt;/a&gt; sepakat meluncurkan sebuah paket kebijakan ekonomi yang dikenal sebagai paket kebijakan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Konsensus_Washington&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Konsensus Washington (belum dibuat)"&gt;Konsensus Washington&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Agenda pokok paket kebijakan Konsensus Washington yang menjadi menu dasar program penyesuaian struktural IMF tersebut dalam garis besarnya meliputi : (1) pelaksanan kebijakan anggaran ketat, termasuk penghapusan subsidi negara dalam berbagai bentuknya, (2) pelaksanaan liberalisasi sektor keuangan, (3) pelaksanaan liberalisasi sektor perdagangan, dan (4) pelaksanaan privatisasi BUMN.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="di_Indonesia" id="di_Indonesia"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Neoliberalisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=6" title="Sunting bagian: di Indonesia"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Di Indonesia, walaupun sebenarnya pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neoliberal telah dimulai sejak pertengahan 1980-an, antara lain melalui paket kebijakan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Deregulasi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Deregulasi (belum dibuat)"&gt;deregulasi&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Debirokratisasi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Debirokratisasi (belum dibuat)"&gt;debirokratisasi&lt;/a&gt;, pelaksanaannya secara massif menemukan momentumnya setelah Indonesia dilanda krisis moneter pada pertengahan 1997.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menyusul kemerosotan nilai rupiah, Pemerintah Indonesia kemudian secara resmi mengundang IMF untuk memulihkan perekonomian Indonesia. Sebagai syarat untuk mencairkan dana talangan yang disediakan IMF, pemerintah Indonesia wajib melaksanakan paket kebijakan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Konsensus_Washington&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Konsensus Washington (belum dibuat)"&gt;Konsensus Washington&lt;/a&gt; melalui penanda-tanganan Letter Of Intent (LOI), yang salah satu butir kesepakatannya adalah penghapusan subsidi untuk &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahan_bakar_minyak" class="mw-redirect" title="Bahan bakar minyak"&gt;bahan bakar minyak&lt;/a&gt;, yang sekaligus memberi peluang masuknya perusahaan multinasional seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Shell" title="Shell"&gt;Shell&lt;/a&gt;. Begitu juga dengan kebijakan privatisasi beberapa BUMN, diantaranya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indosat" title="Indosat"&gt;Indosat&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Telkom" title="Telkom"&gt;Telkom&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/BNI" class="mw-redirect" title="BNI"&gt;BNI&lt;/a&gt;, PT. Tambang Timah dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Aneka_Tambang&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Aneka Tambang (belum dibuat)"&gt;Aneka Tambang&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="di_Amerika_Serikat" id="di_Amerika_Serikat"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Neoliberalisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=7" title="Sunting bagian: di Amerika Serikat"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;di Amerika Serikat&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Dalam penggunaan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat" title="Amerika Serikat"&gt;Amerika Serikat&lt;/a&gt;, istilah neoliberalisme dihubungkan dengan dukungan untuk &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas" title="Perdagangan bebas"&gt;perdagangan bebas&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Welfare_reform&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Welfare reform (belum dibuat)"&gt;welfare reform&lt;/a&gt;, tapi tidak dengan tentangan terhadap &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keynesianism&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Keynesianism (belum dibuat)"&gt;Keynesianism&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Environmentalism" class="mw-redirect" title="Environmentalism"&gt;environmentalism&lt;/a&gt;. Dalam konteks AS, misalnya, ekonom &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Brad_DeLong&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Brad DeLong (belum dibuat)"&gt;Brad DeLong&lt;/a&gt; adalah seorang neoliberal, walaupun ia mendukung Keynesi, income redistribution, dan pengritik pemerintahan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/George_W._Bush" title="George W. Bush"&gt;George W. Bush&lt;/a&gt;. Dalam penggunaan AS, neoliberalisme ("liberalisme baru") biasanya dihubungkan dengan the &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Third_Way&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Third Way (belum dibuat)"&gt;Third Way&lt;/a&gt;, atau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sosial-demokrasi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Sosial-demokrasi (belum dibuat)"&gt;sosial-demokrasi&lt;/a&gt; di bawah gerakan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=New_Public_Management&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="New Public Management (belum dibuat)"&gt;New Public Management&lt;/a&gt;. Pendukung versi AS menganggap bahwa posisi mereka adalah pragmatis, berfokus pada apa yang dapat berhasil dan melebihi debat antara kiri dan kanan, walaupun liberalisme baru mirip dengan kebijakan ekonomi center-of-left (seperti halnya di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kanada" title="Kanada"&gt;Kanada&lt;/a&gt; di abad ke-20).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua penggunaan ini dapat menimbulkan kebingungan. The overlapping of these usages can create considerable confusion. Dalam penggunaan internasional, presiden &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ronald_Reagan" title="Ronald Reagan"&gt;Ronald Reagan&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/United_States_Republican_Party" class="mw-redirect" title="United States Republican Party"&gt;United States Republican Party&lt;/a&gt; dipandang sebagai pendukung neoliberalisme. Tapi Reagan tidak pernah digambarkan demikian dalam diskusi politik di AS, di mana istilah ini biasanya diterapkan pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/United_States_Democratic_Party" class="mw-redirect" title="United States Democratic Party"&gt;Democrats&lt;/a&gt; seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Democratic_Leadership_Council&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Democratic Leadership Council (belum dibuat)"&gt;Democratic Leadership Council&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a name="Kritik" id="Kritik"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Neoliberalisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=8" title="Sunting bagian: Kritik"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Kritik&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;Kritik terhadap neoliberalisme terutama sekali berkaitan dengan negara-negara berkembang yang aset-asetnya telah dimiliki oleh pihak asing. Negara-negara berkembang yang institusi ekonomi dan politiknya belum terbangun tetapi telah dikuras sebagai akibat tidak terlindungi dari arus deras perdagangan dan modal. Bahkan dalam gerakan neoliberal sendiri terdapat kritik terhadap banyaknya negara maju telah menuntut negara lain untuk meliberalisasi pasar mereka bagi barang-barang hasil industri mereka, sementara mereka sendiri melakukan proteksi terhadap pasar pertanian domestik mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendukung &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Antiglobalisasi" title="Antiglobalisasi"&gt;antiglobalisasi&lt;/a&gt; adalah pihak yang paling lantang menentang neoliberalisme, terutama sekali dalam implementasi "pembebasan arus modal" tetapi tidak ada pembebasan arus tenaga kerja. Salah satu pendapat mereka, kebijakan neoliberal hanya mendorong sebuah "perlombaan menuju dasar" dalam arus modal menuju titik terendah untuk standar lingkungan dan buruh.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-3094740071611652126?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/3094740071611652126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=3094740071611652126' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/3094740071611652126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/3094740071611652126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/05/neoliberalisme.html' title='NEOLIBERALISME'/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-8824266079916866987</id><published>2008-05-13T20:27:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T20:28:49.272-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h1 style="text-align: justify;" class="firstHeading"&gt;Antikapitalisme&lt;/h1&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;" id="siteSub"&gt;Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="contentSub"&gt;(Dialihkan dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Anti_Kapitalisme&amp;amp;redirect=no" title="Anti Kapitalisme"&gt;Anti Kapitalisme&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;          &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="jump-to-nav"&gt;Langsung ke: &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Anti_Kapitalisme#column-one"&gt;navigasi&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Anti_Kapitalisme#searchInput"&gt;cari&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;!-- start content --&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Antikapitalisme&lt;/b&gt; adalah segala perlawan terhadap &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme" title="Kapitalisme"&gt;kapitalisme&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dingin" title="Perang Dingin"&gt;Perang Dingin&lt;/a&gt;, dunia hanya diberi dua pilihan: &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme" title="Kapitalisme"&gt;kapitalisme&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komunisme" title="Komunisme"&gt;komunisme&lt;/a&gt;, seolah-olah tidak ada wilayah di luar komunisme untuk gerakan antikapitalisme. Perlawanan antikapitalisme mulai "keluar" seiring runtuhnya komunisme dan berakhirnya Perang Dingin, tanpa lagi khawatir gerakan antikapitalisme dituduh dan disamakan dengan komunisme.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Peristiwa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Seattle" title="Seattle"&gt;Seattle&lt;/a&gt; 1999 menjadi awal ketika dunia membuka mata terhadap adanya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gerakan_sosial_baru&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Gerakan sosial baru (belum dibuat)"&gt;gerakan sosial baru&lt;/a&gt; menolak &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme" title="Kapitalisme"&gt;kapitalisme&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-8824266079916866987?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/8824266079916866987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=8824266079916866987' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/8824266079916866987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/8824266079916866987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/05/antikapitalisme-dari-wikipedia.html' title=''/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4437897141438351694.post-2600223901536728795</id><published>2008-05-13T20:18:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T20:27:12.292-07:00</updated><title type='text'>KAPITALISME</title><content type='html'>&lt;h1 class="firstHeading"&gt;Kapitalisme&lt;/h1&gt;       &lt;h3 id="siteSub"&gt;Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.&lt;/h3&gt;              &lt;div id="jump-to-nav"&gt;Langsung ke: &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme#column-one"&gt;navigasi&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme#searchInput"&gt;cari&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;   &lt;!-- start content --&gt;    &lt;table style="border: 1px solid rgb(170, 170, 170); margin: 0pt auto 1em; padding: 0.2em; background: rgb(242, 206, 224) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 80%; text-align: justify;" align="center"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td width="1%"&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Broom_icon.svg" class="image" title="Broom icon.svg"&gt;&lt;img alt="" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/2c/Broom_icon.svg/40px-Broom_icon.svg.png" width="40" border="0" height="40" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td align="center"&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Artikel ini perlu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Merapikan_artikel" title="Wikipedia:Merapikan artikel"&gt;dirapikan&lt;/a&gt; agar memenuhi standar Wikipedia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 90%; line-height: 140%;"&gt;Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Wikifisasi" title="Wikipedia:Wikifisasi"&gt;wikifisasi artikel&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kapitalisme&lt;/b&gt; tidak memiliki suatu definisi universal yang bisa diterima secara luas, namun secara umum merujuk pada satu atau beberapa hal berikut:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;sebuah sistem yang mulai terinstitusi di Eropa pada masa abad ke-16 hingga abad ke-19 - yaitu di masa perkembangan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perbankan" class="mw-redirect" title="Perbankan"&gt;perbankan&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komersial" title="Komersial"&gt;komersial&lt;/a&gt; Eropa, di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Modal" title="Modal"&gt;modal&lt;/a&gt; seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah" title="Tanah"&gt;tanah&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tenaga_manusia&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Tenaga manusia (belum dibuat)"&gt;tenaga manusia&lt;/a&gt;, pada sebuah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar_bebas" title="Pasar bebas"&gt;pasar bebas&lt;/a&gt; di mana &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Harga" title="Harga"&gt;harga&lt;/a&gt; ditentukan oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Permintaan&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Permintaan (belum dibuat)"&gt;permintaan&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penawaran" title="Penawaran"&gt;penawaran&lt;/a&gt;, demi menghasilkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keuntungan" class="mw-redirect" title="Keuntungan"&gt;keuntungan&lt;/a&gt; di mana statusnya dilindungi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Negara" title="Negara"&gt;negara&lt;/a&gt; melalui &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hak_pemilikan&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Hak pemilikan (belum dibuat)"&gt;hak pemilikan&lt;/a&gt; serta tunduk kepada hukum negara atau kepada pihak yang sudah terikat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kontrak" title="Kontrak"&gt;kontrak&lt;/a&gt; yang telah disusun secara jelas kewajibannya baik eksplisit maupun implisit serta tidak semata-mata tergantung pada kewajiban dan perlindungan yang diberikan oleh kepenguasaan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Feodal" class="mw-redirect" title="Feodal"&gt;feodal&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;teori yang saling bersaing yang berkembang pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_ke-19" title="Abad ke-19"&gt;abad ke-19&lt;/a&gt; dalam konteks &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Industri" title="Revolusi Industri"&gt;Revolusi Industri&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_ke-20" title="Abad ke-20"&gt;abad ke-20&lt;/a&gt; dalam konteks &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dingin" title="Perang Dingin"&gt;Perang Dingin&lt;/a&gt;, yang berkeinginan untuk membenarkan kepemilikan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Modal" title="Modal"&gt;modal&lt;/a&gt;, untuk menjelaskan pengoperasian pasar semacam itu, dan untuk membimbing penggunaan atau penghapusan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Peraturan&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Peraturan (belum dibuat)"&gt;peraturan&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemerintah" title="Pemerintah"&gt;pemerintah&lt;/a&gt; mengenai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hak_milik&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Hak milik (belum dibuat)"&gt;hak milik&lt;/a&gt; dan pasaran.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;suatu keyakinan mengenai keuntungan dari menjalankan hal-hal semacam itu.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Lain dari Kapitalisme&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi yang mengatur proses produksi dan pendistribusian barang dan jasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;ciri-ciri Kapitalisme:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1.Sebagian besar sarana produksi dan distribusi dimiliki oleh individu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2.Barang dan jasa diperdagangkan di pasar bebas (free market) yang bersifat kompetitif.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3.modal kapitali (baik uang maupun kekayaan lain) diinvestasikan ke dalam berbagai usaha untuk menghasilkan laba (profit).&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4437897141438351694-2600223901536728795?l=budhykapitalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/feeds/2600223901536728795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4437897141438351694&amp;postID=2600223901536728795' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/2600223901536728795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4437897141438351694/posts/default/2600223901536728795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budhykapitalis.blogspot.com/2008/05/kapitalisme.html' title='KAPITALISME'/><author><name>pribadi budhy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03583770431444364284</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
